Saat detikFinance mendatangi bengkel metal jig rumahan miliknya, Yono sedang sibuk mengecat timah-timah yang selesai dicetak. Dilihat sekilas, benda-benda hasil karya Yono mirip mainan anak-anak. ternyata itu adalah umpan pancing berbahan baku timah alias metal jig.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keterampilan membuat umpan pancing metal jig secara otodidak. Awalnya, sekitar dua tahun lalu, sepulang bekerja di bengkel mobil, saya coba-coba membuat umpan pancing sendiri. Ternyata prospek bisnis umpan pancing cukup menjanjikan. Karena itu, sejak sekitar 1,5 tahun terakhir saya memutuskan menggeluti usaha ini," ujar Kariyono kepada detikFinance, Senin (19/9/2016).
![]() |
Yono menambahkan, dirinya memproduksi metal jig berbentuk ikan dan cumi dengan berbagai ukuran. Ukuran terkecil seberat 40 gram hingga ukuran paling besar dengan berat 600 gram alias 6 ons.
"Setiap bulan rata-rata memproduksi 500 unit metal jig beragam ukuran. Kalau dulu ambil dari bengkel bos. Tapi karena sekarang butuh banyak akhirnya beli ke pedagang besi tua," tambah Yono.
Untuk memproduksi 500 unit umpan metal jig, membutuhkan 100 kg bahan baku seharga Rp 2,2 juta. Selain timah, dia juga membutuhkan sejumlah bahan baku lain, seperti cat mobil, stiker, hingga bubuk fosfor. Dengan bubuk fosfor tersebut, umpan pancing hasil kreasi Yono mampu memancarkan cahaya di dalam air.
![]() |
"Jika ditotal, biaya produksi 500 unit metal jig ini sekitar Rp 4,5 juta. Itu sudah termasuk ongkos pengerjaannya," aku ayah satu anak ini.
Setelah jadi, umpan-umpan pancing itu dia jual dengan harga bervariasi antara Rp 25-80 ribu per unit, tergantung ukuran.
"Jika dirata-rata, omzetnya sebesar Rp 15 juta per bulan," tambahnya.
![]() |
Umpan pancing metal jig hasil kreasi Yono telah dipasarkan ke berbagai daerah di tanah air. Selain melayani pesanan toko di Surabaya, Bali, umpan yang diberi brand "Necker Jig" tersebut juga dijual secara online melalui media Facebook dan Instagram. Dirinya mengaku sempat menolak pesanan dari Australia dan Selandia Baru, lantaran tak bisa memenuhi target setiap bulannya.
"Pesanan dari Australia seribu lebih. Saya kekurangan tenaga dan bahan baku. Untuk saat ini masih melayani dari dalam negeri saja. Kadang datang dari Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain," pungkasnya.
![]() |
















































