Rajin Meramu Akar Kayu, Ibu Ini Punya Omzet Rp 60 Juta/Bulan

Rajin Meramu Akar Kayu, Ibu Ini Punya Omzet Rp 60 Juta/Bulan

- detikFinance
Minggu, 17 Mei 2015 14:11 WIB
Rajin Meramu Akar Kayu, Ibu Ini Punya Omzet Rp 60 Juta/Bulan
Jakarta - Siapa yang tidak mau berjualan dengan modal kecil tapi bisa untung besar. Seorang ibu warga Palangkarya ini berhasil menerapkan sistem dagang tersebut.

Heni Wijiastuti (49 tahun) memulai usaha obat tradisional sejak 9 tahun lalu. Ibu tujuh anak ini mulai mencari nafkah setelah suaminya berhenti bekerja pasca kecelakaan.

Usahanya adalah meramu obat tradisional dari akar kayu. Perusahaannya diberi nama Berkat Uhat Kayu sesuai dengan nama bahan ramuannya.

"Sesuai nama usahanya, uhat berarti akar. Berkat akar kayu, saya bisa melanjutkan hidup. Usaha ini saya jalankan sejak 9 tahun lalu, pasca kecelakaan yang dialami suami hingga harus berhenti bekerja," katanya kepada detikFinance, ditemui di pameran Agricultural Products and Technology Expo 2015 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Minggu (17/5/2015).

Ia mengaku belajar secara otodidak dalam meramu obat tradisional. Sampai saat ini sudah ada 25 ramuan tradisionla yang ia bikin. Bahan-bahannya pun murah diddapat karena tinggal dicari di hutan dekat tempat tinggalnya di Palangkaraya.

"Semuanya gratis, ada di alam," ujarnya.

Namun sayang, setelah banyak hutan Kalimantan disulap jadi lahan sawit, Heni mengaku sedikit kesulitan mendapatkan bahan baku.

"Seiring hutan kalimantan alih fungsi jadi hutan sawit, bahan baku mulai sulit didapat dan kini budidaya sendiri beberapa tanamannya," jelasnya.

Ia mengatakan, ramuan bikinannya ini bisa mengurangi nyeri sakit pinggang sampai diabetes. Heni pun dibantu oleh 4 karyawan dalam memproduksi ramuannya.

Tiap bulan ia memproduksi sekitar 2.000 bungkus ramuan yang dikirimnya ke beberapa cabang, seperti Bandung, Pangkalan Bun, Batam, dan Bali. Setiap ramuan dijual mulai dari Rp 22.000 sampai Rp 75.000 per bungkus tergantung jenis penyakitnya.

"Omzetnya, saya tidak mau sebutkan, cukup untuk menghidupi 7 anak. Sekolah semua, dua kuliah," jelasnya.

Namun jika dihitung secara kasar, dari hasil produksi dan harga jual maka omzetnya per bulan bisa lebih dari Rp 60 juta. Heni mengatakan produk buatannya ini sudah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan RI.

(Angga Aliya/Angga Aliya)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads