Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 21 Mar 2019 11:26 WIB

Cerita Redawati Ubah Kampungnya Jadi Pusat Kerajinan Kain Tapis

Akfa Nasrulhak - detikFinance
Foto: Akfa Nasrulhak Foto: Akfa Nasrulhak
Jakarta - Lampung memiliki produk kerajinan yang khas yakni kain tenun tapis. Kain tenun ini dihias dengan aneka motif dari sulaman benang emas atau benang perak.

Kain perlambang kebangsawanan ini dibuat dengan mengandalkan alat tenun tradisional yang bisa dibuat untuk jilbab, peci, tas, selendang, topi, dompet dan masih banyak kreasi lainnya.

Salah satu yang dikenal sebagai kampung tapis di Lampung adalah Desa Negeri Kraton, Kecamatan Negeri Kraton, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Santernya kampung ini sebagai pusat kerajinan kain tapis tak lepas dari peran Redawati (40) yang menjadi koordinator sulam tapis di desa tersebut. Siapa sangka dulunya Redawati adalah seorang buruh tapis.

"Satu hari itu cuma dibayar Rp 1.000, jadi buruh lah," ujar Redawati saat ditemui wartawan di rumahnya di Desa Negeri Kraton, Rabu (20/3/2019).


Tak ingin berlama-lama bergantung pada orang lain. Redawati pun membuka sendiri usaha sulam tapis dengan modal awal Rp 2,5 juta. Ia juga memiliki niat untuk memberdayakan masyarakat di sekitarnya.

"Memang cerita ngalirnya sih, saya kan dari dulu tinggal di Bandar Lampung. Saya ingin kampung saya ini biar bagus. Bermula tahun 2014, waktu itu saya mengajak 1-2 orang saja untuk menapis," ujarnya.

Sejak memulai usahanya pada tahun 2014, dengan modal sendiri. Redawati juga mengajak warga sekitar untuk sama-sama maju, hingga akhirnya dibantu dari pihak pemerintah.

"Dan sekarang saya juga sudah buat koperasi sekecamatan. Nama koperasinya Pesona Tapis Mandiri, namun masih belum berbadan hukum. Jadi belum turun aja," ujarnya.


Pada awal merintis usaha tersebut, tantangan tentu menjadi hal yang lumrah bagi pengusaha. Banyak yang meragukan usahanya maju, bahkan hingga mencibir hasil karyanya yang dinilai tidak menarik.

"Tantangannya banyak banget. Cibiran orang itu banyak. Ah gak mungkin mau maju, kita jual ini ah jelek, tapis ini jelek. Tapi ternyata banyak juga orang masuk ke kampung kita," ujarnya.

Selain tantangan mental, tantangan lainnya yang tak kalah penting adalah sulitnya dana untuk pengembangan. Hingga akhirnya pada tahun 2016, Redawati pun mendapatkan pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya dari Jasa Raharja. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bina Lingkungan.

"Kalau bermula dibantu Jasa Raharja awalnya saya dikenalkan dengan bapak Roni di dinas koperasi provinsi. Saya disuruh bikin proposal dan ajukan ke Jasa Raharja, saya coba dan akhirnya ditanggap baik. Dari situ saya ambil kemudian saya kembangkan lagi, boleh nggak anak buah saya juga ingin mengajukan lagi. Nah waktu itu ada sekitar 7 orang yang mengajukan juga ke Jasa Raharja, tapi harus lewat saya dulu. Dari Jasa Raharja dapat modal Rp 15 juta," tambahnya.

Tak hanya memberikan permodalan, Jasa Raharja Lampung juga turut membantu di bidang pemasaran dan juga turut mempromosikannya lewat berbagai media, seperti dengan mengikutkannya dalam pameran-pameran. Untuk membuat lebih berkembang Redawati pun memanfaatkan relasi dengan banyak orang.

"Bahkan ada waktu itu pas saya ikut pameran ekspor impor di ICE BSD, ada orang Australia yang beli kain saya dengan harga Rp 9 juta," ujarnya.

Untuk varian produk kain tapis tersebut Redawati menjual dari harga mulai Rp 50 ribu hingga jutaan. Sehingga dalam waktu satu bulan, ia bisa mengantongi omzet mulai dari Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Cerita Redawati Ubah Kampungnya Jadi Pusat Kerajinan Kain Tapis Foto: Akfa Nasrulhak


Omzet tersebut memang selain mengandalkan pemasaran di lokal, ia juga memasarkan ke berbagai daerah di Nusantara, seperti Papua, hingga ke luar negeri.

Dalam memasarkannya, ia mengandalkan media sosial untuk mempromosikan produknya. Sehingga ada relasi TKI di luar negeri, bahkan menjadi reseller untuk di jual di luar negeri.

"Kalau dari penjualan online sendiri, bisa sampai ke Singapura, waktu itu hampir Rp 100 juta yang masuk ke sana. Termasuk ke Malaysia, Brunei, Amerika dan Hong Kong," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Jasa Raharja Lampung, Suratno mengatakan UKM yang telah dibina di lampung sendiri total sekitar ada 800-an sejak berdirinya Jasa Raharja Lampung. Ia menjelaskan, program tersebut tidak seperti halnya program CSR seperti yang dilakukan oleh BUMN lain.

"Sebenarnya ini bukan CSR. Kalo CSR itu, tunduk pada UU Nomor 40 Tentang Perseroan yang lebih difokuskan pada perusahaan yang memiliki sumber daya alam. Seperti pertambangan. Nah Jasa Raharja tidak punya CSR, karenanya melakukan Program Bina Lingkungan," ujarnya.

Suratno menambahkan, Program Bina Lingkungan ini ada 7 fitur, di antaranya di bidang bencana alam, bidang peningkatan pendidikan, kesehatan, sarana ibadah, sarana umum, ada juga pembinaan seperti UKM untuk peningkatan kapasitas.

"Pembinaan ini termasuk pembiayaan juga dengan meminjamkan modal. Nilainya, ya kebijakannya kalau untuk cabang kan maksimal Rp 20 juta. Tapi kalau ingin lebih dari Rp 20 juta, misalkan kalau visibilitasnya usaha kecil ini sampai Rp 100 juta, maka dari kantor cabang mengusulkan ke pusat untuk diputuskan di direksi sana," jelasnya. (mul/mpr)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed