Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 12 Mar 2019 13:18 WIB

Bermodal Lem Korea, Pemuda Ini Sulap Sampah Pantai Jadi Kerajinan Unik

Raras Prawitaningrum - detikFinance
Ahmad Kosasih, pengrajin limbah di Pulau Tidung (Foto: Raras Prawitaningrum/detikcom) Ahmad Kosasih, pengrajin limbah di Pulau Tidung (Foto: Raras Prawitaningrum/detikcom)
Jakarta - Bagi kebanyakan warga Pulau Tidung, limbah ranting yang hanyut di pantai atau batok kelapa di sepanjang pasir pantai mungkin tak berarti. Namun tidak bagi Ahmad Kosasih. Pria berusia 28 tahun asal Karawang yang telah menetap di Pulau Tidung sejak 2012 ini membuat limbah tersebut menjadi pundi-pundi rupiah.

Jika berkunjung ke Jembatan Cinta, Pulau Tidung, pasti akan melewati galeri atau toko mini milik Ahmad. Jika dilihat dari depan, toko ini dipenuhi aneka aksesori yang dibuat dari batok kelapa dan kerang. Dari limbah, Ahmad mengkreasikan hasil pungutannya menjadi buah tangan bagi wisatawan.

detikFinance berkesempatan berbincang-bincang dengan Ahmad saat mengikuti ekspedisi Bahtera Seva bersama tim Teras BRI Kapal Bahtera Seva I di Kepulauan Seribu. Ahmad mengungkapkan bermodalkan satu lem korea seharga Rp 10 ribu, ia bisa menjual berbagai pernak-pernik hingga ratusan ribu rupiah.

"Modalnya sih nggak banyak, ya cuma lem korea itu aja. Yang lumayan kan proses pembuatannya, idenya juga. Ya seminggu kalau ramai saya bisa dapat Rp 500 ribu modal lem korea Rp 50 ribu," ujar Ahmad saat ditemui detikFinance, Kamis (21/2/2019) lalu.


Adapun pernak-pernik yang dijual Ahmad antara lain pajangan meja berbentuk botol berisi pasir warna-warni hingga aneka kerajinan dari batok kelapa seperti perahu, teko, dan celengan. Ada juga tempat pensil yang dibuat dari kaleng bekas berhiaskan kerang-kerang cantik.

"Semua bahan saya ambil di pantai, ya biasanya batok kelapa yang sudah jatuh, ranting dan bambu yang hanyut di pantai, sampai botol dan kaleng bekas yang dibuang sembarangan di pantai. Limbah di pantai kan berbahaya, ya saya akali aja jadi yang bermanfaat," katanya.

Bermodal Lem Korea, Pemuda Ini Sulap Sampah Pantai Jadi Kerajinan UnikFoto: BRI

Untuk hiasan kerang, Ahmad menjualnya dari rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu, Sementara kapal dari batok kelapa dihargai Rp 35 ribu, celengan Rp 35 ribu, aneka teko di bawah Rp 50 ribu. Ada juga kapal pinisi besar yang dihargai hingga Rp 500 ribu.

Pria yang memiliki satu anak ini mengungkapkan sehari ia bisa membuat puluhan kerajinan. Untuk kerajinan batok kelapa, prosesnya memakan waktu yang cukup lama karena harus dikupas, digosok, dan diamplas agar licin. Sementara untuk engsel atau hiasannya ia menggunakan limbah ranting pohon.


"Saya bikin usaha kayak gini biar wisatawan punya sesuatu pulang dari Pulau Tidung karena kerajinan dari tangan belum ada di sini," ujar Ahmad.

Ke depannya, Ahmad yang pernah diajak Bupati Kepulauan Seribu untuk mengisi pameran UMKM ini mengatakan ia akan membuat oleh-oleh khas Pulau Tidung yakni pajangan dinding berupa foto yang ditransfer ke media kayu.

Ikuti perjalanan detikcom bersama Teras BRI Kapal Bahtera Seva di Ekspedisi Bahtera Seva. (idr/hns)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed