Follow detikFinance
Sabtu 30 Sep 2017, 13:05 WIB

Bikin Rencong Hingga Celurit, Pria Ini Raup Omzet Rp 90 Juta/Bulan

Muhammad Idris - detikFinance
Bikin Rencong Hingga Celurit, Pria Ini Raup Omzet Rp 90 Juta/Bulan Foto: Muhammad Idris/detikFinance
Jakarta - Bagi pandangan orang umumnya, bisnis yang ditekuni Ibrahim Kadir bisa jadi terbilang sangat langka, bahkan terkesan menyeramkan. Pria asal Jakarta ini 10 tahun terakhir memproduksi dan berjualan senjata tajam khas daerah.

Menurut Ibrahim, banyak sekali ragam senjata khas daerah di Indonesia yang sebenarnya memiliki nilai jual tinggi karena punya ciri khas pada pada desain dan ukiran pada senjata-senjata lokal dari Indonesia.

"Saya mulai produksi 2007 dengan workshop di Menteng Dalam, Jakarta. Saat ini sudah membuka workshop di Bali dengan nama Bali Blade. Makanya produknya sampai saat ini kita ambil sebagai merek Bali Blade," kata Ibrahmi kepada detikFinance, pekan lalu.

Peluang usaha senjata tajam khas daerahPeluang usaha senjata tajam khas daerah Foto: Muhammad Idris/detikFinance

Beberapa senjata tajam yang diproduksinya seperti Rencong dari Aceh, Kujang dari Jawa Barat, Siwah dari Aceh, Karambit dari Minangkabau, Seraut dari Kalimantan, sampai Celurit dari Madura.

"Banyak sekali senjata khas Indonesia yang malah disukai di luar negeri. Seperti tentara Amerika Serikat pun saat ini menggunakan karambit atau kuku macan yang asli Sumatera Barat untuk combat jarak dekat," ujar Ibrahim yang juga kerap mendapatkan pesanan dari beberapa satuan pasukan khusus tersebut.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak mpu atau pandai besi yang bisa menempa senjata tajam yang berkualitas tinggi. Perkakas tajam lokal sendiri saat ini sudah bergeser dari sebelumnya sebagai alat pertanian dan senjata, menjadi barang seni.

Peluang usaha senjata tajam khas daerahPeluang usaha senjata tajam khas daerah Foto: Muhammad Idris/detikFinance

"Saya selalu mencoba mengedukasi orang bahwa sebenarnya banyak sekali mpu-mpu di Indonesia itu yang bisa membuat pisau-pisau bernilai tinggi dan berkualitas. Karena pisau-pisau khas di Indonesia relatif sangat rumit, dari gagangnya, lekukannya, kemudian ukirannya," jelas Ibrahmi.

Ibrahim mendesain sendiri senjata-senjata tajam yang dijualnya, sementara untuk produksinya sebagian besar diserahkan pada mpu yang ada di Sumedang, Jawa Barat.

"Saya buat desain di Corel. Saya biasanya dapat desain dari internet atau dari film. Seperti Prince of Persia di film saya lihatin pisaunya menarik. Saya kemudian coba buat sendiri. Kemudian diserahkan pengerjaannya pada mpu-mpu di Sumedang. Saya ada beberapa rekanan di sana untuk produksinya. Selain lokal, Bali Blade juga membuat pisau dari luar negeri Sri Lanka dan Nepal," ucapnya.

Mantan fotografer ini menuturkan, senjata tajam Bali Blade sendiri dijual di kisaran Rp 1 juta-Rp 5 juta. Tak hanya dalam negeri, banyak pesanan datang pula dari berbagai negara.

Peluang usaha senjata tajam khas daerah Peluang usaha senjata tajam khas daerah Foto: Muhammad Idris/detikFinance

"Omzet sebulan bisa Rp 90 juta. Pembelinya dari kolektor, orang yang memang hobi, instansi pemerintah dan swasta, instansi tentara, sampai tukang jagal sapi karena beberapa jagal butuh pisau khusus. Dari luar negeri banyak dari Eropa Timur, Afrika Selatan, Skandinavia seperti Norwegia. Sebulan produksinya 100-150 bilah," terang Ibrahim.

Pria berusia 38 tahun ini mengaku, penjualan sendiri lebih banyak disokong dari mulut ke mulut. Ibrahim juga mempromosikan senjata tajam lewat media sosial dan website di balibladeknives.com.

"Kalau ekspor biasanya mereka request. Ada yang lewat email atau datang sendiri ke showroom kita, juga saat ini mulai jual pakai Facebook dan Instagram. Permodalan sendiri saya banyak dibantu program bantuan ASABRI," pungkas Ibrahim. (idr/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed