Holycow Bisa Jual Steak Wagyu di Bawah Rp 100.000, Ini Rahasianya

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2016 21:35 WIB
Foto: Angga Aliya
Jakarta - Tak banyak orang bisa menikmati daging wagyu (sejenis daging sapi dari Jepang) dengan rasa khas marbling atau empuk ini. Harganya yang selangit di sejumlah restoran, membuat daging premium asal Kobe Jepang ini belum banyak dikenal orang di Indonesia.

Namun, stigma harga mahal yang melekat pada daging wagyu itu tak berlaku restoran Holcow Steakhouse yang menjual daging wagyu dengan harga yang cukup miring.

Menurut Owner Holcow Steakhouse by Chef Afit, Lucy Wiryono, rahasia gerai restorannya bisa menjual wagyu jauh lebih murah ketimbang restoran steak lainnya, terletak pada penentuan margin, dan lebih memilih pada meningkatkan omzet penjualan untuk menutup margin yang tipis tersebut.

"Semua orang belum banyak yang tahu daging wagyu, banyak orang penasaran ingin mencoba. Itulah momentumnya, kita bisa jual steak wagyu dengan harga Rp 90.000, padahal restoran lain menjualnya Rp 400.000-500.000," tutur Lucy dalam acara d'Preneur di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (28/9/2016).

Sebelum membuka restoran steak daging, kenang Lucy, dirinya berpikir mahalnya harga daging steak lantaran harga dagingnya yang memang mahal, plus beban-beban lainnya. Padahal, faktor dominan mahalnya harga, juga ditentukan oleh penetapan profit dari penjualnya.

"Saya dulu juga berpikiran restoran mahal karena tempatnya di Senayan, ada AC, bayar karyawan. Padahal buat pengusaha, sebenaranya ada perhitungan sendiri," jelas Lucy.

"Ternyata ada pakem, banyak pengusaha bikin 30% itu modal dan 70% itu profitnya. Saya balik teorinya, kita buat buat modal 70%, profitnya 30%. Tak masalah, karena banyak orang makan daging, nah bagaimana orang bisa makan daging wagyu yang affordable. Satu piring harganya di bawah Rp 100.000," ucapnya.

Namun demikian, menetapkan harga daging wagyu 'tak wajar' itu bukan berarti selamanya menguntungkan dari sisi marketing.

"Perbandingan harga wagyu yang tinggi ini menimbulkan prasangka. Orang kira oh ini dagingnya yang reject, oh ini dagingnya mungkin bekas. Kita jalan terus," pungkas Lucy. (dna/dna)