Evaluasi Usaha Adalah: Tujuan, Contoh, dan Permasalahannya

ADVERTISEMENT

Evaluasi Usaha Adalah: Tujuan, Contoh, dan Permasalahannya

Debora Danisa Kurniasih Perdana Sitanggang - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 12:23 WIB
Ilustrasi evaluasi usaha.
Foto: Nick Morrison/Unsplash
Jakarta -

Evaluasi usaha merupakan salah satu kegiatan yang penting dijalankan oleh pelaku usaha. Salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui apakah usahanya mencapai target sesuai rencana awal. Selain itu, ada sederet tujuan dan manfaat lain yang menguntungkan baik bagi pelaku usaha itu sendiri maupun bagi konsumennya.

Dalam artikel ini, kita akan memahami lebih lengkap mengenai apa itu evaluasi usaha, tujuan dan manfaatnya, contoh evaluasi usaha, serta permasalahan yang kerap ditemukan dalam evaluasi usaha. Simak penjelasan berikut.

Pengertian Evaluasi Usaha

Evaluasi usaha adalah suatu aktivitas untuk menganalisis kinerja suatu usaha bisnis. Pengertian tersebut dikutip dari Modul Pembelajaran SMA Prakarya dan Kewirausahaan oleh Kemdikbud. Evaluasi usaha memiliki prinsip dasar utama yakni membandingkan rencana usaha yang telah dibuat sebelum kegiatan dilaksanakan dengan pencapaian pada akhir kegiatan atau masa produksi.

Kegiatan usaha dapat dikatakan berhasil jika memenuhi kewajiban membayar bunga modal, alat-alat yang digunakan dari luar, upah tenaga kerja, serta sarana produksi dan kewajiban kepada pihak ketiga. Evaluasi usaha ini penting sebagai sarana belajar dan meningkatkan diri bagi pelaku usaha. Tujuan selengkapnya akan kita bahas pada bagian berikutnya.

Tujuan Melakukan Evaluasi Usaha

Seperti disinggung sebelumnya, evaluasi usaha dilakukan sebagai sarana belajar dan meningkatkan diri pelaku usaha. Masih banyak tujuan lain dari evaluasi usaha yang menguntungkan pelaku usaha itu maupun konsumennya. Berikut tujuan evaluasi usaha mengutip buku Strategi Pemasaran dan Pemberdayaan UMKM pada Masa Covid-19 oleh Amiruddin Tumanggor dan Machasin.

1. Mengetahui Tingkat Keberhasilan

Evaluasi usaha dilakukan dengan tujuan mengetahui sampai sejauh mana tingkat keberhasilan pelaksanaan usaha, apakah usaha sudah berjalan sesuai dengan rencana awal dan membawa hasil yang diharapkan.

2. Memperkecil Risiko Kegagalan

Tidak ada usaha yang pasti berhasil dan tidak mungkin gagal. Setiap pelaku usaha perlu melakukan mitigasi agar usahanya tidak gagal. Nah, evaluasi usaha dilakukan untuk memperkecil risiko kegagalan tersebut dan memperbesar peluang keberhasilan usaha.

3. Mengidentifikasi Kekurangan

Selain itu, tidak ada usaha yang 100 persen sempurna. Pastinya ada hal-hal yang perlu diperbaiki demi meningkatkan kualitas produk atau layanan yang ditawarkan. Evaluasi usaha bertujuan untuk mengetahui apa saja kekurangan yang ada dan perlu diperbaiki.

4. Mengidentifikasi Kekuatan

Bukan cuma kekurangan, evaluasi usaha juga memungkinkan pelaku usaha mengetahui kekuatan usahanya yang perlu dipertahankan atau ditingkatkan lagi.

5. Mengukur Usaha Mencapai Target atau Tidak

Evaluasi usaha juga bertujuan untuk mengetahui apakah suatu usaha telah mencapai sasaran target sesuai rencana awal. Apabila belum, maka pelaku usaha bisa memperbaiki aspek-aspek yang perlu perbaikan. Apabila sudah, maka pelaku usaha bisa meningkatkan target demi pengembangan usaha.

6. Mengukur Biaya Operasional

Dalam kegiatan usaha, tentunya ada biaya operasional yang dikeluarkan. Melalui evaluasi usaha, pelaku usaha dapat mengetahui dan mengukur apakah usahanya selama ini sudah berjalan efektif sehingga dapat menutupi biaya operasional. Jika tidak, maka pengusaha tersebut terhitung rugi.

Contoh Evaluasi Usaha

Berikut contoh evaluasi usaha, mengutip buku Strategi dan Kebijakan Bisnis Perikanan dan buku Strategi Pemasaran dan Pemberdayaan UMKM pada Masa Covid-19.

1. Contoh Evaluasi Internal Usaha

Dalam contoh ini, kita menggunakan matriks internal factor evaluation (IFE). Matriks IFE bertujuan mengidentifikasi kondisi internal sebuah usaha yang merujuk pada faktor-faktor lingkungan internal, yang kemudian dikategorikan menjadi kekuatan dan kelemahan usaha.

Contoh kasusnya diambil dari usaha budidaya rumput laut di Kepulauan Kei, Maluku. Pada 2013, terjadi penurunan jumlah produksi rumput laut daripada kurun waktu 5 tahun sebelumnya. Diperkirakan harga yang tidak kompetitif, kualitas produksi rumput laut yang tidak konsisten, serangan hama, hingga rendahnya perhatian pemerintah daerah menjadi faktor yang menimbulkan masalah bagi petani rumput laut.

Dari kondisi di atas, dibuatlah matriks IFE sebagai berikut.

Identifikasi Faktor-faktor Lingkungan Internal

Tahapan ini mengkategorikan berbagai faktor lingkungan internal yang menyebabkan penurunan jumlah produksi rumput laut.

Contoh evaluasi usaha.Foto: Debora Danisa/detikcom

Pembobotan Masing-masing Faktor

Setelah mengidentifikasi lingkungan internal budidaya rumput laut, maka dilakukan pembobotan dengan mempertimbangkan faktor internal paling penting yang harus dimiliki dalam usaha budidaya rumput laut. Bobot yang diberikan untuk setiap faktor internal usaha minimal berjumlah 1.

Pemeringkatan Masing-masing Faktor Internal (rating)

Pelaku usaha memberi peringkat pada masih-masing faktor internal, di mana nomor 1 paling rendah dan nomor 4 paling tinggi. Skenario pemberian peringkat dapat menggunakan metode survei atau menggunakan kategori. Yang masuk kategori kekuatan diberi nilai 4 dan 3, sementara yang masuk kategori kelemahan diberi nilai 2 dan 1.

Pemberian Nilai Masing-masing Faktor Internal (skor)

Nilai bobot dikalikan dengan nilai peringkat, kemudian menghasilkan nilai akhir masing-masing faktor internal. Hasil itu dijumlahkan untuk mendapatkan nilai IFE seperti contoh tabel di atas. Nilai IFE contoh ini adalah 2.2.

2. Contoh Evaluasi Eksternal Usaha

Contoh berikutnya adalah evaluasi eksternal. Tahapan ini biasanya dilakukan setelah evaluasi internal selesai. Metode yang digunakan adalah analisis opportunity and threads atau peluang dan ancaman.

Faktor eksternal adalah seluruh faktor yang berasal dari luar usaha dan berpengaruh pada performa usaha tersebut. Beberapa faktor eksternal yang perlu dievaluasi adalah:

  • Tren bisnis
  • Budaya masyarakat
  • Sosial politik dan ideologi
  • Kondisi perekonomian suatu daerah atau negara
  • Peraturan dan kebijakan pemerintah
  • Perkembangan teknologi

Setelah mengetahui mana yang termasuk peluang dan mana ancaman, selanjutnya adalah melakukan evaluasi kekuatan dan kelemahan. Langkahnya:

  • Merespons evaluasi dan mendapatkan peluang baru yang dapat meningkatkan usaha.
  • Menyusun strategi untuk merespon peluang-peluang baru tersebut.
  • Menyusun strategi persiapan untuk mengatasi ancaman sewaktu-waktu.
  • Membuat jadwal pelaksanaan strategi khususnya untuk peluang.
  • Melaksanakan strategi sesuai jadwal untuk merespon peluang dan mengantisipasi ancaman yang datang sewaktu-waktu.

Permasalahan yang Sering Muncul Saat Evaluasi Usaha

Evaluasi usaha dilakukan untuk mengetahui letak kekurangan suatu usaha. Namun, evaluasi usaha sendiri juga bisa salah dilaksanakan dan memunculkan permasalahan lain. Berikut permasalahan yang sering muncul saat evaluasi usaha, dilansir situs stout.com.

1. Bergantung pada Masa Lalu secara Membabi Buta

Maksud membabi buta di sini adalah pelaku usaha atau perusahaan bergantung pada hasil masa lalu untuk menganalisis peluang masa depan tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain dari luar dan di masa depan. Ketergantungan secara buta pada pengalaman masa lalu kurang baik untuk memproyeksikan perkembangan usaha di masa yang akan datang.

2. Mengabaikan Arus Kas

Seorang ahli penilaian dalam evaluasi usaha biasanya mempertimbangkan pendapatan berbasis akuntansi atau laba bersih dalam penilaian perusahaan dan mengabaikan penggerak nilai yang sebenarnya, yakni arus kas.

3. Nilai Buku Bersih Tidak Sama dengan Nilai Pasar

Aset dan kewajiban yang dimasukkan dalam neraca perusahaan disusun sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum dan dinyatakan berdasarkan biaya historis, bukan berdasarkan nilai pasar. Sehingga ahli penilai salah menyatakan nilai pasar sebenarnya, karena berbeda dengan nilai dalam buku bersih perusahaan.

4. Bergantung pada Proyeksi Tidak Berdasar

Pada permasalahan pertama, bisa disimpulkan bahwa sebaiknya pelaku usaha tidak bergantung pada pencatatan masa lalu saja sepenuhnya. Tapi bukan berarti pelaku usaha bisa melakukan proyeksi tidak berdasar di masa depan, apalagi sampai bergantung pada proyeksi itu serta merta. Tetap harus ada data yang menjadi rujukan untuk membangun proyeksi tersebut, dipadukan dengan berbagai faktor internal dan eksternal yang sudah dianalisis.

5. Hanya Mengandalkan Aturan Praktis

Mengandalkan aturan praktis bisa dibilang sebagai salah satu jalan pintas paling umum untuk melakukan evaluasi usaha dan penilaian. Misalnya, hanya menghitung pencapaian target berdasarkan 10 kali pendapatan atau membagi rata-rata pendapatan dalam setahun secara sederhana, tanpa benar-benar menganalisis faktor yang mungkin mempengaruhi kenaikan dan penurunan pendapatan.

Itulah penjelasan mengenai evaluasi usaha, mulai dari pengertian, tujuan, hingga contoh dan permasalahannya. Semoga bermanfaat untuk menjalankan usaha Anda, detikers.



Simak Video "Saham Meta Meroket 23%, Kekayaan Mark Zuckerberg Tembus Rp 1000 T"
[Gambas:Video 20detik]
(des/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT