Follow detikFinance
Rabu, 10 Okt 2018 20:35 WIB

Tak Sekadar Keruk Untung dari Penyandang Disabilitas

Baban Gandapurnama - detikFinance
Foto: Baban Gandapurnama/detikcom Foto: Baban Gandapurnama/detikcom
Bandung - Genggaman jari jemari Indra Sumedi nampak erat mengendalikan mesin penghalus rangka berbahan aluminium. Lelaki berusia 44 tahun ini sedang merakit kaki kanan palsu pesanan seorang warga Cianjur, Jawa Barat, yang mengalami kecelakaan lalu lintas.

Siang panas terik, Sabtu, 22 September 2018, Indra dan sejumlah rekannya sesama disabilitas, berkumpul di halaman kontrakan sederhana satu lantai bercat krem sekaligus bengkel produksi, Jalan Kawaluyaan Baru 1, RT 6 RW 13, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat. Saban hari, mereka tergabung Kelompok Kreativitas Difabel (KKD) Bandung, memproduksi tiruan kaki-tangan.

"Kami juga terima servis kaki dan tangan palsu," kata Indra berkaus cokelat lengan pendek sambil ngesot mencari alat meteran dan palu.

Indra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsuIndra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsu Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

Buntung sepasang kaki gegara terlindas kereta api tak menjadikan Indra kecil hati. Semangat baja menggelora di benaknya dalam menekuni wirausaha bidang protese.

"Harus kreatif dan mengulik, biar bisnis tetap jalan," kata Indra yang sekujur tubuhnya dihiasi tato.

Jejak kelam menuntun Indra berjuang hidup mandiri dan melawan hina. Matanya menerawang mengingat insiden berdarah yang nyaris merenggut nyawanya. Suatu malam, pada 1998, Indra muda yang dikenal badung, bersama barisan kelompoknya bertikai sengit dengan sekumpulan pemuda di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Indra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsuIndra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsu Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

"Kejadiannya pas lagi zaman reformasi. Saya berkelahi, lalu salah lari ke arah rel di daerah Cibatu Garut," katanya.

Berniat menghindari kejaran kubu musuh, kaki kiri Indra tersangkut di sela-sela lintasan rel. Dia panik bukan kepalang. Selagi terjebak dan berupaya meloloskan diri, kereta api jurusan Surabaya-Jakarta melesat menghampiri.

"Bruukk...!!" ucap Indra saat kereta menyambarnya.

Indra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsuIndra Sumedi penyandang disabilitas pembuat kaki dan tangan palsu Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

"Ada kereta ekspres jurusan Surabaya-Jakarta. Kereta patas membawa dua belas gerbong itu melindas kaki kiri. Kaki kanan ikut tergilas," tuturnya menambahkan.

Warga setempat menolong dan memboyong Indra ke rumah sakit di Garut hingga akhirnya dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung. Lantaran infeksi menjalar ke bagian paha Indra, dokter harus mengamputasi.

"Waktu bangun (tersadar usai dibius), saya kaget. Kemana kaki saya?" kata Indra mengenang.

Empat tahun lamanya batin Indra bergejolak. Dia mengurung diri di rumah dan minder bersosialisasi. "Malu dan frustasi karena saya cacat," ucapnya.

Kaki palsu racikan Indra SumediKaki palsu racikan Indra Sumedi Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

Benaknya bangkit kala petuah meluncur dari mulut sang ibu. Ia berproses menumbuhkan kepercayaan diri dan mau berbaur di lingkungan warga. Bahkan, Indra sempat berkerja menyuplai makanan ringan ke pasar dan jualan kerajinan tangan. Aktivitasnya ditopang kursi roda.

Dia berujar, "Kerja apa pun asalkan halal. Saya enggak mau menjadi peminta-minta."

Waktu terus bergulir. Indra pun bermimpi memiliki sepasang kaki palsu. Ia cari info sana-sini soal harga. "Ternyata mahal, harganya Rp 24 juta. Buatan impor," katanya.

Semenjak itu Indra berangan-angan memproduksi alat bantu berwujud kaki palsu yang harganya terjangkau. Dia dan beberapa rekan disabilitas lainnya, yang rutin berkumpul di GOR Pajajaran Bandung, bersepakat merintis bisnis duplikat kaki-tangan.

Pada 2009, KKD Bandung menapaki tahapan uji coba meracik kaki-tangan tiruan berbahan pipa pvc. "Setahun kemudian (2010), kami resmi memproduksinya," ucap Indra.

Cerita Sepasang Ayam dan Sekarung Kentang

Ketua Kelompok Kreativitas Difabel (KKD) Bandung Anwar Permana alias Ozzu (42) menyebut perajin replika kaki-tangan yang bernaung dengannya berjumlah 12 orang. Mayoritas para perajin tersebut difabel.

"Boleh dibilang pertama di Indonesia ada pembuat kaki dan tangan palsu yang pekerjanya difabel. Kami belajarnya secara autodidak ," kata Ozzu.

Sejak awal berdiri, menurut dia, usaha tersebut dedikasikan untuk menghimpun orang-orang berketerbatasan fisik. Ozzu ingin membuktikan bahwa kalangan disabilitas mampu produktif bekerja.

"Selain itu, tujuan kami menolong sesama difabel yang tidak bisa beli tangan dan kaki palsu karena mahal," ujarnya.

Kendati dibanderol murah, Ozzu menegaskan, protese karya KKD tetap mengedepankan kualitas dan kenyamanan. "Bisnis begini biasanya dibuat para dokter dan pabrikan. Tapi produk kami berani bersaing berkat hasil karya tangan-tangan terampil difabel," tuturnya.

Tangan palsu racikan Indra SumediFoto tangan palsu racikan Indra Sumedi Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

Ia dan kawan-kawan berpedoman menggeluti bisnis bukan melulu mengejar pundi-pundi rupiah. Ia menyebut tak sekadar meraup untung dari orang-orang bertubuh buntung.

KKD mengimbangi urusan komersial dan aksi sosial. Nyatanya banyak orang yang terbantu berkat kehadiran kaki-tangan buatan KKD. Selama usaha tersebut berdiri sudah 300-an unit yang disalurkan cuma-cuma.

"Kami terapkan program subsidi silang. Jadi kalau ada tiga produk yang terjual, disiapkan satu produk gratis untuk orang yang berhak menerima," Ozzu mengungkapkan.

Tentunya Ozzu selektif menyeleksi penerima gratisan kaki-tangan palsu. Ia mengantongi catatan daftar penyandang disabilitas yang telah mengajukan diri. "Persyaratannya berupa foto seluruh badan, SKTM, salinan KTP dan KK. Nantinya kami survei langsung kondisi orangnya," ucap Ozzu.

Aneka cerita mengharukan sepanjang menjalankan usaha ini diungkapkan Galih Jono alias Jhon (45). Bendahara KKD tersebut pernah kedatangan seorang ibu yang anaknya difabel. Salah satu kakinya berukuran pendek sejak lahir.

"Setelah pesanannya jadi, orang tua si anak itu menangis saat bertemu saya. Karena enggak punya uang, dia bayarnya pakai dua ekor atau sejodoh ayam kampung," kata Jhon.

Pria berambut cepak ini sering menghadapi orang tidak mampu yang menyambangi bengkel KKD. "Pernah juga ada yang membayar dengan sekarung kentang," ujar Jhon mengenang.

Ogah Tertinggal di Era Digital

Indra memperlihatkan ponsel layar sentuh berbasis android. Di layarnya muncul ragam foto-foto produk kaki-tangan palsu yang dia unggah via Instagram.

"Alhamdulillah, ada saja yang respons untuk pemesanan," kata Indra.

Di era digital, KKD ogah tertinggal memasarkan jualannya. Pekerja KKD sengaja membuka toko daring guna memperluas jaringan dan menjangkau konsumen dari seantero nusantara.

"Kalau ada yang pesan, nanti pengukurannya dipandu lewat WhatsApp. Kan bisa video call," ucap Indra.

Ozzu mengamini pernyataan Indra. Menurut Ozzu, selain memanfaatkan sejumlah akun media sosial (medsos), KKD menjual produknya melalui salah satu situs jual-beli online. Sejumlah difabel di berbagai daerah di Indonesia ikut gabung sebagai agen.

"Pemesannya bukan hanya Bandung atau daerah di Jawa Barat saja. Ada dari Lampung, Aceh, Pelembang, Kelimantan, Gorontalo dan wilayah lainnya," tuturnya.

Ozzu menjelaskan bahan baku kaki made in KKD mengandalkan aluminium, spon dan semi kulit. Bahan telapak ada tiga macam terdiri kayu spon, karet lokal dan karet rubber spon. Pemesanan jenis dan bahan tersebut, ia menambahkan, disesuikan keinginan konsumen.

Bengkel pembuatan kaki dan tangan palsu Indra SumediBengkel pembuatan kaki dan tangan palsu Indra Sumedi Foto: Baban Gandapurnama/detikcom

"Untuk tangan palsu, bahan yang digunakannya sederhana yaitu spon dan semi kulit. Selain itu, ada juga bahan silikon rubber," kata Ozzu.

KKD mematok tarif mulai Rp 500 ribu hingga Rp 6 juta per kaki. Sedangkan tangan kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 10 juta.

"Tiap bulannya, kami memproduksi empat hingga lima unit. Pengerjaannya paling lama seminggu per unit, ya paling cepat empat hari selesai," katanya.

Bisnis protese lokalan ini konsumennya spesifik. "Mayoritas pembelinya yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Selain itu, orang mengidap diabetes yang tangan atau kakinya diamputasi," Ozzu mengungkapkan.

Menurut dia, orderan berjumlah banyak kerap dikerjakan KKD dari instansi pemerintah dan perusahaan swasta. Biasanya, kata dia, pesanan massal diproduksi untuk acara sosial pembagian kaki-tangan palsu.

"Sekali pesan, ya mencapai puluhan unit," ucap Ozzu.

KKD memanfaatkan jasa kurir untuk mengirimkan produk pesanan konsumen yang berdomisili di luar Kota Bandung. Kehadiran layananan kurir ini telah memudahkan KKD menjangkau peminat kaki-tangan palsu di Indonesia.

"Secara umum, kami sangat terbantu dengan perusahaan ekspedisi. Kalau enggak ada mereka, kami pasti bingung," kata Galih Jono alias Jhon, bendahara KKD Bandung.

KKD memercayakan beberapa layanan ekspedisi. Salah satunya perusahaan Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). "Kami sering gunakan JNE untuk kirim pesanan konsumen," ucapnya.

Menurut Jhon, banyak permintaan langsung dari pemesan yang tinggal di luar Kota Bandung agar barang diantarkan via JNE. Konsumen KKD memiliki kepercayaan tinggi kepada JNE yang telah meraih penghargaan bergengsi Brand Asia 2018 untuk kategori Silver Champion Transportation & Logistic, dan Top 10 Strongest Brand in Indonesia.

"Konsumen atau pemesan maunya pakai JNE. Ya kami kan menyesuaikan permintaan konsumen. Mereka menyebut layanan JNE itu cepat terkirimnya ke alamat tujuan," ujar Jhon.

Bengkel KKD tak menetap permanen. Sudah enam kali para perajin kaki-tangan palsu ini berpindah-pindah markas. Namun tekad kuat telah membuat KKD tetap eksis, kompak dan menginspirasi.

"Prinsip kami saling bantu," kata Jhon menegaskan.

Imbas positif perkembangan UKM di Bandung dirasakan JNE. Secara konsisten tiap tahunnya, JNE mengklaim, tercatat peningkatan kiriman 20 hingga 30 persen.

"Terutama kiriman di bidang fesyen. Lebih dari 50 persen kiriman dari Bandung didominasi jenis kiriman baju, kerudung, sepatu dan lainnya," kata Branch Manager JNE Bandung Iyus Rustandi via pesan singkat.

Selain itu, JNE gencar dalam berbagai program pengembangan UKM. "JNE Bandung secara aktif menggelar seminar pengembangan UKM di Bandung hingga bantuan pendanaan bagi UKM. Serta menghadirkan berbagai program menarik lainnya bagi pelanggan," kata Iyus.

Menurut Iyus, saat ini lebih dari 200 sales counter atau titik layanan tersebar di Bandung untuk melayani pelanggan setia. Jumlah tersebut, sambung dia, bakal terus bertambah mengingat tumbuh suburnya e-commerce di Tanah Air. (bbn/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed