Follow detikFinance
Senin, 18 Des 2017 08:30 WIB

Sidat Banyuwangi dan Situbondo Merambah Negeri Sakura

Sudrajat - detikFinance
J. Soetanto dan Dimas Insani di Aeon, Makuhari Messe, Chiba - Jepang (Foto: Sudrajat). J. Soetanto dan Dimas Insani di Aeon, Makuhari Messe, Chiba - Jepang (Foto: Sudrajat).
Chiba - Di antara deretan produk ikan yang dipajang dalam kotak-kotak berpendingin di mal Aeon, di Makuhari Messe Chiba, Jepang, akhir November lalu, ada satu kotak panjang bertuliskan huruf kanji yang artinya, "Diimpor dari Indonesia". Sontak 21 pengusaha yang tergabung dalam Misi Dagang Indonesia ke Jepang merubunginya. Antara rasa ingin tahu dan bangga tergambar dari ekspresi dan kata-kata yang tercetus kemudian.

"Itu bukan belut lo ya, itu ikan sidat (Anguilliformes). Kalau belut itu hidup di lumpur, tapi sidat hidup di air tawar dan laut," kata Direktur PT Iroha Sidat Indonesia J. Soetanto.

"Oh..beda to. Tak kirain sejenis belut raksasa," cetus seorang ibu pengusaha seraya manggut-manggut.

Kepada detikfinance, Soetanto memaparkan lebih lanjut bahwa ikan sidat produksi perusahaannya sebanyak 80 persen di antaranya memang ditujukan untuk konsumsi ekspor ke Jepang. Sisanya, 20 persen, untuk konsumsi restoran Jepang di sejumlah kota besar di Indonesia.

"Restoran Sushi Tei di Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar itu membeli sidat dari kami," ujar Soetanto.

PT Iroha, ia melanjutkan, sejak 2013 punya 50 hektare lahan tambak di Banyuwangi dan Situbondo yang sepenuhnya untuk budidaya sidat, mulai dari ukuran benih (glass eel) sampai ukuran panen. Selanjutnya sidat yang dipanen dari tambak akan diolah menjadi sidat panggang (kabayaki) beku di pabrik pengolahan di Banyuwangi dengan mesin pemanggang otomatis.

"99% karyawan di tambak dan pabrik kami adalah tenaga kerja lokal. Dalam operasional sehari-hari kami mendapatkan bimbingan dari tenaga ahli dari Jepang," papar Soetanto.

Sidat Banyuwangi dan Situbondo Merambah Negeri SakuraFoto: Dok PT Iroha Sidat Indonesia

Berbeda dengan ikan atau udang yang tumbuh dan berkembang secara merata dalam tempo 3-4 bulan, pertumbuhan sidat tidak merata. Ada yang cepat besar ada yang tidak. Padahal untuk bisa dipanen minimal harus berukuran 250 gram per ekor. "Kami baru mengekspor 1-2 kontainer perbulan atau sekitar 250 ton pertahun."

Soal nilainya, dia tak bersedia menjelaskan secara rinci. Soetanto hanya memberikan gambaran bahwa bisnis Sidat tergolong padat modal karena masa budidayanya panjang, antara 1-2 tahun. Selan itu, pakannya juga tergolong mahal. Karena itu harga jual sidat panggang (unagi kabayaki) di Jepang tergolong mahal, sekitar Rp 150 ribu per ekor untuk yang seberat 120 gram.

Puncak konsumsi sidat oleh masyarakat Jepang biasanya di musim panas, yaitu sekitar Juli. Sebab di musim ini masyarakat butuh stamina untuk bekerja. Para ahli gizi menyebut kandungan gizi sidat kaya dengan Omega 3. "Ya, sidat juga dipercaya memberikan efek stamina bagi kaum pria," ujar Soetanto diiringi senyum.

Sementara itu, Dimas Insani dari Japfa menjelaskan baha Iroha merupakan anak usaha PT Suri Tani Pemuka di bawah bendera Japfa. Iroha didirikan pada 2012 setelah melihat peluang bisnis sidat sangat menjanjikan. Hal ini karena benih sidat Anguilla japonica (jenis sidat di Jepang) dan Anguilla anguilla (jenis sidat di Eropa) mulai berkurang pasokannya. Di sisi lain pasokan benih Anguilla bicolor (salah satu jenis sidat di Indonesia) masih melimpah dan belum dimanfaatkan. Sementara itu pasar di Jepang untuk produk unagi kabayaki (sidat panggang dengan saus) masih besar.

Berkurangnya pasokan benih sidat jenis A. japonica dan A. anguilla mengakibatkan berkurangnya pasokan produk unagi kabayaki di pasar Jepang, "Oleh karena itu JAPFA melalui anak perusahaanya PT Suri Tani Pemuka memutuskan untuk masuk dalam bisnis ikan sidat ini dengan mendirikan PT Iroha pada 2012," papar Dimas kepada detikfinance.

Untuk mempermudah menembus pasar Jepang, ia melanjutkan, PT Suri Tani Pemuka menggandeng Marubeni Corporation dan PT Marubeni Indonesia membentuk perusahaan joint venture.

Sidat Banyuwangi dan Situbondo Merambah Negeri Sakura.Sidat Banyuwangi dan Situbondo Merambah Negeri Sakura. Foto: Dok PT Iroha Sidat Indonesia

Secara umum, ia melanjutkan, Indonesia memiliki potensi pengembangan ikan sidat yang sangat besar, karena Indonesia memiliki lebih dari 9 jenis ikan sidat. Ikan sidat bukan hanya terdapat di Jawa Timur, tapi juga tersebar di beberapa daerah lain di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, sepanjang pantai selatan Pulau Sumatera, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan lain-lain.

Untuk membudidayakan ikan sidat tropis, kata Dimas, sebetulnya tidak ada syarat khusus. Namun dibutuhkan waktu budidaya yang lebih lama dibandingkan ikan konsumsi jenis lain, sehingga dibutuhkan modal kerja yang cukup besar, ketekunan dan kemampuan untuk memenuhi persyaratan kualitas yang dituntut oleh pasar. "Ke depan, PT Iroha merencanakan untuk melakukan kemitraan dengan pembudidaya lokal," ujar Dimas.

Meskipun produk Iroha sudah dipasarkan oleh Aeon, Dimas maupun Soetanto, menegaskan pihaknya tetap mengikuti misi bisnis yang dipimpin Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita itu untuk memperluas dan menambah nilai ekspor. "Produk kita kan banyak, tak cuma sidat. Kami tentu berharap lewat misi ini mendapatkan potensial buyers baru," ujar Dimas seraya menyebut China dan Taiwan sebagai pesaing utama dalam ekspor ke Jepang.

(jat/mkj)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed