Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Nov 2018 19:27 WIB

Kisah Perajin Gerabah Cirebon Jatuh Bangun Pasarkan Produk

Sudirman Wamad - detikFinance
Foto: Sudirman Wamad/detikcom Foto: Sudirman Wamad/detikcom
Cirebon - Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat terkenal sebagai kampung gerabah. Tak sedikit masyarakat desa tersebut bekerja sebagai perajin gerabah.

Salah satunya Miskad (73). Kendati sudah sepuh, Miskad tetap berhasrat untuk terus berkreativitas. Miksad masih aktif membuat gerabah berbagai jenis. Miskad mulai belajar membuat gerabah pada era Presiden Soekarno.

"Belajar dari orang tua saya. Zaman masih penjajahan dulu," ucap Miskad saat ditemui di kediamannya di Blok Kebagusan, Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jumat (23/11/2018).

Kampung gerabah di CirebonKampung gerabah di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikcom

Miskad mengaku produksi gerabah sempat mengalami kejayaan sekitar tahun 1980 hingga 1990. Di era tersebut, perekonomian perajin gerabah meningkat cukup signifikan.

"Penjualannya itu satu sampai dua truk per bulannya. Pemesannya juga dari berbagai daerah, ada dari Jakarta, Bandung, dan lainnya. Dulu enak, banyak pesanan," kata Miskad.

Kondisi tersebut diakui Miskad bertolak belakang kondisi saat ini. Penjualan gerabah mulai mengalami penurunan sekitar 1990 hingga saat ini, namun Miskad mengaku harus tetap memproduksi gerabah. Alasannya agar perajin gerabah tak punah.

Kampung gerabah di CirebonKampung gerabah di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikcom

Miskad tak menampik banyak masyarakat Sitiwinangun yang berhenti menjadi perajin gerabah. Lantaran penjualan gerabah lesuh.

"Sekarang pembeli gerabah jarang. Ada atau tak ada yang memesan saya tetap membuat gerabah, biar tidak punah. Kedua ada stok, kalau ada yang memesan," kata Miskad seraya menunjukkan fotonya bersama seorang pelanggan asal Solo, Jawa Tengah.

Miskad menceritakan pelanggan asal Solo tersebut merupakan pelanggan setianya yang hingga kini masih sering memesan. Setiap hari, Miskad mengaku hanya mampu memproduksi satu gerabah, bentuk celengan maupun gentong.

"Tenaga sudah mulai berkurang, terus mata juga sudah terganggu penglihatannya. Paling banyak ya bikin dua sehari itu, biasanya sih satu," ucapnya.

Kampung gerabah di CirebonKampung gerabah di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikcom

Miskad menggunakan teknik hand wheel dalam setiap pembuatan gerabahnya. Miskad mengatakan untuk proses pembakaran gerabah bisa memakan waktu selama satu hingga dua jam.

"Pembakarannya sebulan sekali, agar lebih efektif. Jadi yanga sudah jadi dikumpulin dulu, terus dibakar," ucapnya.

Harga kerajinan gerabah yang dibuat Miskad dibandrol dari harga Rp 15.000 hingga Rp 750.000. Sementara itu, dikatakan Miskad, untuk modal pembuatan kerajinan gerabah bisa mencapai Rp 1 juta. Modal tersebut, lanjut Miskad, dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan seperti pasir, tanah liat, jerami, karet ban, dan lainnya.

"Kita harus modal dulu buat beli tanahnya, pasirnya, terus jerami buat pembakaran, dan lainnya. Ya bisa digunakan selama setang tahun lah paling lama bahan-bahannya," katanya.

Membangkitkan kejayaan gerabah

Terpisah, Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Desa Sitiwinangun Wastani Bajuri mengatakan di era tahun 1980 hingga 1990 mayoritas masyarakat Desa Sitiwinangun menjadi perajin gerabah. Para perajin gerabah itu tersebar di empat blok, dari lima blok yang berada di Desa Sitiwinangun.

"Sehari itu kita bisa kirim lima truk minimalnya waktu masa kejayaan itu. Pengirimannya ke Jakarta, Bandung, dan lainnya. Sekarang sudah beda," kata Wastani saat ditemui di Balai Desa Sitiwinangun.

Wastani menceritakan salah seorang wakil presiden di era kepemimpinan Soeharto, yakni Ada Malik sempat berkunjung ke Sitiwinangun. Kejayaan kerajinan gerabah, dikatakannya, menarik perhatian pemerintah.

"Buktinya itu sampai Pak Adam Malik datang ke sini untuk melihat produksi kerajinan gerabah," kata Wastani.

Kampung gerabah di CirebonKampung gerabah di Cirebon Foto: Sudirman Wamad/detikcom

Namun, kejayaan kerajinan gerabah hanya bertahan sekitar satu dekade. Wastani menceritakan kejayaan kerajinan gerabah Sitiwinangun mulai runtuh lantaran digempur oleh produksi plastik, seperti gentong plastik, piring plastik, dan lainnya. Penjualan gerabah mulai lesuh.

"Sekarang perajinnya sekitar 100 orang. Dulunya banyak, karena sepi pembeli," ucapnya.

Pihak desa dna perajin mulai memikirkan strategi baru dalam meningkatkan kembali penjualan gerabah. Tujuannya, lanjut dia, agar kerajinan gerabah Sitiwinangun tak punah. Pasalnya, menurut Wastani, gerabah Sitiwinangun memiliki keterkaitan dengan sejarah penyebaran Islam.

"Bergerak mulai 2009 lalu, anak-anak muda kita kumpulkan. Kita membuat suatu konsep tentang kerajinan gerabah yang mengarah pada seni, jadi bukan hanya produksi untuk alat-alat rumah tangga," katanya.

Kerajinan gerabah yang lebih mengarah pada karya seni seperti patung, bingkai foto, dan lainnya, menurut Wastani, solusi agar kerajinan gerabah bisa bersaing dengan produk plastik. Pasalnya, lanjut dia, kerajinan gerabah tersebut tak bisa ditiru oleh produk plastik. Selain itu, lanjut dia, pihak desa tengah mencanangkan wisata edukatif kerajinan gerabah.

"Kita juga mulai menggarap wisata kampung gerabah. Itu dimulai sejak 2016 lalu. Setiap bulannya ada aja kunjungan wisatawan, minimal lima rombongan yang datang," kata Wastani. (hns/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed