Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Nov 2018 16:45 WIB

Produk Sulam Ngapak Banyumas Tembus Malaysia hingga Eropa

Arbi Anugrah - detikFinance
Foto: Arbi Anugrah/detikcom Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Banyumas - Siang itu ibu-ibu PKK di Desa Pejaka, Kecamatan Sokaraja, Banyumas tengah sibuk berlatih membuat sulam ngapak pada sebuah media kerudung. Sulam ngapak merupakan salah satu jenis sulaman yang mengombinasikan 5 sampai 6 jenis sulam menjadi suatu desain tersendiri.

Ide mengombinasikan berbagai jenis sulaman menjadi sulam ngapak muncul dari Cocos Trisada (50), berawal dari hobi mengisi waktu luang, berbagai kerajinan tangan hasil kreasi menyulam tercipta. Cocos berhasil memadukan berbagai jenis sulaman menjadi satu yakni sulam ngapak yang mempunyai sisi kreativitas tersendiri.

"Sulam ngapak ini merupakan satu-satunya sulam yang ada di Indonesia karena mengombinasikan 5 sampai 6 jenis sulam yang kita kreativitaskan dalam satu jenis sulaman, dimana di situ ada pakem-pakemnya. Jadi diibaratkan desain motif yang ada seperti punya aturan dalam mengerjakannya," kata Cocos Trisada saat berbincang kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Sulam ngapak BanyumasSulam ngapak Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Dia menjelaskan biasanya dalam sebuah sulam standarnya hanya mempunyai satu jenis saja, meskipun dikembangkan hanya terbatas pada benangnya saja, Namun Cocos mencoba menyerap semua jenis sulam yang ada di dunia mulai dari sulam benang, sulam payet, sulam pita, sulam perca. Di sisi lain untuk lebih spesifiuknya dirinya menggunakan sulam rafia Jepang.

"Standarnya (dalam menyulam) hanya satu yang ada di dunia, itu biasanya pengembangannya hanya benang ya benang saja, kalau pita ya pita saja. Kalau kita itu menyerap semua jenis sulam, nah dari sisi desain itu ada aturannya dan kita biasa menyebut pakem. Itu yang menjadikan dasar, makanya dalam satu tahun terakhir ini khususnya (Sulam Ngapak) di Banyumas diminati banyak orang," jelas Cocos.

Malaysia hingga Eropa

Dari hasil kreativitas Sulam Ngapak ciptaan Cocos Trisada ini akhirnya dapat aplikasikan ke banyak produk mulai dari produk untuk box tisu, sepatu, tas, jilbab, baju seperti gamis dan baju pengantin serta aksesoris bros. Adapun motif Sulam Ngapak ini diantaranya, motif bunga, binatang, abstrak serta kaligrafi. Motif ini akan terus berkembang dengan menggunakan ide-ide liar yang lebih menarik dan unik. Dalam pengembangan Sulam Ngapak yang mempunyai sisi kreatifitas yang tinggi ini juga menjadi suatu peningatan untuk lebih kreatif dari sisi desain, sehingga mempengaruhi pada nilai jual yang tinggi. Bahkan peminatnya bukan hanya di dalam negeri, tapi sudah merambah hingga keluar negeri.

"Dari sisi produksi yang dihasilkan, untuk pangsa pasarnya secara nasional sangat baik. Kemudian permintaan untuk keluar negeri dalam satu tahun terakhir sudah ada beberapa negara yang meminati produksi ini, seperti Malaysia hasil dari pameran Inacraf 2018 di Jakarta. Lalu turis dari Belgia yag melancong ke Purwokerto mereka membeli kemudian order lagi, meskipun skalanya belum banyak.

Produk sulam ngapak BanyumasProduk sulam ngapak Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Lalu dari pihak luar terutama di embroidery designer yang berda di Eropa timur, Eropa maupun di Kanada itu banyak sekali menanyakan apa si Sulam Ngapak itu, karena mereka baru melihat betuk sulam yang seperti itu dan menurut mereka sangat menarik dan unik," ucapnya.

Selain itu, lanjut dia Singapura dan India mereka lebih berminat untuk jenis kain polos yang desain dan motifnya semuanya dangan Sulam Ngapak. Namun untuk memenuhi kebutuhan itu sangat membutuhkan tenaga kerja yang sangat banyak dan membutuhkan materi- materi dari Sulam Ngapak yang harus dikuasai oleh setiap pengrajin. Maka dari itu hingga sat ini permintaan tersebut belum dapat terpenuhi.

"Untuk luar negeri Singapura, Malaysia dan Belgia sementara itu. Tapi diharapkan juga produknya ini terus bekembang tidak hanya itu saja, supaya nilai daripada Sulam Ngapak itu tidak berhenti pada di tas dan krudung. Tapi juga kepada banyak jenis fasion ke baju pesta sampai ke baju pengantin dan lain lain," ujarnya.

Produk sulam ngapak BanyumasProduk sulam ngapak Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Saat ini, produk yang banyak diminati berupa kerudung dan tas, karena tas yang dikemas menggunakan Sulam Ngapak ini menjadi sangat bernilai tinggi dari sisi penjualan. Bahan baku yang digunakan untuk membuat tas Sulam Ngapak juga diakuinya tidak asal menggunakan bahan baku, meskipun pada awalnya dirinya menggunakan karung goni untuk membuat tas sulam ngapak. Namun saat ini karena kebanyakan permintaan dari para pembeli agar bahan dasar dalam membuat tas menggunakan kain import atau kain pabrikan.

"Permintaan dari pada costumer itu kebanyakan menggunakan kain impor sebagai bahan baku ataupun kain lokal yang pabrikan. Jadi kita sekarang usahakan menggunakan kain polos yang kita gambar lagi menggunakan Sulam Ngapak itu sebagai motif," jelasnya.

Hak paten

Untuk harga tas yang telah dimotif menggunakan Sulam Ngapak setidaknya di lokal daerah Banyumas seniri dapat dihargai mulai dari harga terendah Rp 250 ribu. Namun jika telah masuk kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang paling rendah mencapai Rp 350 ribu.

"Kenapa menjadikan nilai harganya bertambah, karena memang tingat kesulitan pengerjaan dalam Sulam Ngapaknya itu, kemudian dari sisi seninya juga, kemudian dari sisi kompetisinya karena tidak ada daerah lain yang memproduksi ini, kemudian memang ini kan khusus memang dilahirkan dan didesain sama orang Banyumas," ungkapnya.

Dari ide dan kreativitasnya tersebut, dirinya pun mengaku saat ini telah mengajukan hak paten semenjak setahun yang lalu. Meskipun demikian, untuk mengembangkan Sulam Ngapak dan membantu masyarakat Banyumas, dirinya terus melakukan pemberdayaan kepada masyarakat di desa-desa yang ada di Banyumas. Bahkan dirinya diminta oleh Kementerian maupun Pemerintah kabupaten Banyumas untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat yang ada di desa selainuntuk menyerap banyak tenaga kerja, juga untuk meningkatkan hasil produksinya.
Produk sulam ngapak BanyumasProduk sulam ngapak Banyumas Foto: Arbi Anugrah/detikcom

Setidaknya sudah setahun terakhir ini 1.000 orang lebih dari 40 desa dari total 300 desa di Kabupaten Banyumas telah dilatih oleh Cocos Trisada untuk mengembangkan Sulam Ngapak sebagai salah satu pemberdayaan masyarakat melalui bidang hendycraf. Dia berharap selain mengembangkan sisi kreatifitas Sulam Ngapak, kedepannya Sulam Ngapak juga dapat menjadi suatu icon tersendiri bagi Kabupaten Banyumas, dimana saat orang datang ke Banyumas selain mencari makanan khas mendoan, tapi juga ada produk dari Sulam Ngapak.

"Jadi kita berharap dengan dukungan banyak dari pemerintah, ini bisa menjadi satu icon produk hendicraf untuk Kabupaten Kanyumas. Jadi saat ada orang luar datang baik itu orang Jakarta atau dari manapun, mereka paham kalau ke Banyumas itu produksi yang ada itu Sulam Ngapak. kalau orang ke Tasikmalaya ketemunya bordir, kalau ke Yogyakarta atau ke Solo ketemunya batik, diharapkan ketika orang luar datang mereka bisa belanja untuk produk-produk Sulam Ngapak yang aplikasinya banyak," tuturnya. (hns/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed