"Sayang datang jauh dari San Francisco, Amerika Serikat transit ke Singapura lalu langsung ke Surabaya hanya ingin bertemu dengan anak-anak muda di sini. Saya ingin dan minta semua anak muda di Indonesia untuk jadi pejuang," tegas pria yang akrab di sapa CT, di acara d'Preneur, di Dyandra Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (14/6/2015).
CT mengatakan, pejuang ini berbeda dengan perjuangan kemerdekaan atau masa penjajahan yang saat itu semua pemuda serentak mengacungkan bambu runcing. Namun pejuang sekarang ini adalah bagaimana pemuda bisa berjuang meningkatkan ekonomi kehidupannya jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Salah satu cara berjuangnya adalah menjadi pengusaha," tegas CT.
Mantan Menko Perekonomian ini mengakui, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat kurang, bahkan jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, bahkan Vietnam sekali pun. Salah satu penyebabnya karena tradisi atau budaya zaman dahulu.
"Contoh ungkapan tongkat, kayu jadi tanaman, kita negara kaya emas, tambang, timah, lahan kita subur. Ada pula ungkapan makan nggak makan asal kumpul, atau hujan emas di negeri orang lebih baik hujan batu di negeri sendiri," ungkap CT.
"Budaya ini, membuat kita tidak menjadi seorang pejuang, kita tidak mau merantau, jiwa entrepreneur tidak tumbuh," tambahnya.
Ia kemudian berbicara, saat ia kuliah di Universitas Indonesia (UI) dari puluhan ribuan mahasiswa, hanya dia yang jadi pengusaha.
"Namun saat ini, Alhamdulillah, sudah banyak kampus-kampus, kebetulan saya Guru Besar di Universitas Airlangga Surabaya banyak yang jadi pengusaha. Di ITS, di Unair dan kampus-kampus lain memilih menjadi pengusaha ada asosiasi pengusaha di kampus. Saya ingin virus jadi pengusaha ini menyebar sebanyak mungkin, sehingga mudah-mudahan saya sehat dan berumur pajang. 30 tahun lagi ribuan pemuda yang hadir di sini datang ke saya, bilang pak Saya bisa menjadi pengusaha besar yang mengalahkan bapak, saya tantang Anda semua," tutup CT.
(rrd/wij)











































