Bos Holycow dan Nasi Goreng Mafia Berbagi Tips Bisnis di Dekat Kampus

Yulida Medistiara - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2016 21:56 WIB
Foto: Angga Aliya
Jakarta - Memiliki usaha di dekat kampus memang sangat menguntungkan karena target pasarnya adalah mahasiswa dan warga sekitar yang ada setiap hari sebagai konsumen. Namun, bisnis ini juga memiliki risiko karena saat kampus sedang libur maka pendapatan berkurang karena pembelinya berkurang.

Salah satu pendiri Nasi Goreng Rempah Mafia, Stefanie Kurniadi memaparkan tips untuk menghindari sepinya pembeli saat kampus libur. Menurutnya, pembagian lokasi harus dipikirkan matang karena lokasi yang strategis itu sangat menentukan pendapatan.

Ia menyarankan sebaiknya sebelum membuka usaha harus melakukan survey jumlah populasi sasaran pembeli. Bila memang membuka usaha di dekat kampus, harus dilihat juga siklus 'ramainya' pembeli atau masa produktifitas sehingga harus di manfaatkan dengan baik di masa tersebut.

Manfaatkan waktu produktif semaksimal mungkin untuk menutup masa sepi karena hari libur.

"Lokasi itu sangat penting, Kalau kampus libur nanti itu pemasukan turun saat libur. Optimalkan kapan waktu tingginya pendapatan," kata Stefanie, di acara d'Preneur di Menara Bank Mega, Tendean, Jakarta Selatan, Rabu, (28/9/2016).

Ia mencontohkan, bila dalam satu tahun ada 8 bulan masa produktif maka harus dimanfaatkan waktu tersebut untuk meraup untung. "Jadi optimalkan bagaimana bisa up selling (menaikkan penjualan)," ujar Stefanie.

Ia juga menyarankan untuk me-review lokasi yang disewa. Review tersebut dilakukan untuk mengevaluasi apakah tempat tersebut banyak di datangi pembeli atau tidak.

"Balik lagi satu bisnis elemen yang bikin itu harus ada dari harga, lokasi. Kadang dari lokasi itu ada sewanya habis. Jangan malu-malu gitu me-review misalnya kayak-nya di sana lebih jelek ya misal kenapa ya outlet-nya tutup oh ternyata secara outlet itu lokasi sepi nah makanya pindah lokasi," kata Stefanie.

Untuk melebarkan usaha, tiap pengusaha harus memiliki modal yang baik untuk tetap tumbuh. Misalnya dengan meraih investor. Akan tetapi, dalam memilih investor itu harus hati-hati karena harus menyamakan visi dan misi jangan sampai tidak satu visi dan mengganggu sistem.

"Kalau mau ngundang investor yang mau masuk jangan lihat uangnya saja yang mau masuk karena order-nya bisnis itu menjaga bisnis kita. Jangan sampe investor masuk tapi tahunya visi kita beda, jadi harus diperhatikan," kata Stefanie.

Ada tipe investor yang tertarik pada salah satu bisnis utama dan ada juga yang tertarik sebagai franchise. Nah untuk membuka usaha franchise ini misalnya akan di buka di lokasi berbeda maka sistem internal perusahaaan itu harus sudah rapi dan berstandar.

"Kalau mau bermitra investor untuk satu outlet saja misalnya di Makasar itu dari pusat kita kita memang bermitra dengan bisnis yang ada di Makasar. Itu kita pastikan bahwa perusahaan kita memiliki sistem yang rapi supaya merek yang ada di sana standarisasinya masih terjaga. Jadi bagi hasilnya bagus," ungkap Stefanie. (dna/dna)