CEO Brodo Yukka Harlanda mengatakan, ada dua pilihan ketika perusahaan dihadapkan pada masalah seperti itu. Pertama membeli bahan yang lebih murah supaya bisa menekan biaya produksi dan mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi.
"Kedua, kita pertahankan kualitas dan integritas kita sebagai brand," ujarnya dalam acara d'Preneur di Menara Bank Mega, Jalan Kapten Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita pilih naikkan harga 10-20% saja. Kita pilih kualitas," jelasnya.
Ia juga tidak setuju dengan anggapan masyarakat bahwa produk di mal punya kualitas lebih baik daripada toko di pinggir jalan milik orang Indonesia asli.
Menurutnya, biaya produksi barang di mal jauh lebih rendah dari harga jualnya. Misalnya, biaya produksinya Rp 200.000 maka bisa dijual hingga tiga sampai delapan kali lipat di mal.
"Kalau kita langsung ke customer. Kalau di mal kan true value sebuah produk itu cuma berapa, tapi harga jualnya tinggi. Kalau kita langsung, jadi kualitas terjaga," ujarnya.
(ang/hen)











































