Cerita Vivi Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Bumbu Masakan Khas Aceh

Cerita Vivi Cuan Jutaan Rupiah dari Jualan Bumbu Masakan Khas Aceh

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Sabtu, 13 Jun 2026 19:45 WIB
Perjuangan Vivi Jadi Pelaku Usaha, Semangat Produksi Bumbu Masakan Khas Aceh
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pandemi COVID-19 di awal 2020 tak bisa dipungkiri melahirkan banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) baru. Salah satunya adalah Jo Viviani Sanita, sosok di balik suksesnya jenama bumbu masakan instan khas Aceh bernama ShanJay Cook.

Pagi itu, Vivi mengikuti sebuah pelatihan di Rumah BUMN BRI di Jl. Letjen S Parman, Jakarta Barat. Ia membawa dua produk andalannya yakni Bumbu Gulai Aceh Serbaguna dan Bumbu Mie Goreng Aceh yang tampil dengan kemasan baru.

Vivi kemudian antusias menceritakan awal mula perjalanan bisnis UMKM ShanJay yang diambil dari nama kedua anaknya Shania dan Jayson. Siapa sangka, sebelum sukses meracik bumbu masakan ini, ia justru bergelut di bidang yang jauh berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya awalnya tuh bukan usaha bumbu. Tapi produk tas anak. Nah gara-gara pandemi, sekolah pada libur, jadinya nggak bisa lanjut," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.

Hantaman pandemi yang menghentikan aktivitas sekolah itu membuat bisnis tas anak milik Vivi ikut terdampak. Ia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan usaha tersebut dan pindah haluan ke bisnis kuliner.

ADVERTISEMENT

"Kalau tas anak kayaknya agak susah bertahan di kondisi seperti itu. Akhirnya saya pikir, mending beralih ke makanan aja, lebih unik dan pasarnya luas," jelasnya.

Perjuangan Vivi Jadi Pelaku Usaha, Semangat Produksi Bumbu Instan Khas AcehFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Belajar dari Saudara

Alasan Vivi terjun ke bisnis ini didasari oleh kecintaan sang suami akan kuliner kampung halamannya di Kota Sigli, Provinsi Aceh. Awalnya, mereka selalu mendapatkan kiriman bumbu instan langsung dari keluarga sang ibu di Aceh.

"Karena kami penasaran bagaimana sih cara membuat bumbu yang benar-benar pas, akhirnya kami memutuskan untuk main ke rumah saudara. Di sanalah kami mulai belajar meracik bumbu Aceh yang asli," ungkapnya.

Menariknya, Vivi mengaku bahwa dirinya bukanlah sosok yang hobi berlama-lama di dapur. Namun, keinginan yang tinggi untuk menghidangkan makanan khas Aceh mendorongnya untuk terus belajar.

"Jujur, aku tuh sebenarnya bukan orang yang suka memasak. Tapi karena suami suka banget makan makanan khas daerahnya, akhirnya aku coba bikin makanan-makanan yang dia suka saja," katanya.

Lambat laun, keduanya berhasil membuat resep makanan khas seperti Mie Goreng Aceh, Mie Gulai Aceh, hingga Mie Kocok Aceh. Vivi yang berpengalaman menawarkan produk, iseng mempromosikan makanan-makanan tersebut ke orang terdekatnya.

"Saya share ke grup-grup WhatsApp, ke saudara, keluarga, bahkan ke grup orang tua sekolah. Itu rame yang pesan. Dari situ kita mulai buka PO (pre order) di 2021," katanya.

Mengemas Bumbu Instan

Singkat cerita, ketika pandemi mulai mereda dan sang suami kembali sibuk bekerja, usahanya berada di persimpangan. Di titik inilah Vivi putar otak agar usahanya tetap berjalan dengan cara mengemas bumbu instan siap masak tersebut.

Di awal produksinya, kemasan Bumbu Gulai dan Bumbu Mie Goreng Aceh nya masih diproses secara biasa sehingga membutuhkan perlakukan khusus agar tak cepat basi. Vivi mulai belajar lagi untuk meningkatkan kualitas produknya.

"Waktu itu kan saya masih belum sterilisasi suhu tinggi atau retort gitu. Jadi harus masuk ke kulkas. Terus ke freezer. Terus saya bekuin kalau untuk kirim keluar kota," ungkap Vivi.

Vivi mengganti kemasannya menggunakan teknologi sterilisasi retort sehingga produknya bisa tahan hingga satu tahun tanpa bahan pengawet.

"Karena kalau di retort itu memang mematikan bakteri yang merusak. Biasanya bisa tahan satu tahun tanpa pengawet," jelas Vivi.

Perjuangan Vivi Jadi Pelaku Usaha, Semangat Produksi Bumbu Instan Khas AcehFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Pelatihan di Rumah BUMN BRI

Selain itu, untuk meningkatkan jangkauan pasarnya, Vivi mulai aktif memperluas jejaring dengan bergabung komunitas UMKM. Langkah besarnya dimulai ketika bergabung menjadi binaan Rumah BUMN BRI pada 2025.

Vivi menyadari dalam membesarkan ShanJay ia tidak bisa bergerak sendiri, butuh ekosistem yang mendukung branding produknya. Salah satunya dengan rutin mengikuti pelatihan.

Selama menjadi UMKM binaan Rumah BUMN BRI, Vivi mendapatkan banyak sekali ilmu bermanfaat melalui berbagai program edukasi yang disediakan secara terjadwal.

"BRI ini pelatihannya termasuk intens ya. Dalam seminggu aja itu di-posting di grup 2-3 kali. Kadang salah satu hari itu bisa ada 2. Tapi yang saya masih ingat itu branding," ungkapnya.

Tidak hanya seputar manajemen bisnis konvensional, Vivi juga memanfaatkan kesempatan di Rumah BUMN BRI untuk mempelajari teknologi AI demi mendukung kebutuhan promosi digitalnya.

"Saya juga banyak ikut pelatihan soal AI untuk UMKM sebagai sarana promosi dan lain-lain kayak gitu ya," jelasnya.

Tidak hanya itu, Vivi juga dibantu dalam pembuatan materi konten promosi untuk media sosialnya. Rumah BUMN BRI berkomitmen mendampingi agar bisnisnya semakin berkembang dan dikenal secara luas.

Merambah Pasar Ritel

Perlahan tapi pasti, usahanya semakin terarah. Vivi tidak lagi sekadar menanti pesanan. Ia sudah mampu memproduksi bumbu instan dalam skala besar sekaligus untuk dijadikan stok siap kirim.

Strategi penjualannya pun mulai bergeser ke arah yang lebih modern. Jika dulu ia hanya melayani sistem pre-order, kini bumbu instan ShanJay mulai merambah ke rak-rak supermarket lewat skema kemitraan.

"Jadi saya coba konsinyasi di Supermarket dekat rumah, di Pasar Laris itu ada lima toko dan ternyata tipe warga perumahan dekat Pasar Laris itu memang kebanyakan nyari bumbu yang instan, dan cocok gitu sama bumbu ini," ungkapnya.

Selain itu, Vivi juga memanfaatkan jejaring kontak WhatsApp untuk mendongkrak penjualan. Strategi sederhana ini diakuinya justru sangat ampuh dan cepat dalam menjaring pelanggan baru.

"Jadi di WhatsApp itu memang lebih cepat ya. Setiap promosi di story, pasti ada yang pesan. Dari yang nggak tau, dia jadi tau gitu," urai Vivi.

Perjuangan Vivi Jadi Pelaku Usaha, Semangat Produksi Bumbu Instan Khas AcehFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Cuan Jutaan Rupiah

Diketahui, modal awal yang dikeluarkan Vivi untuk membangun ShanJay terhitung cukup terjangkau. Namun kini, bisnis bumbu instan khas Aceh tersebut sudah mampu mendatangkan omzet belasan juta rupiah setiap bulannya.

"Dulu modalnya kurang lebih Rp 10 juta. Omzetnya (sekarang) antara Rp 15 jutaan (per bulan) begitu lah. Karena (penjualannya) banyak di toko-toko. Terus juga saya ada ruang catering juga," beber Vivi.

Dari segi variasi ukuran produk, ShanJay sebenarnya memiliki dua opsi kemasan. Vivi sengaja lebih banyak menonjolkan ukuran kecil terlebih dahulu untuk mengenalkan ke pelanggan-pelanggan baru.

"Kalau yang kecil ini harganya Rp 30.000, kalau yang besar Rp 40.000. Kalau beli Pasar Laris Taman Surya itu harganya kisaran Rp 35.000 - Rp 45.000," jelasnya.

Ke depan, Vivi menargetkan jangkauan pasar yang lebih luas hingga ke luar daerah. Untuk memuluskan langkah ekspansi tersebut, ia kini memilih fokus menata dan meningkatkan strategi branding produknya.

Wadah UMKM Naik Kelas

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas.

Menurutnya, UMKM tidak sekadar tumbuh, melainkan bertransformasi menuju kemandirian ekonomi digital yang berkelanjutan. Salah satu contoh nyata adalah Vivi dengan ShanJay Cook, pelaku usaha yang mengawali perjuangannya membangun bisnis dari nol lewat proses belajar dan pendampingan di sini.

Vivi hanyalah satu dari sekian banyak kisah sukses UMKM. Di Rumah BUMN BRI, berkumpul ribuan pelaku usaha dari berbagai sektor, mulai dari kuliner minuman, fesyen, kerajinan tangan, hingga penyedia jasa. Total ada sekitar 11.000 UMKM binaan yang bernaung di bawah Rumah BUMN BRI, di mana 6.000 di antaranya aktif bergerak mengikuti berbagai program pemberdayaan.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI, UMKM akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Jajang menyebut bersama BRI, UMKM tak hanya tumbuh tapi juga bertransformasi menuju ekonomi digital yang mandiri dan berkelanjutan. "Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujarnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," pungkasnya.

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads