Pria Ini Kantongi Rp 30 Juta dari Antar Jemput-Kirim Barang Ala Ojol

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 08:50 WIB
Cardboard boxes on the door mat near the entrance door
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Siapa sangka usaha di bidang jasa tetap menghasilkan cuan yang cukup menggiurkan. Penyediaan jasa seperti Gojek dan Grab menjadi peluang usaha yang menguntungkan.

Namun demikian pengoperasian layanan dua perusahaan besar tersebut masih terbatas atau belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini pun dimanfaatkan oleh Arif Ulin Niam, pria berusia 28 tahun ini mendirikan Kopdar Kudus.

Kopdar Kudus merupakan sebuah usaha jasa yang melayani kiriman kilat seperti antar jemput dokumen, paket barang, maupun undangan. Jasa belanja juga bisa dilakukan, seperti belanja kebutuhan di toko, mal, pasar, tiket bioskop, bus, kereta api, pesawat, pembayaran tagihan, dan sebagainya.

Lalu ada jasa antar jemput, seperti jemput anak ke sekolah, bimbel atau penumpang lainnya. Pada layanan ini juga bisa melakukan pengambilan barang yang ketinggalan, seperti kunci, STNK, SIM, KTP, paspor. Selanjutnya ada jasa delivery, seperti membelikan makanan dan minuman di restoran.

Arif menceritakan, awal mulai membangun usaha ini sejak September 2016. Pada saat itu, layanan ojek online belum tersedia di kota Kudus, Jawa Tengah.

"Dulu Grab/Gojek mulai booming-booming-nya di kota besar, akan tetapi di kota Kudus sendiri belum ada usaha sejenis ini," kata dia kepada detikcom, Rabu (30/9/2020).

Hanya bermodalkan smartphone, Arif pun langsung membuat akun Kopdar Kudus di beberapa media sosial seperti Instagram dan Facebook. Pada akun itu, dirinya langsung mempromosikan usaha jasanya.

Pada awal mula menjalankan bisnis ini, dirinya mengaku berhasil mengantongi penghasilan sekitar Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta per bulannya. Sebelum menekuni usaha ini, Arif mengaku bekerja sebagai pegawai swasta dengan gaji di atas UMR.

Seiring Kopdar Kudus semakin dikenal oleh masyarakat setempat, dirinya pun memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan fokus menjalankan usaha yang telah dirintisnya ini.

Pria yang akrab disapa Colo ini mengaku sangat berat menjalani usahanya sampai kepada titik yang seperti sekarang. Sebab, usahanya sampai saat ini belum memiliki aplikasi khusus atau masih mengandalkan aplikasi WhatsApp.

"Keluh kesahnya banyak banget, dari mulai menawarkan jasa, mengatur waktu ketika habis kerja atau pada saat libur langsung memberikan service jasanya dalam kondisi hujan atau panas," jelasnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2