Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 18 Jul 2019 22:00 WIB

Tas Kayu Made In Bantul Ini Diincar Konsumen Mancanegara

Pradito Rida Pertana - detikFinance
Foto: Tas Kayu Made In Bantul (Pradito Rida Pertana/detikFinance) Foto: Tas Kayu Made In Bantul (Pradito Rida Pertana/detikFinance)
Bantul - Bahan baku pembuatan tas ternyata tidak selalu identik dengan kulit, polyester hingga kanvas. Pasalnya, di Bantul ada produsen tas yang menggunakan kayu sebagai bahan baku utama pembuatan tas. Bahkan, pemasaran tas berbahan unik ini telah merambah hingga pasar mancanegara.

Adalah Dody Andri, pria berumur 27 tahun ini menceritakan awal mula penggunaan bahan baku kayu sebagai pembuat tas. Menurutnya, hal itu berawal saat medio 2014, di mana saat itu ia melihat banyaknya jam tangan yang terbuat dari kayu.

Melihat hal tersebut, Dody lantas berkeinginan untuk ikut memproduksi jam tangan dari bahan kayu bersama beberapa rekannya. Tak hanya jam tangan, Dody juga memproduksi speaker yang sebagian besar menggunakan bahan baku kayu.

"Tapi karena saingannya (produsen jam tangan kayu) banyak, akhirnya kan harus buat inovasi dan kepikiranlah untuk coba produksi tas dari bahan kayu," ujarnya saat di temui di rumah produksi Ruaya, RT. 4, Dusun Dadapbong, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Bantul, Yogyakarta Kamis (18/7/2019).

Tas Kayu Made In Bantul Ini Tembus Pasar EksporFoto: Tas Kayu Made In Bantul (Pradito Rida Pertana/detikFinance)

Lulusan Fakultas Teknik Sipil, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) ini melanjutkan, untuk mewujudkan keinginannya itu, ia pun mulai mengajak 7 orang yang sudah ahli di bidang pertukangan kayu untuk melakukan produksi. Akhirnya, Dody memproduksi tas berbahan kayu, baik dari kayu akasia, kayu munggur hingga kayu mindi.

"Nah, setelah kita riset ternyata kalau pakai kayu akasia itu bobotnya jadi lebih berat. Karena itu, agar bobotnya lebih ringan saya pakai bahan baku dari kayu mindi saja," ucapnya.

Terlebih, kayu mindi sendiri terbilang mudah didapat, khususnya di sekitar Kabupaten Bantul. Sedangkan untuk harga per kubik kayu mindi sendiri, Dody menyebut harganya mencapai Rp 1,5 juta.

"Sedangkan dari segi biaya produksi menggunakan kayu mindi lebih terjangkau, itu karena kayu mindi punya serat yang cukup cantik, jadi penyelesaian akhirnya hanya dipernis dan ditambahi tali dari bahan kulit dan besi saja," ujar Dody.

Setelah mantap dengan produksi tasnya, Dody mulai mengikuti berbagai pameran furnitur dan memproduksi tas kayunya dengan nama Ruaya. Pemilihan nama Ruaya sendiri bukan tanpa alasan.

Dody menjelaskan nama itu diambil dari siklus reproduksi ikan cakalang. Mengingat semasa hidupnya, ikan cakalang terus bergerak agar darah di tubuhnya tidak membeku. Makna itulah yang ia terapkan dalam produksi kerajinan kayunya.

"Maksudnya agar kita terus tergerak untuk berinovasi, saat ini selain tas dari kayu kita juga produksi tempat menyimpan kabel headphone dan kerajinan unik lainnya, semuanya berbahan kayu mindi," ucapnya.

Tas Kayu Made In Bantul Ini Tembus Pasar EksporFoto: Tas Kayu Made In Bantul (Pradito Rida Pertana/detikFinance)

Terkait pemasaran tas kayu produksinya, Dody mengaku masih mengandalkan sistem daring dan mengikuti berbagai pameran. Menurutnya, dari ikut serta pameran itu tas kayu miliknya mulai dilirik pasar mancanegara.

"Selain ikut pameran di dalam negeri, dulu juga pernah ikut pameran di luar negeri, seperti di Prancis, Rusia, Korea Selatan dan beberapa negara ASEAN. Dari pameran itu kita mulai mendapatkan pesanan, namun pesanan yang sifatnya masih pribadi," katanya.

"Sedangkan untuk pemasaran lokal, saat ini kita masih pakai sistem online," imbuh Dody.

Dody menuturkan, setiap tas kayu produksinya memiliki harga yang bervariasi. Menurutnya, penentuan harga tergantung dari model tas, seperti tas jinjing hingga tas punggung.

"Harganya bervariasi ya, paling murah Rp 600 ribu dan paling mahal Rp 1,2 juta. Kalau mau pesan sesuai selera juga bisa dan biayanya beda lagi," katanya.

Tas Kayu Made In Bantul Ini Tembus Pasar EksporFoto: Tas Kayu Made In Bantul (Pradito Rida Pertana/detikFinance)

Pria berambut gimbal ini menambahkan, saat ini ia telah memiliki 7 karyawan yang terdiri dari perajin kayu hingga desainer tas. Bahkan, ia turut melibatkan perajin kayu asal Dusun Dadapbong dalam produksi tas kayunya tersebut.

"Alasan melibatkan warga Dusun (Dadapbong) agar perekonomian mereka semakin terangkat dan bisa mengetahui inovasi dalam memanfaatkan kayu sebagai bahan produksi," ucap Dody.

Simak Video "Berorientasi Ekspor, Jokowi Goda China untuk Investasi"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
​​​Promosikan bisnis kamu, ​​​detik ini juga​​ di adsmart.detik.com
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com