Risma Galakkan Industri Kreatif Surabaya Sejak 2010

d'Preneur Spesial Surabaya

Risma Galakkan Industri Kreatif Surabaya Sejak 2010

Zainal Effendi - detikFinance
Rabu, 03 Jun 2015 08:15 WIB
Risma Galakkan Industri Kreatif Surabaya Sejak 2010
Surabaya - Sejak menjabat Oktober 2010 Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini langsung menggerakkan industri kreatif dengan menggandeng ibu-ibu PKK, maupun warga eks lokalisasi.

"Semua kita gerakkan bareng, tidak hanya satu sisi tapi semua termasuk dinas-dinas terkait," kata Risma, saat berbincang dengan detikFinance di ruang kerjanya, Balai Kota Surabaya, Rabu (27/5/2015).

Selain ibu-ibu PKK, Risma sapaan akrab Tri Rismaharini, mengaku juga menggerakkan kaum muda untuk terjun di industri kreatif. Menurutnya, kaum muda baru digerakkan akhir 2014.

Meski baru digalakan kaum muda serta ibu-ibu, mantan Kepala DKP dan Bappeko Surabaya ini sudah mulai menunjukkan perkembangan yang positif. "Sekarang dalam tahap finalisasi, bagaimana menjual produk mereka, meski beberapa sudah ada yang berhasil mengelola sendiri mulai produksi, penjualan, dan finansialnya," ungkap dia.

Untuk produk yang sangat potensial digarap industri kreatif di Surabaya, kata dia, adalah kebutuhan sehari-hari seperti busana muslim, hijab, serta berbagai kerajinan tangan lain.

"Kalau potensi, aku selalu ngomong kebutuhan sehari-hari kita harus bisa tindak lanjuti, jangan sampai kita pikiran ekspor, lalu kebutuhan sehari hari diambil orang-orang," tegas Risma.

Risma bakal menjadi salah satu pembicara utama dalam acara d'Preneur Spesial yang digelar detik.com di Dyandra Convention Center, Surabaya, pada 14 Juni 2015. Selain Risma, pengusaha Chairul Tanjung juga menjadi pembicara utama gelaran d'Preneur.

Acara d'Preneur merupakan ajang rutin yang dilakukan detik.com. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan jiwa wirausaha dan belajar langsung dari pengusaha sukses. Sehingga masyarakat bisa mengerti dan belajar soal pentingnya menjadi wirausaha.

Wali Kota perempuan pertama dalam sejarah pemerintahan Surabaya ini enggan memprioritaskan satu produk dan fokus. Karena, kata Risma, industri kreatif sangat luas dan harus bisa dikuasai sehingga bisa menjadi tuan rumah di kota sendiri.

"Semua harus digerakkan, karena peluang ini jangan sampai diambil orang lain, industri kreatif bidang apa pun," lanjut dia.

Sedangkan sumber daya manusia di industri kreatif, Risma tidak terlalu merisaukan, karena saat ini seluruh proses sudah berjalan dan relatif didominasi ibu-ibu. Ia mencontohkan, awal pertama kali industri kreatif digalakkan para pelaku jika mengikuti pameran selalu sewa angkutan umum untuk membawa produknya.

"Sekarang mereka sudah bawa mobil sendiri, artinya semua sudah berjalan dan mereka bisa. Wong sekarang jual semanggi ae gak nyunggi mane, tapi wes nggawe mobil (sekarang orang jual pecel semanggi sudah tidak lagi memanggul, tapi sudah bawa mobil)," ungkap dia.

Yang menjadi kendala saat ini adalah, melatih kaum muda yang masih menjunjung tinggi idealisme dalam berkarya.

"Mereka harus realistis dengan pasar. Dan coba kita ajarkan. Mereka banyak bergerak di bidang IT dan multimedia seperti pembuatan film pendek, software aplikasi sehari hari. Ada juga yang buat kaos dan sepatu dan sudah mulai jalan," pungkas Risma.

(ze/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads