Usai membuka acara Wirausaha Muda Mandiri (WMM) Goes To Pesantren di Ponpes Raudlatul Ulum, Tardi memutuskan menengok beberapa nasabah mikro.
Tardi sempat mengunjungi Pasar Trangkil, sebuah pasar tradisional di Kecamatan Trangkil dan menyambangi sebuah desa sentra produksi tas rajut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Suami kerja apa bu? Putra berapa?" tanya Tardi.
"Suami di pabrik gula Trangkil. Anak dua," jawab pedagang tersebut.
Tidak lama, rombongan bergerak ke sentra produksi tas rajut di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso. Tardi mendapat informasi bahwa di desa tersebut sebanyak 200 ibu rumah tangga menjadi perajin tas rajut sejak 1993. Salah satu penggerak sekaligus pemasar produk tas rajut merupakan nasabah Bank Mandiri.
"Hebat ibu ini memberdayakan 200 keluarga dengan usaha membuat tas rajutan," kata Tardi di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati, Kamis (26/11/2015).
Umi Cholisoh, seorang ibu rumah tangga yang menjadi pemasar tas rajut tersebut bisa mengantongi omzet hingga Rp 90 juta per bulan.
"Omzetnya sebulan kisaran Rp 90 juta per bulan. Di sekitar sini ada 200 ibu-ibu perajin tas rajut. Tiap bulan bisa produksi minimal 2.000 tas. Sekali kirim bisa 1.000 tas grosiran ke Kalimantan dan Sumatera. Satu bulan kirim dua kali," jelas Umi Cholisoh.
Usaha yang Ia rintis sejak 1993 tersebut telah memberdayakan 200 ibu rumah tangga. Umi Cholisoh menjadi nasabah Bank Mandiri yang memanfaatkan kredit mikro.
"Ikut kredit mikro. Baru 1 tahun jadi nasabah Mikro Mandiri. Maunya bisa kredit lebih besar, naik dari mikro. Bunganya juga kalau bisa lebih murah lagi," tutur Umi.
(ang/ang)











































