Kisah Pegawai Bank Banting Setir Bisnis Tanaman Hias, Omzet Rp 300 Juta

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 31 Des 2020 20:52 WIB
Bisnis Tanaman Hias di Tengah Pandemi
Foto: Dok Pribadi/Ray Garden: Bisnis tanaman hias di tengah pandemi
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah menjadi pupuk yang sangat ampuh bagi bisnis tanaman. Berbagai jenis tanaman hias yang booming membuat para pelaku usaha tanaman hias mendulang keuntungan berlipat ganda

Fany Irawan Putri misalnya, dia merupakan pendiri sekaligus pemilik dari Ray Garden, sebuah toko berkonsep one stop shopping untuk keperluan berkebun di rumah. Mulai dari tanaman hias, pot terakota, pupuk, media hingga printilan kebutuhan berkebun lainnya. Omzet-nya bahkan bisa mencapai ratusan juta selama pandemi.

Fany sendiri bukan penjual tanaman dadakan yang muncul ketika hobi bercocok tanam di rumah booming. Wanita ini sudah menekuni bisnis tanaman hias sejak 2017.

Sebelumnya dia merupakan salah satu karyawan di BNI, kebetulan ayahnya yang memiliki hobi tanaman. Pada 2016 ayahnya meninggal, Fany pun berinisiatif untuk mengurusi kebun tanaman ayahnya.

"2017 saya iseng coba jualan, karena dulu teman kantor saya di BNI ada yang minta, 'mau dong tanaman kecil buat meja, gue bayar deh'. Ya akhirnya aku bikin tanaman kecil sama potnya dijual Rp 60 ribu," tuturnya kepada detikcom.

Setelah mengurusi tanaman ayahnya, Fany pun juga kepincut dengan hobi itu. Dia mulai belajar mencacah tanaman hingga rajin datang ke pameran tanaman. Tanpa sadar tanamannya sudah banyak.

Akhirnya di Oktober 2017 Fany mulai posting koleksi tanamannya di akun Instagramnya. Fany mulai menjajal berjualan tanaman hias melalui media sosial. Berjalan selama 1 bulan, sang suami memberikan dia masukan agar mencoba untuk berjualan pot terakota.

"Aku sharing ke suami, lucu juga bisnis sampingan tanaman karena hobi dan passion. Akhirnya suami bilang kalau mau lebih menghasilkan lagi coba main pot terakota karena belum banyak," kenangnya.

Fany yang doyan menggambar pun langsung merealisasikan ide suaminya itu. Berbekal desain yang telah dia buat, Fany datang ke perajin pot terakota di Purwakarta. Saat itu dia memesan hingga 400 pot. Benar saja dalam waktu 2 minggu 400 pot itu ludes terjual.

Fany pun berulang kali membuat desain pot terakota dengan beberapa perajin di berbagai daerah. Mulai dari Purwakarta, Bogor hingga Yogyakarta pernah dia sambangi untuk mencari perajin.

Sampai akhirnya dia mendapatkan perajin yang mau memproduksi pot terakota secara eksklusif untuk Ray Garden. Sebab saat itu pesanan produksi dari Fany bisa mencapai 3 ribu pot dalam 1 desain.

Meski Ray Garden sudah berjalan, Fany saat ini masih menganggapnya sebagai usaha sampingan. Dia belum berani untuk meninggalkan karirnya di bank BUMN tersebut. Padahal saat itu akun Instagram usahanya sudah memiliki 1.000 follower dengan penjualan mencapai Rp 1 juta per hari.

Fany menargetkan jika akun Ray Garden sudah memiliki 3 ribu follower dia akan resign. Tapi ketika sudah mencapai follower sebanyak itu, dia masih belum memiliki keberanian untuk resign.

"Karena kerja itu kadang-kadang kita merasa itu zona nyaman kita, takut ninggalin. Sampai akhirnya, kebetulan papahku pengusaha, akhirnya aku mikir memang kayanya harus nekat dan ulet dan PD," tuturnya.

2018, Fany mulai melebarkan sayapnya dengan membuka lapak di Tokopedia. Di lapak itu dia bukan hanya menjual tanaman hias dan pot terakota, tapi juga berbagai kebutuhan berkebun di rumah. Bahkan dia juga menjual pupuk khusus yang dia ambil dari hasil kerjasama dengan pabrik pupuk di Semarang.

Bisnis Tanaman Hias di Tengah PandemiFany Irawan Putri, pemilik Ray Garden Foto: Dok Pribadi/Ray Garden

Ternyata lapak dia di Tokopedia cukup sukses. Fany bisa mengantongi penjualan hingga Rp 70 juta per bulan hanya dari Tokopedia. Namun itu pun masih belum bisa membuat Fany berani untuk meninggalkan BNI.

Sampai akhirnya Fany mendapatkan kontrak rental tanaman dari sebuah perusahaan swasta yang bekerjasama dengan BUMN. Sistemnya dia harus menyewakan 100 tanaman ke perusahaan tersebut dengan 2 kali pergantian dalam 1 bulan. Per bulan dia dibayar Rp 25 juta. Akhirnya Fany lagi berpikir panjang, dia langsung mengajukan resign di Oktober 2019.

Akhrinya Fany fokus mengembangan Ray Garden. Berbagai bisnis tanaman hias dia lakoni, bukan hanya berjualan pot terakota dan tanaman hias tapi juga berbagai jasa hias tanaman mulai dari vertical garden, landscape dan tentunya rental tanaman.

Langsung klik halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2