Pengusaha nasional sekaligus Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia menyayangkan hal ini. Pasalnya tidak ada bantuan yang diberikan dari pihak lingkungan sekitar.
"Memang jumlah pengusaha di Indonesia kurang, dan orang sekitarnya memang tidak berikan nuansa positif," katanya dalam acara d'Preuner di Dyandra Convention Center, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Minggu (14/6/2015).
Ia memberi contoh, bila ingin meminjam uang ke bank maka diminta memberikan neraca usaha dalam tiga bulan terakhir.
"Boro-boro punya neraca, kita usaha saja baru mau mulai," ujarnya.
Hal berbeda terjadi di India. Bahlil mengatakan, seorang lulusan diploma 3 bisa mendapatkan kredit hingga sebesar Rp 100 juta, sedangkan lulusan sarjana bisa meminjam uang sampai Rp 120 juta, dengan menggadaikan ijazah di bank, sedangkan di Indonesia justru tak bisa. Di India ijazah lulusan S-1 bisa menjadi jaminan pinjaman di bank.
"Kalau di Indonesia mana bisa, tidak bisa dapat uang di bank jadi ijazah harus digadaikan untuk dapat uang," jelasnya.
(ang/hen)










































