Bank Mandiri di hadapan 500-an santri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang terletak di Trangkil, Pati, mencoba mengajak para santri untuk berwirausaha. Iming-iming jadi pengusaha yaitu bisa punya penghasilan setiap hari dan menciptakan lapangan kerja. Jumlah wirausaha di Indonesia pun masih jauh dari ideal.
"Bank Mandiri mempunyai cita-cita mulia yaitu spirit membangun negeri," ungkap Tardi, Direktur Micro and Banking Business Bank Mandiri dalam Wirausaha Muda Mandiri (WMM) Goes To Pesantren 'Spirit Memakmurkan Negeri' di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum di Pati, Kamis (26/11/2015).
Menurut Tardi, Indonesia butuh wirausaha 2% dari jumlah penduduknya sementara saat ini baru mencapai 0,2%. Perbankan, lanjutnya, juga butuh pengusaha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tardi menyampaikan, Bank Mandiri menyelenggarakan program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL) melalui 3 cara diantaranya pembinaan TKI agar setelah pulang ke tanah air bisa menjadi mandiri dengan berwirausaha. Kegiatan. PBKL lainnya yaitu dengan menggerakkan literasi keuangan karena kesadaran masyarakat untuk menabung masih sangat rendah.
"Ketiga, program Wirausaha Muda Mandiri. Kami ingin mahasiswa setelah lulus tidak hanya bisa mencari pekerjaan tetapi menciptakan pekerjaan. Ka bekerja sama masuk ke universitas untuk sosialisasi dan sekaligus menginisiasi mata kuliah kewirausahaan dengan memberi modul," kata Tardi.
Santri, kata Tardi, punya etika dan ketahanan luar biasa. Para kyai mengajar santri secara lahirian dan batiniah. Santri termasuk anak-anak muda yang punya bekal karakter yang cocok menjadi wirausaha.
"Kami datangkan alumni-alumni WMM sukses seperti Arief Budiman CEO petak umpet dan lainnya untuk membuka mata dan menjadi inspirasi setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan. Punya usaha bisa memberdayakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya," jelasnya.











































