Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 03 Des 2018 19:41 WIB

Dulu Jualan Keliling, Kini Pria Ini Bisnis Alat Pertanian Tradisional

Pradito Rida Pertana - detikFinance
Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance
Gunungkidul - Warga Gunungkidul masih menggunakan alat pertanian tradisional. Kondisi ini yang membuat pandai besi di Dusun Kajar, KarangTengah, Wonosari, Gunungkidul, tetap bertahan.

Salah satunya adalah Marmin (60) yang hingga saat ini masih memproduksi alat pertanian tradisional. Marmin terjun ke bisnis alat pertanian tradisional dimulai dari berdagang keliling.

Pria yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini memang sejak dahulu bercita-cita sebagai pedagang alat pertanian. Meski terwujud, seiring berjalannya waktu akhirnya ia memutuskan untuk berhenti berjualan alat pertanian secara berkeliling.

Pandai besi di GunungkidulPandai besi di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance

"Tahun 1985 saya berhenti jualan keliling, dan saya memutuskan mulai memproduksi alat pertanian dengan modal dari uang hasil jualan selama bertahun-tahun," kata Marmin saat ditemui di kediamannya, Senin (3/12/2018).

Ditengah-tengah wawancara terdengar suara besi yang saling beradu. Penasaran dengan asal suara tersebut, Marmin mengajak ke bagian belakang rumahnya. Memasuki workshop dengan luas sekitar 10x5 meter, terasa suhu panas menyelimuti.

Selain itu, tampak pula beberapa orang tengah membuat alat pertanian dengan memukulkan palu ke arah sepotong besi yang sebelumnya dipanaskan pada suhu tertentu. Tak hanya dijadikan tempat menempa besi, bengkel tersebut juga menjadi tempat pembuatan gagang alat pertanian seperti cangkul, sabit, parang dan gathul.

Pandai besi di GunungkidulPandai besi di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance

Tempat pembuatan alat pertanian dibagi menjadi dua bagian, yaitu Pertama tempat untuk menempa besi-besi dan tempat mengasah hasil tempaan. Kedua, tempat membuat pegangan dari kayu.

"Ada 16 orang yang bekerja di sini, 16 orang itu 7 bertugas menempa besi dan 9 orang bertugas mengamplas, membuat gagang alat dari kayu, memotong besi, dan mengelas," ucapnya.

Banyaknya pekerja yang dilibatkan diakui Marmin karena pembuatan alat pertanian memakan waktu yang tidak sebentar. Hal itu karena bahan baku besi yang berukuran besar perlu dipotongi terlebih dahulu sesuai kebutuhan. Setelah itu, besi dipanaskan ke dalam tungku dan selanjutnya mulai ditempa sesuai orderan.

Pandai besi di GunungkidulPandai besi di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance

"Untuk bahan bakunya yang bagus itu besi bekas rel kereta, tapi karena sulit didapat kadang pakai bekas per dan drum. Kalau untuk gagangnya yang bagus pakai kayu sonokeling," katanya.

Penghasilan dari bisnis tersebut memang tidak menentu, namun jika memasuki musim penghujan seperti sekarang banyak order yang masuk. Menurutnya hal itu jelas menambah omzet penjualan alat pertanian tradisional miliknya. Disinggung mengenai omzet yang didapat, Marmin sempat enggan menyebutkan secara rinci.

"Dibanding hari biasa ya jelas ada peningkatan, rata-rata sekali pengiriman (Satu seri) itu omzet kotornya sekitar Rp 40an juta," ucapnya.

Pandai besi di GunungkidulPandai besi di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance

Disinggung mengenai sampai kapan ia akan mempertahankan usaha produksi alat pertanian tradisionalnya, Marmin menyebut akan selamanya menekuni usahanya tersebut.

"Ya sampai seterusnya pokoknya, karena sudah cita-cita dari dulu (Jualan alat pertanian). Selain itu, saya menganggap alat pertanian itu memiliki penting dalam proses bercocok tanam setiap petani, karena dianggap penting ya jadinya harus tetap ada (produksi alat pertanian tradisional)," pungkasnya.

Pandai besi di GunungkidulPandai besi di Gunungkidul Foto: Pradito Rida Pertana/detikFinance
(hns/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
CNN ID World Now
×
World Now
World Now Selengkapnya