Kisah Eks Pegawai Bank Garap Bisnis Mi Ayam yang Nyaris Gulung Tikar

Peny Eriska - detikFinance
Senin, 12 Apr 2021 21:15 WIB
Kisah eks pegawai bank garap bisnis mi ayam yang nyaris gulung tikar
Foto: Dok. Mie Ayam Jamur Haji Mahmud
Jakarta -

Kisah Hendri Siregar mungkin bisa menginspirasi mereka yang bisnisnya sedang terguncang, khususnya di bidang kuliner mi ayam. Hendri adalah anak pertama dari pemilik Mie Ayam Jamur Spesial Haji Mahmnud yang berdiri sejak 1988 di Medan,

Dia berani resign alias mundur dari pekerjaan di bank swasta demi selamatkan usaha keluarga yang nyaris tutup pada 2010. Bisnis mie ayam tersebut dirintis ayahnya, Haji Mahmud Siregar yang bermula dari gerobak keliling hingga mendirikan gerai di Jalam Abdullah Lubis Medan

Hendri pun tak rela bisnis Ayahnya tutup begitu saja. Dalam situsi bisnis sedang terpuruk, Hendri tak patah arang. Dia yakin bahwa tidak ada usaha yang sia-sia dan rezeki sudah ada yang mengatur.

"Langkah awal yang saya lakukan untuk membangitkan kembali usaha Mie Ayam Jamur Spesial Haji Mahmud, ya waktu itu dimulai dari memperbaiki sistem manajemen seperti menentukan persyaratan rekrutmen, mengatur perbelanjaan dan pengendalian biaya, membuat perencanaan pengawasan dan pengendalian yang dapat meningkatkan kualitas produk hingga melakukan promosi-promosi," paparnya.

Seiring berjalannya waktu, Hendri berhasil menjaga bisnis keluarga tak jatuh, hingga bisa berkembang pesat. Kini Hendri membuka gerai di Medan hingga ke luar kota. Gerai-gerai tersebut antara lain di Jalan Abdullah Lubis (pusat), di Transmart Carefour Medan, D'loft Thamrin Medan, J-City Medan, Citra Garden Medan, Tapir Raya Jababeka Cikarang hingga Banjar Baru.

"Alhamdulillah berangkat dari pengalaman di tahun 2010 bisa memperluas usaha hingga nasional, Insya Allah segera go Internasional. Habis lebaran nanti Insya Allah akan buka juga di Banjarmasin, Mohon doanya ya," ujar Hendri pada tim detikcom (4/04/2021) di outlet pusat Mie Ayam Jamur Spesial Haji Mahmud Jl. Abdullah Lubis, Medan.

Menurut Hendri kunci utama bisnis kuliner mi ayam tetap bertahan dan berkembang yaitu meyakini rezeki sudah pasti ada dan harus dikejar, lalu menghargai sumber daya karena itu merupakan bagian asset serta mempertahankan kualitas rasa.

"Kita mengikuti tren agar tetap bertahan. Jadi selain menu pangsit kita juga sediakan menu kekinian seperti Korean Spicy Chicken dan kopi kekinian untuk menarik minat anak muda. Dan benar saja, dengan strategi seperti itu, pengunjung kita yang tadinya 60-70% keluarga atau orang dewasa. Di tahun 2019 sudah bergeser 50% anak muda 50% keluarga," terang Hendri.

Memasuki 2020 bisnis Hendri digoyang COVID-19. Dia terpaksa merumahkan hampir separuh dari 95 karyawan.

Meski merumahkan karyawan, Hendri mengaku tetap memberikan insentif. Bukan hanya pengurangan karyawan, dia juga merasakan omzet menurun hingga 40%.

"Sebelum pandemi omset kita bisa mencapai 100% pas pandemi menurun jadi 60%. Kisaran omset perbulan sebelum pandemi bisa mencapai 800 juta, ini pas awal-awal pandemi di tahun 2020 kemarin, turunnya sangat lumayan jadi 500 juta per bulannya," ujar Hendri.

Meski omzet turun, Hendri berani membuka outlet cabang di luar kota Medan yaitu Banjar Baru pada Maret 2020 dan di kota Medan yaitu J-City pada Juni 2020.

"Tapi, Alhamdulillah saat pandemi gini banyak permintaan pasar yang mengharuskan kita untuk buka outlet cabang di Medan dan luar kota Medan. Ya, selalu ada peluang di dalam kondisi apapun. Rezeki kan sudah ada yang mengatur," tuturnya.

Kini, di awal 2021 dia merasa perlahan kondisi sudah mulai pulih dan omzet bisnis kuliner mi ayam perlahan meningkat walaupun belum sepenuhnya seperti keadaan normal. Bahkan, menjelang Ramadhan dia membuka lowongan kerja untuk menambah karyawan. Hendri berharap agar ke depannya bisa membawa usaha ayahnya ini ke kanca internasional sesuai visi dan misinya.

(hns/hns)