Endi Sunarya (41) dan Imas Nurlaela (38), pasangan suami istri, sukses meneruskan usaha Batagor Gembira yang sudah dirintis dari nol oleh orang tuanya sejak tahun 1986. Usahanya terus berkembang hingga punya 10 cabang dan 12 karyawan.
Kisahnya bermula ketika ayah dan ibu Imas memutuskan untuk mengadu nasib, merantau dari kampung halaman di Garut ke ibu kota. Keduanya kemudian menikah dan merintis usaha Batagor yang tengah tren pada tahun 1986 di Depok.
Jauh sebelum memulai usaha ini, sang ayah H. Memed, sebenarnya sudah akrab dengan dunia kuliner jalanan. Ia sempat berjualan siomay keliling. Namun, beralih berjualan Batagor Gembira karena dinilai lebih menguntungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlahan tapi pasti, roda bisnis Batagor Gembira ini pun terus berputar dan berkembang. Tempat usaha pertama yang menjadi saksi bisu awal perjuangan mereka terletak di dekat kantor PLN Depok, Jalan Mekar Jaya.
Asal-Usul Nama Batagor Gembira
Imas menceritakan nama Batagor Gembira sebenarnya bukan pemberian dari sang ayah, melainkan dari para pelanggan mahasiswa Universitas Indonesia (UI). Kala itu, mereka sering berkumpul di lapaknya hingga larut malam.
"Nama Batagor Gembira itu sebenarnya bukan kita yang ngasih, tapi dari pelanggan anak-anak UI yang sering nongkrong sampai malam di PLN Depok," terang Imas kepada detikcom belum lama ini.
"Tiap kali kumpul, mereka tuh selalu bilang, 'Kumpul di mana? Di Batagor Gembira aja.' Katanya, tiap nongkrong di situ bawaannya selalu senang dan cekikikan (ketawa-ketawa) terus. Akhirnya, nama itu kita ambil sampai sekarang," imbuhnya.
Seiring berjalannya waktu, pelanggannya di PLN Depok terus meningkat. Ayah Imas memberanikan diri untuk membuka cabang kedua pada tahun 2010. Lokasinya di pinggir Jalan Tole Iskandar, Mekar Jaya, Sukmajaya, Depok, tepat berada di samping swalayan TipTop.
Sejak cabang tersebut berkembang, pada tahun 2011 Imas mulai ikut membantu produksi batagor di rumah. Sesekali ia juga ikut bantu berjaga dan melayani, sampai orang tuanya bisa berangkat ibadah haji berkat jualan Batagor ini di 2016.
"Alhamdulillah Bapak sama Mama udah berangkat haji dari jualan Batagor ini," ungkap Imas.
Batagor Gembira di Jalan Tole Iskandar, Depok Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
Amanah saat Ibadah Haji
Imas dan suami mengaku diberi amanah oleh orang tua untuk meneruskan usaha Batagor ini. Awalnya, mereka hanya diminta memegang kendali operasional sementara waktu selama orang tuanya beribadah ke Tanah Suci.
"Makanya kemarin saya terjun di sini tuh karena Mama Bapak kan hajian lama tuh 40 hari. Jadi saya yang megang semuanya dari mulai bumbu, modal semua. Makanya saya terjun dari Mama Bapak hajian 2016," kenang Imas.
Sebelumnya, Imas sempat bekerja di salah satu perusahaan swalayan. Namun, setelah menikah dan punya anak ia berhenti dan lebih memilih meneruskan usaha Batagor Gembira bersama sang suami yang udah dulu berjualan di sana.
"Dulunya saya kerja sebagai SPG (sales promotion girl) di Carrefour, cuman pas punya anak udah nggak kerja lagi, enakan usaha ini," tuturnya.
Punya 10 Cabang, Omzet Rp 6 Juta/Hari
Kini, Batagor Gembira telah memiliki 10 cabang berbentuk gerobak yang tersebar di wilayah Kota Depok dan sekitarnya. Untuk operasionalnya, mereka mempekerjakan 12 karyawan yang berasal dari berbagai daerah seperti Banten dan Bogor.
Kesepuluh cabang tersebut tersebar di Depan PLN Depok (2 Cabang), Samping TipTop Depok, Depan SDI Bina Insani, Jl. Flamboyan Raya, Jl. Dadap Raya, Jl. Angin Mamiri, Depan SMPN 22 Depok, Jl. Kandang Roda Cibinong, Jl Majapahit (keliling)
"Kalau yang di PLN Depok kita punya 2 cabang buka 24 jam dari pagi sampai subuh. Itu yang jaganya sebagian ada keluarga, sebagian ada orang lain, ada juga yang dari Banten, Bogor macem-macem deh. Total kita karyawan 12," ungkapnya.
Setiap hari, keduanya memproduksi Batagor Gembira sekitar 100 kilogram untuk didistribusikan ke 10 cabang. Dari total produksi tersebut, Imas mampu mengantongi omzet sekitar Rp 6 juta per hari.
"Di cabang yang biasa paling dapat Rp 500 ribu, tapi kalau yang top nya masih di atas Rp 1 juta di PLN Depok, dua cabang sekitar Rp 3 jutaan dapat. Kalau yang lain-lainnya masih belum ramai banget," ungkapnya.
Usaha Mie Ayam Gembira Imas Nurlaela Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom |
KUR BRI Bantu Ekspansi
Keberhasilan mengelola 10 cabang batagor ini tak lantas membuat Imas dan Endi berpuas diri. Berbekal mental wirausaha yang kuat, mereka mulai melirik peluang bisnis lain.
Hal itu dilakukannya setelah mendapat tambahan modal Rp 100 juta pada akhir 2025. Modal ini didapat dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan tenor 3 tahun.
Endi mengatakan modal itu ia alokasikan bukan untuk bisnis batagornya, melainkan untuk mengepakkan sayap bisnis yang baru dengan tetap mempertahankan brand 'Gembira' milik keluarga.
"Jadi kemarin kita pinjam ke BRI Rp 100 juta untuk buka usaha baru Fotocopy Gembira di Sekolah Tugu Ibu," terang Endi.
Dana itu ia gunakan untuk sewa kios Rp 15 juta setahun dan membeli mesin fotocopy serta perlengkapan Alat Tulis Kantor (ATK).
"Untuk batagornya sendiri sebenarnya karena sudah berjalan, alhamdulillah tidak perlu tambahan modal," ungkapnya.
Menurut Endi, proses pengajuan KUR ini sangat mudah dan cepat. "Mudah banget sih BRI memudahkan, kadang belum selesai juga ditawar-tawarin lagi, jadi sangat membantu," terangnya.
Selain Fotocopy Gembira, keduanya juga kini punya usaha Mie Ayam Gembira. Lokasinya tepat berada di samping Batagor Gembira cabang kedua di Jalan Tole Iskandar.
"Mie Ayam ini dulunya punya orang. Cuman pas udah nggak jualan lagi, akhirnya dikasih ke Bapak, Mama belajar bumbu-bumbu. Kita yang lanjutin," jelasnya.
Lebih lanjut, Endi dan Imas mengaku berkat menjalankan seluruh usaha ini dirinya bisa pergi umrah dan mengajak orang tuanya jalan-jalan ke luar negeri.
"Alhamdulillah bapak mama saya bisa jalan-jalan ke luar negeri, udah ke Thailand, udah hajian, udah umrah beberapa kali. Saya sama suami juga udah umrah beberapa kali. Alhamdulillah walaupun cuma dari usaha ini bisa lah gitu," ungkapnya.
BRI Dorong UMKM Naik Kelas
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan pihaknya terus berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran serta berkelanjutan. Menurutnya, KUR jadi instrumen strategis BRI dalam mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif.
"Melalui KUR, BRI berupaya menghadirkan pembiayaan yang mudah diakses, tepat sasaran, serta berkelanjutan. BRI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas usaha agar pelaku UMKM, termasuk petani, dapat tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan," ujar Hery dalam keterangan tertulis.
BRI juga terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan penyaluran KUR memberikan dampak ekonomi yang nyata.
Secara kinerja, sepanjang 2025 BRI menyalurkan KUR sebesar Rp 178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60% penyaluran dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49% dari total penyaluran.
Pada periode Januari hingga Maret 2026, BRI berhasil menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 47,09 triliun kepada 947 ribu nasabah pinjaman. Sektor pertanian menjadi kontributor utama dengan pembiayaan mencapai Rp 19,86 triliun atau setara 42,16% dari total KUR yang sudah disalurkan.
(akd/ega)












































