Pria Ini Raup Omzet Rp 35 Juta Sebulan dari Kompor Bioetanol

Pria Ini Raup Omzet Rp 35 Juta Sebulan dari Kompor Bioetanol

Muhammad Idris - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2015 11:08 WIB
Pria Ini Raup Omzet Rp 35 Juta Sebulan dari Kompor Bioetanol
Jakarta - Berawal dari idenya menciptakan sebuah kompor murah saat masih duduk di bangku kuliah, Handoko Wahono kini sukses meraup puluhan juta rupiah dari menjual barang temuanya tersebut.

Kompor Gastrik atau gas listrik, begitu nama kompor hemat yang diciptakan pria kelahiran Malang 37 tahun yang lalu.

Handoko mengatakan, pengembangan yang didanainya sendiri sejak masih mahasiswa tersebut berhasil menciptakan kompor Gastrik serta sebuah mesin pembuat biofuel yang berasal dari rumput gajah.

"Ide awalnya Gastrik ini muncul saat masih kuliah di semester 8, bukan tugas kuliah tapi penelitian mandiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Tekhnik Mandala Bandung," kata Handoko pada detikFinance ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (3/6/2015).

Awalnya Handoko mengaku belum terbesit untuk memproduksinya secara massal. Namun kemudian ia menemukan lembaga non-profit dari Yayasan Inotek yang tertarik dengan kompor Gastrik saat ia ikut Pameran Inovasi Kementrian Perindustrian.

"Kemudian saya dibina menjadi home industri, dan bagaimana menciptakan kompor sekaligus menjadi usaha yang menguntungkan selama masa inkubasi," jelasnya.

Pada 2010 Ia ikut program yang diadakan Inotek dan mendapat hibah pengembangan bisnis sebesar Rp 63 juta. Ia pun mulai menjual produk kompor Gastrik pada awal 2014 awal ketika sudah bisa memproduksi sendiri.

Handoko menjelaskan, meski bernama Gastrik, api kompor tersebut bukan berasal dari listrik. Penggunaan listrik baterai hanya untuk indikator, dan pengaturan api.

"Kalau bahan bakar dari Bioetanol yang berasal dari molases rumput gajah yang dioleh jadi bioetanol. Dari penelitian saya, bahan bakar bioetanol yang saya ciptakan komposisinya 80% bioetanol, sisanya 20% air," ungkapnya.

Soal efisiensi, Handoko menyatakan kompor Gastrik buatannya tak jauh berbeda dibandingkan dengan gas elpiji 3 kilogram dari sisi harga.

"Untuk harga bioetanol sendiri kita jual Rp 7.500 per botol isi 850 mililiter yang bisa dipakai memasak 3-4 jam. Jadi kalau dengan Rp 7.500 sudah bisa memasak, ini bisa membantu masyarakat miskin ketika susah dapat elpiji 3 kilogram dan jadi pilihan lain. Apalagi ada kemungkinan harga elpiji terus naik," kata Handoko.

Sementara untuk harga kompor, Handoko menjualnya seharga Rp 220.000 untuk Gastik satu tungku, dan Rp 440.000 dengan dua tungku.

Dibantu dua orang karyawannya, dalam sehari pabriknya yang berlokasi di Gedebage, Bandung bisa memproduksi 10 kompor satu tungku.

Bahan baku Bioetalnol, sambungnya, dikirim rutin dari Kendal oleh industri UKM Bioetanol yang pernah dibantunya dalam merancang mesin penyulingan Bioetanol berbahan Rumput Gajah.

"Bioetanol juga dipasok dari petani di Sumedang yang saya kasih alat penyulinganya secara cuma-cuma," ucap Handoko.

"Tapi karena kebutuhan bioetanol semakin besar karena sekarang sudah banyak rumah tangga di Bandung yang pakai Gastrik dan bioetanol sebagai bahan bakarnya, maka saya lagi cari investor untuk membuat sendiri bioetanol di Bandung," ujar Handoko.

Dari sisi omzet penjualan, Handoko mengaku bisa meraup hingga Rp 10 juta per bulan. "Tapi kalau dari Bioetanol bisa Rp 20-25 juta per bulannya," katanya.

Ia memasarkan produknya kepada rumah tangga di sekitar Kabupaten Bandung. Ia pun memanfaatkan perkumpulan warga di RT/RW atau PKK setempat.

"Di depan ibu-ibu kita demokan kompor inovasi saya, untuk strategi pemasaran bahkan kita pinjamkan kompor Gastrik pada mereka secara gratis, mereka hanya perlu membeli bioetanol yang yang sudah disebar di warung-warung sekitar," tukas Handoko.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads