Limbah Jerami dan Kotoran Ternak Diolah, Pendapatan Warga Nagari Ini Naik 63%

Limbah Jerami dan Kotoran Ternak Diolah, Pendapatan Warga Nagari Ini Naik 63%

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Selasa, 17 Feb 2026 19:23 WIB
Pengelolaan Limbah
Foto: Dok. Pertamina Patra Niaga
Jakarta -

Pengelolaan limbah pertanian dan peternakan di Nagari Padang Toboh mulai memberi dampak ekonomi bagi warga. Limbah jerami dan kotoran ternak yang sebelumnya dibakar atau dibuang kini diolah menjadi berbagai produk bernilai guna, mulai dari kompos hingga energi terbarukan.

Program pengolahan limbah ini dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau lewat skema tanggung jawab sosial dan lingkungan. Program tersebut diberi nama SI CADIAK (Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah).

Dalam pelaksanaannya, sekitar 894 ton jerami per tahun dan 864 ton kotoran ternak diolah menjadi kompos, bioetanol, serta produk turunan lain seperti parfum jerami ramah lingkungan bernama ARUWA. Limbah tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung program sawah pokok murah serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digunakan untuk aktivitas Learning Center UKASEMA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data pelaksana program, pengelolaan limbah ini berkontribusi menurunkan emisi hingga 1.305 ton CO₂e per tahun. Selain itu, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah tersebut tercatat turun hingga 80% dalam periode 2022-2025, seiring berkurangnya praktik pembakaran jerami.

Dari sisi ekonomi, pendapatan masyarakat meningkat hingga 63%. Kenaikan tersebut didorong oleh diversifikasi produk berbasis limbah serta efisiensi biaya pertanian yang sebelumnya dikeluarkan warga.

ADVERTISEMENT

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, mengatakan program tersebut dijalankan dengan pendekatan kolaborasi bersama masyarakat.

"SI CADIAK menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara Pertamina Patra Niaga dan masyarakat mampu menghadirkan solusi berkelanjutan. Program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan energi berbasis biogas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nagari secara inklusif," ujar Roberth.

Roberth menambahkan, program ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memenuhi kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).

"Pendekatan berbasis inovasi dan dampak terukur yang diterapkan tidak hanya memberikan manfaat nyata di lokasi pelaksanaan, tetapi juga menjadi tolak ukur praktik pengelolaan limbah produktif berbasis masyarakat yang dapat diimplementasikan di berbagai daerah lain," katanya.

Manfaat program ini juga dirasakan langsung oleh warga. Siti, anggota Kelompok UKASEMA, mengatakan pengolahan limbah memberi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat.

"SI CADIAK bersama Pertamina bukan hanya tentang pertanian biasa, tetapi kami diajarkan untuk mengolah limbah dengan tepat dan menghasilkan produk yang bisa dijual dari limbah tersebut. Hasil limbah sedikit banyaknya bisa membantu menyambung hidup kami, di mana sebagian besar kami hanya buruh tani dan ibu rumah tangga. Kami sudah bisa menjual produk dari limbah, sehingga menghasilkan pemasukan tambahan bagi kami," ungkap Siti.

Program ini diklaim selaras dengan sejumlah target pembangunan berkelanjutan, antara lain peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan nilai tambah ekonomi lokal, pengelolaan limbah berkelanjutan, serta pengurangan emisi dari sektor pertanian.

(fdl/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads