Pengusaha muda pendiri layanan transportasi Go-Jek, Nadiem Makariem berbagi cerita bagaimana dia memulai bisnisnya. Salah satu latar belakangnya adalah pengalaman tak mengenakan yang dialami dirinya.
βNadiem menyebut, banyak orang yang punya ide untuk memberikan layanan transportasi ojek seperti Go-Jek pada saat ini. Namun bedanya, ide tinggalah ide. Nadiem dan rekan-rekannya menyalurkan ide tersebut ke dalam sebuah eksekusi hingga sukses sampai sekarang.
"Bukan saya yang pertama memikirkan ide itu. Banyak sekali. Perbedaannya adalah saya dan tim saya, berani mengambil resiko, investasi, saya percaya ke depannya banyak orang butuh. Jadi bukan ide perbedaannya, tapi lebih dari eksekusinya," kata Nadiem dalam Acara d'Preneur dbersama CEO Go-Jek dan Brodo di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (26/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
β"Awalnya saya butuh. Saya butuh go-jek, jadi saya bikin. Ke mana-mana ojek, nggak reliable. Banyak ojek yang nembak harga. Muka kayak arab gini, di atas Rp 50 ribu. Fifty-fifty dari mana. Saya mulai kesal ditemba harga," tuturnya.
"Akkhirnya saya kenalan, saya belikan kopi, rokok. Saya tahu kenapa mereka nembak, karena tak ada kepastia penghasilan. Jadi saya simpati," imbuhnya.
(zul/rrd)











































