Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 30 Apr 2019 09:45 WIB

Berhenti Jadi Guru, Pria Ini Raup Cuan dari Batu Pijakan Taman

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: Dok. Setapak 9 Foto: Dok. Setapak 9
Jakarta - Berawal dari kegemarannya berkebun membuat Joni Martono mampu menghasilkan cuan dari bisnis batu pijakan taman (stepping stone). Pria yang pernah berprofesi sebagai guru seni rupa di SMP Yogyakarta ini merintis usahanya yang diberi nama Setapak 9 pada 2015.

Keinginannya membesarkan usaha yang juga merupakan hobinya membuat Joni rela melepas pekerjaannya sebagai guru. Alasannya, agar ia lebih fokus membesarkan bisnis Setapak 9.

"Awalnya saya kan aslinya guru seni rupa. Sekarang udah fokus, banyak lah namanya usaha kalau bercabang susah berkembang," tutur Joni kepada detikFinance, Senin (29/4/2019).

Awalnya, ia membuat pijakan taman menggunakan kelereng keponakannya yang ada dan tidak lagi digunakan. Percobaan awal ini ternyata tak berhasil membuat pijakan taman yang indah dan akhirnya Joni menggunakan material batu.

Batu Pijakan Taman Setapak 9Batu Pijakan Taman Setapak 9 Foto: Dok. Setapak 9


Menurutnya, pijakan taman tidak hanya sekadar batu. Ia menjadikan karyanya sebagai media untuk edukasi dan bermimpi.

Joni yang juga membuat wall decor atau hiasan dinding masih ingat betul pesanan pertama batu pijakan taman. Pesanan dari Malang, Jawa Timur ia ladeni.

"Dari situ buat akun Instagram dan orang di Malang tertarik kalau saya jual," kata Joni.



Batu pijakan taman yang dibuat Joni memiliki diameter 30 cm dengan ketebalan 2 cm. Ini lebih tipis dibandingkan pijakan taman pada umumnya agar bobotnya tidak terlalu berat.

Saat ini, ada ratusan motif batu pijakan taman yang bisa dipesan di Setapak 9. Pembeli juga bisa memesan motif yang diinginkan alias custom kepada Joni.

"Saya memang 40% custom karena konsep saya dengan Setapak atau pijakan itu bisa mengingat atau mewujudkan cita-cita seseorang," tutur Joni.

Joni menceritakan proses pembuatan pijakan taman di Setapak 9. Pria yang tinggal di Yogyakarta ini menggunakan bahan utama semen dan juga batu alam. Batu kemudian dilapisi dengan resin agar lebih awet.

"Pijakan prosesnya yang jelas seperti pada umumnya adonan semen ada campuran khususnya," kata Joni.

Untuk membuat pijakan taman, Joni dibantu dua orang lainnya. Namun, kini ia tengah fokus membuat galeri di tempat tinggalnya, Yogyakarta. Kehadiran galeri diharapkan bisa mendongkrak penjualannya menjadi 15 buah per hari meski produksinya kini tertahan.

"Sekarang tiga orang dengan saya. Saya saat ini bikin galeri, produksinya agak seret karena sedang bangun galeri," tutur Joni.

Batu Pijakan Taman Setapak 9Batu Pijakan Taman Setapak 9 Foto: Dok. Setapak 9




Sebelumnya, Joni mampu menjual pijakan taman sekitar 50 buah per bulannya. Batu tersebut ia sudah dikirim ke beberapa kota besar di Indonesia. Pijakan taman Setapak 9 dijual dengan harga Rp 150.000 per buahnya dengan keunggulan motif yang beragam serta bobotnya yang ringan dan kuat.

Dengan penjualan 50 buah per bulannya dan harga jual di kisaran kala itu Rp 70.000-90.000 per buah, Joni mengantongi omzet sekitar Rp 4,5 juta per bulannya. Meski tak banyak, Joni puas dengan usahanya tersebut.

"Pernah itu 50-an bisa kejual. Dulu masih Rp 70.000-90.000," ujar Joni.

Bagi yang tertarik memesan pijakan taman bisa langsung berkunjung ke Instagram @setapak9 (https://www.instagram.com/setapak9/?hl=en) (ara/eds)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com