Perempuan Penyintas KDRT di Demak Sukses Bisnis Olahan Ikan

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Senin, 15 Mar 2021 20:21 WIB
Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan.
Foto: Pradita Utama/detikcom
Demak -

Pepatah bahasa Arab menyatakan barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan mendapatkan hasilnya. Hal ini pula yang turut dirasakan, Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan.

Pada mulanya, Hidayah mengaku hanya ibu rumah tangga biasa yang kesehariannya mengurus anak. Namun, setelah ia bergabung dengan Komunitas Perempuan Nelayan Puspita Bahari, yakni sebuah kelompok yang memiliki misi kemandirian ekonomi, hidupnya berubah menjadi lebih baik.

"Saya gabung ke Puspita Bahari pada 2010, sebelum itu saya kena KDRT, jadi saya nggak ada pekerjaan, terus saya menjadi pembantu rumah tangga di Semarang sekitar 2,5 tahun, karena saya nggak tega ninggalin anak jadi saya pulang dan gabung ke Puspita Bahari sampai sekarang," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Hidayah menuturkan kala itu keempat anaknya masih duduk di bangku sekolah dari mulai SD, SMP dan SMA, sehingga membutuhkan banyak perhatian. Oleh karenanya, di Komunitas Puspita Bahari dirinya menekuni usaha olahan ikan dan kerap mengikuti berbagai pelatihan dalam meningkatkan kemampuan usahanya.

"Tujuan saya menekuni usaha ini untuk meningkatkan ekonomi sehingga bisa menyekolahkan anak biar dia dapat ilmu lebih tinggi, jadi kalau saya nggak terjun ke bisnis ini anak saya nanti takut nggak bisa sekolah," tuturnya.

Lambat laun usaha yang ditekuninya di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, sekaligus menjadi tempat tinggalnya ini mulai bergerak masif. Pada 2015, ia mengambil permodalan di sebuah perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan mulai membuat dan menyajikan berbagai olahan ikan.

Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan.Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan. Foto: Pradita Utama/detikcom

"Di Puspita Bahari ada 10 produk. Tapi saya fokus produksi di peyek udang, kerupuk kelapan, ikan seriding crispy, udang crispy sama rempeyek. Harganya mulai dari Rp 7 ribu sampai Rp 15 ribu per kemasan," ungkapnya.

Lebih lanjut, Dayah mengaku mendapat bahan baku ikan hingga udang untuk diolah kembali hasil membeli dari para nelayan, baik itu nelayan perempuan maupun laki-laki. Namun, ia tidak bisa merinci berapa modal yang dibutuhkan untuk setiap produksi hasil olahannya ini.

"Untuk 1 kg (bahan baku) ikan, tepung sama bumbu total Rp 125 ribu. Dari situ bisa dibuat puluhan kemasan (olahan produk ikan)," ucapnya.

Biasanya produk makanan ringannya tersebut dipasarkan di pusat oleh-oleh yang berada di alun-alun dekat Masjid Agung Demak. Selain itu, ada juga dijual lewat Rumah BUMN sebuah tempat yang menampung produk unggulan UMKM di daerah Demak.

Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan.Hidayah (42) penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) asal Kabupaten Demak yang kini mampu berdikari secara ekonomi lewat usaha olahan ikan. Foto: Pradita Utama/detikcom

"Dalam sehari pendapatan sekitar ratusan ribu lebih kalau sebulan Rp 3 jutaan itu belum kepotong makan," jelasnya.

Diketahui, dari usaha yang ditekuni selama lebih dari lima tahun ini Dayah kini mengaku sudah mendapatkan hasilnya. Meski tidak begitu banyak bagi kebanyakan orang, tapi baginya, hal itu merupakan suatu rezeki yang diberikan tuhan atas jerih payahnya dalam berdikar demi kemandirian ekonomi.

"Saya bangga karena dulunya saya ndak bisa apa-apa sekarang saya jadi bisa menyekolahkan anak saya sampai kuliah dan bisa membangun rumah sendiri di Jepara, membeli tanah juga. Itu usaha dan keringat sendiri, tanpa suami, jadi hasil ini saya sedikit demi sedikit saya tabung juga," jelas Dayah.

Lebih lanjut, Dayah yang kini dipercaya menjadi Koordinator Puspita Bahari mengaku terbantu atas bantuan permodalan dana CSR dari Bank BRI dalam memajukan usahanya. Bantuan yang berbentuk peralatan masakan tersebut antara lain spinner, sealer, kompor hingga wajan.

"Setelah ada bantuan peralatan produksi menjadi lebih meningkat. Kalau dulu kan produk saya masih ada minyaknya jadi kalau setor kemana-mana setelah 1 bulan itu akan dikembalikan, setelah ada bantuan produknya bisa jadi lebih tahan lama dan bisa tahan sampai 3 bulan," terangnya.

Sebagai informasi, detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(akn/hns)

Tag Terpopuler