Dari Hobi Jadi Cuan, Kilau Mutiara Bali Tembus Pasar Australia

Saatnya Jadi Bos

Dari Hobi Jadi Cuan, Kilau Mutiara Bali Tembus Pasar Australia

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 15 Jun 2026 09:30 WIB
Dari Hobi Jadi Cuan, Kilau Mutiara Bali Tembus Pasar Australia
Foto: Dok. Ash Jewelry
Jakarta -

Berawal dari kegemaran memakai perhiasan, siapa sangka juga bisa menjadi sebuah sumber pendapatan. Seperti cerita dari Gek Nanda Putri Dana Asih yang mengaku tak pernah menyangka hobinya kini berkembang menjadi sebuah usaha yang memiliki pelanggan hingga Australia.

Pendiri By Ash Jewelry asal Bali itu mengaku ide membangun bisnis justru lahir dari pengalaman pribadinya. Ia gemar mengenakan aksesori, tetapi sering kecewa karena perhiasan yang dibeli secara daring cepat rusak. Di sisi lain, kulitnya yang sensitif membuatnya tidak cocok menggunakan perhiasan imitasi.

"Saya memang suka memakai perhiasan. Dulu sering beli di e-commerce, tapi biasanya cepat rusak. Selain itu kulit saya sensitif, jadi kalau memakai perhiasan imitasi gampang merah. Mau beli emas juga belum mampu," kata Gek Nanda saat ditemui detikcom, di Bali beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari Hobi Jadi Cuan, Kilau Mutiara Bali Tembus Pasar AustraliaDari Hobi Jadi Cuan, Kilau Mutiara Bali Tembus Pasar Australia Foto: Dok. Ash Jewelry

Berangkat dari pengalaman tersebut, ia mulai merancang perhiasannya sendiri menggunakan material yang lebih ramah untuk kulit sensitif, namun tetap memiliki harga yang terjangkau.

Awalnya, hasil karyanya hanya diunggah ke media sosial. Tak disangka, banyak orang mulai tertarik membeli. Dari situlah By Ash Jewelry perlahan tumbuh menjadi sebuah usaha.

ADVERTISEMENT

By Ash Jewelry sendiri mulai dirintis sejak 2022 dan dikembangkan lebih serius oleh Nanda pada 2023. Nama usahanya merupakan gabungan nama Nanda dan sang kakak, yakni Asih dan Astiti, yang bersama-sama membangun bisnis tersebut.

Dalam proses produksinya, seluruh desain dipelajari secara otodidak. Nanda mengaku banyak belajar melalui internet, termasuk Pinterest, sembari terus bereksperimen menemukan desain yang sesuai dengan karakter mereknya.

Bahan Baku Mutiara Air Tawar

Untuk bahan baku utama, By Ash Jewelry menggunakan mutiara air tawar (freshwater pearl) yang dipasok dari Lombok. Menurut Nanda, pilihan tersebut diambil karena harganya lebih terjangkau dibanding mutiara air laut, sehingga lebih sesuai dengan kemampuan modal usaha yang masih berkembang.

"Kalau mutiara air laut harganya jauh lebih mahal. Karena modal kami masih terbatas, akhirnya memilih freshwater pearl yang kualitasnya tetap bagus tetapi lebih terjangkau," katanya.

Meski demikian, perjalanan bisnisnya tidak langsung mulus. Saat masih kuliah, usahanya sempat berjalan naik turun. Barulah setelah mengikuti program pemberdayaan UMKM SisBerdaya dari DANA Indonesia dan keluar sebagai pemenang, kepercayaan dirinya untuk serius menekuni bisnis semakin besar.

"Awalnya saya kurang percaya diri. Setelah ikut SisBerdaya, saya jadi yakin untuk benar-benar menjalankan bisnis ini," ujarnya.

Saat ini By Ash Jewelry memproduksi sekitar 100 pcs per bulan yang terdiri atas berbagai jenis produk, mulai dari kalung, gelang, cincin, hingga anting berbahan mutiara air tawar. Menariknya, produk yang paling banyak diminati justru model dengan tingkat pengerjaan paling rumit.

"Yang paling sulit dibuat malah jadi best seller," ujar Nanda sambil tertawa.

Meski belum memiliki toko fisik, By Ash Jewelry dipasarkan melalui toko online, hingga berbagai bazar di Bali, termasuk Sunday Market di Sanur.

Perkembangan usaha itu juga membuat By Ash Jewelry mulai membuka lapangan kerja. Sebelumnya, bisnis ini hanya dilakukan dengan kakanya, kini usaha tersebut dibantu sekitar empat orang, terdiri atas dua perajin yang bekerja dari rumah dan dua staf penjualan yang bertugas saat bazar.

Harga produk yang ditawarkan pun cukup beragam, mulai sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 3 juta, tergantung desain dan material yang digunakan.

Tak hanya diminati wisatawan dalam negeri, produk By Ash Jewelry juga mulai memiliki pelanggan dari luar negeri. Nanda mengaku sebagian besar pembeli asing pertama kali membeli produknya saat berlibur di Bali. Setelah kembali ke negara asal, mereka kembali melakukan pemesanan secara daring.

"Sejauh ini paling banyak dari Australia. Mereka beli saat liburan ke Bali, lalu setelah pulang pesan lagi," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(ada/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads