Adalah Fraga Tanansyah, pria berusia 24 tahun yang lahir dari keluarga pecinta mie ayam. Fraga menciptakan produk bernama Mie Ayam Sabuke.
Cerita berawal sekitar 2012 silam, saat Fraga akan menyelesaikan studi teknik telekomunikasi di salah satu perguruan tinggi di dalam negeri. Keinginannya hanya satu, selepas kuliah menjadi pengusaha, bukan karyawan seperti khalayak pada umumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. Mie Ayam SabukePemilik Usaha Mie Ayam Sabuke |
Fraga pun mantap ingin membuka usaha mie ayam. Ide bisnis ini muncul setelah mengingat keluarganya adalah pecinta mie ayam.
"Lalu, kenapa nggak jualan mie ayam saja," tutur Fraga, sambil asyik bercerita.
Kemudian, dia mencoba mencari informasi cara membuat mie ayam di internet. Maklum saja, meski pecinta mie ayam, Fraga dan keluarganya tak bisa membuat mie ayam.
Namun, karena niat bisnis yang kuat, Fraga terus berusaha meracik aneka bahan untuk menjadi mie ayam dengan rasa berbeda dari yang lain. Kerja keras Fraga akhirnya membuahkan hasil.
Foto: Dok. Mie Ayam Sabuke |
"Kita coba itu sekitar 4 bulan. Sampai sakit perut. Coba lagi terus cari informasi. Sampai akhirnya lahir Mie Ayam Sabuke," paparnya.
Sedikit tentang Mie Ayam Sabuke. Fraga menjelaskan, ini adalah jenis mie ayam yang dipadu dengan sayur, buah dan keju. Mie ayam racikan Fraga memiliki aneka rasa seperti bayam, wortel, cokelat, kopi, strawberi, buah naga dan sebagainya.
"Kita ingin membuat mie ayam yang beda dari yang lain. Jadi ketemu rasa enak dan tidak memakai bahan yang merugikan, bebas pengawet dan pewarna. Semuanya dari bahan organik," jelasnya.
Usaha dimulai dengan modal sekitar Rp 5 juta dari kantong Fraga dan sedikit bantuan dari orang tua. Satu toko disewa di wilayah Bekasi. Awalnya mie ayam diproduksi dengan bahan baku bayam dan original. Kemudian seiring tingginya permintaan, berbagai rasa juga diproduksi.
Konsumen cukup antusias dengan produk mie ayam Sabuke penjualan meningkat drastis, sampai Fraga mampu menghasilkan omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta per bulan. Fraga pun semakin berambisi memperluas bisnisnya.
Dia beralih ke salah satu pusat perbelanjaan di wilayah Cijantung, Jakarta Timur. Toko pertama ditutup dan Fraga fokus pada area bisnis yang baru.
Jatuh Bangun
Berjalan sekitar setahun, ternyata bisnis yang dijalankan tidak sesuai harapan. Banyak kendala yang sulit dihadapi, hingga penjualan turun drastis. Omzet puluhan juta yang dibayangkan tak lagi tercatat saat pembukuan.
"Ada sedikit penyesalan memang, karena kesalahan strategi," kata Fraga mengakui.
Fraga kemudian menjajal area pop-up market seperti pameran, festival, bazar dan sebagainya, untuk menjual produk mie ayamnya. Promosi juga dilakukan melalui website maupun media sosial.
Seiring dengan penjualan yang musiman, omzet yang dihasilkan Fraga lewat pop-up market tidak terlalu banyak, hanya Rp 2 juta-Rp 3 juta per hari. Sementara pop-up hanya berjalan sekitar seminggu.
Tahu akan omzetnya tipis, Fraga menciptakan produk baru bernama Kentang Mustofa. Produk ini merupakan pelengkap dari mie ayam dan dijual di berbagai tempat. Meski belum besar, namun setidaknya cukup untuk memberikan tambahan penghasilan rutin setiap bulannya.
"Jadi untuk penghasilan rutin, saya menjual produk bernama kentang Mustofa," imbuhnya.
Ke depan, Fraga berencana untuk membeli kendaraan khusus untuk menjual mie ayam. Menurutnya, langkah tersebut lebih efektif dan efisien. Wilayah yang akan dijangkau adalah Jakarta dan sekitarnya.
Perjalanan ini memberikan pelajaran penting bagi Fraga. Menurutnya, sebelum mengambil keputusan memang harus dilandasi dengan referensi yang matang.
"Kita harus benar-benar belajar mencari referensi sebelum mengambil keputusan. Kita matangkan dulu. Dengarkan saran dari orang-orang, analisis seakurat mungkin, baru mengambil keputusan," tutupnya. (mkl/drk)












































Foto: Dok. Mie Ayam Sabuke
Foto: Dok. Mie Ayam Sabuke