"Saya memulai usaha jual beli mobil bekas dengan ketidaksengajaan. Tahun 2008 status saya sebagai pegawai saya membeli mobil dengan harga Rp103 juta," cerita Handy kepada detikcom melalui pesan elektronik, beberapa waktu lalu.
Ternyata kisah inilah yang menjadi awal mula Handy terjun ke bisnis jual-beli mobil. Mobil yang dibelinya pada 2008 lalu menjadi modal awal merintis bisnis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kejadian yang hampir serupa pun terulang. Handy membeli mobil lagi dan mulai iseng-iseng menjual mobil keduanya itu.
"Saya kepikiran untuk coba saya jual lagi dengan harga tinggi dengan asumsi kalau tidak laku ya memang saya niatnya untuk pakai. Di luar ekspektasi, mobil ke-2 saya laku lagi dengan harga tinggi dan menghasilkan untung yang lumayan," lanjut Handy senang.
Berhasil menjual mobil untuk kedua kalinya membuat Handy yakin untuk terjun ke bisnis jual-beli mobil ini.
"Di 2008 hanya bermodalkan 1 mobil, sekarang stok unit bisa mencapai 35-40 unit," sambung Handy.
Kesuksesan Handy yang mampu mendulang keuntungan berjuta-juta rupiah ini tak lepas dari motivasinya untuk terus menghasilkan uang. Bahkan, berkat motivasinya itu dia telah membuka 3 unit usaha showroom, tour and travel sampai auto detailing.
Meski mengaku pernah merasa berada di jalan buntu karena kesulitan uang sehabis membeli mobil pertama, namun nyatanya Handy sukses menekuni bisnis ini.
Untuk pemasaran pun Handy tak main-main. Dia siap menggelontorkan uang sedikitnya Rp 15 juta per bulan untuk promosi usaha, khususnya di dunia maya. "Tempat yang efektif itu di internet dan berpikirlah out of the box," tuturnya.
Oleh karena itu, dia merasa terbantu dan terinspirasi untuk mengembangkan usahanya dari Solusi UKM dari detikcom. "Sangat sangat bermanfaat. Dengan rate card iklan yang murah dan tetap luas pasarnya," tutup Handy.
Kini, Handy bermimpi untuk terus memperbesar usahanya dan konsisten terhadap unit usaha yang telah dia bangun dari awal. (ang/ang)