Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 30 Sep 2018 20:55 WIB

Bikin Jam Tangan Semen, 2 Sahabat Ini Raup Rp 20 Juta Sebulan

Trio Hamdani - detikFinance
Foto: Dok Pribadi Restu Irwansyah Setiawan Foto: Dok Pribadi Restu Irwansyah Setiawan
Jakarta - Jam tangan terbuat dari material kayu, besi atau plastik mungkin sudah tidak terdengar asing alias mainstream. Tapi bagaimana dengan jam tangan dari semen?

Lewat tangan Restu Irwansyah Setiawan dan Edo Fernando, pendiri Lakanua, jam tangan yang terbuat dari semen itu benar-benar ada. Dengan ide cemerlang tersebut, keduanya berhasil meraup omzet puluhan juta rupiah tiap bulan.

Salah satu pendiri Lakanua, Restu Irwansyah Setiawan menceritakan, jauh sebelum menemukan ide jam tangan dari semen, keduanya sempat mencoba membuat jam tangan dari kayu, tepatnya 5-6 tahun lalu.



Namun mereka sadar sudah banyak yang membuat jam tangan dari kayu. Akhirnya mereka memutuskan berhenti selama 2 tahun, dan nyambi pekerjaan lain. Kebetulan Edo Fernando, rekan bisnisnya bekerja di perusahaan furnitur berbahan baku semen. Akhirnya muncul ide membuat jam tangan dari semen.

"Temen saya itu kerja di furniture semen. Dari situ ide kita gimana kalau kita bikin, bercanda bercanda gitu, bikin jam tangan dari material semen, mungkin nggak ya," katanya kala berbincang dengan detikFinance, Sabtu (29/9/2018).

Akhirnya keduanya mencoba merealisasikan ide tersebut. Tapi di awal percobaan mereka masih gagal, frame jam tangan dari semen mudah retak dan pecah. Tak patah arang, keduanya terus bereksperimen kurang lebih selama 2 hingga 3 tahun.

"Jadi 3 tahun kita perencanaan, pengen produknya finish walaupun sampai sekarang nggak finish finish sebenarnya, jadi kita itu terus improve," sebutnya.

Modal awal yang mereka siapkan dalam memulai bisnis terbilang sedikit, yakni hanya Rp 5 juta yang berasal dari kantong pribadi masing-masing.

Restu (kiri) Edo (kanan) Foto: Dok Pribadi Restu Irwansyah Setiawan


Dalam sebulan mereka bisa memproduksi sekitar 20-50 jam tangan dari semen. Jam tangan tersebut murni buatan tangan dan mereka hanya berdua mengerjakannya. Pasalnya mereka kesulitan mencari sumber daya manusia (SDM) yang bisa membuat jam tangan semen.

"Sebulan itu kita cuma mampu bikin 20-50 pcs. Tapi kebanyakan 20 pcs ya karena ini handmade, benar benar masih kita berdua yang bikin, belum pakai pekerja. Jadi masih dikit kapasitas produksi kita," jelasnya.

Satu jam tangan dihargai sekitar Rp 1 juta-Rp 1,5 juta. Mahalnya harga dilihat dari material kulit yang digunakan untuk tali jam tangan.

Segmentasi mereka adalah kalangan anak-anak muda yang doyan tampil beda. Bisa dibilang, segmentasi pasarnya tidak jauh beda dengan jam tangan kayu, yaitu konsumen yang menyukai barang-barang bermaterial eksotik.

Restu mengklaim Lakanua saat ini satu-satunya yang membuat jam tangan dari semen di Indonesia. Sementara di luar negeri mereka belum mengetahui.


"Kalau di Indonesia saya baru tahu saya sendiri. Belum tahu kalau di luar belum nyari nyari gitu," ujarnya.

Berkat keunikannya tersebut, Restu mengatakan per bulan bisa mengantongi omzet Rp 20 juta, di mana keuntungan yang mereka peroleh mencapai 50% dari omzet. Namun dia belum puas dengan capaian tersebut.

"Kalau omzet kita belum gede sih ya. Kita sebulan Rp 20 juta, kita belum gede," ujarnya.

Saat ini, Lakanua baru memasarkan jam tangannya online. Ke depan, mereka ingin mengembangkan usahanya semakin besar dan bermimpi membuka toko fisik.


(zlf/zlf)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed