Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRI

Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRI

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 26 Jun 2026 23:00 WIB
Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRI
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Jakarta -

Waktu menunjukkan pukul 15.00 sore. Esty Harti Supriyatin (52) turun dari tangga lantai dua Rumah BUMN BRI setelah mengikuti kelas pelatihan strategi konten visual sedari siang.

Senyumnya mengembang. Kedua tangannya dengan bangga menggenggam camilan dengan kemasan standing pouch berwarna biru langit yang kini tampil jauh lebih modern.

Produk camilan tersebut sedang ia upayakan agar mejeng di rak galeri Rumah BUMN BRI yang berlokasi di Jl. Letjen S. Parman, Jakarta Barat. Kepada detikcom, Esty menceritakan bagaimana dirinya membangun usaha ini dari nol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Brand saya Peyek Mpok Esty. Ini produk kedua saya Kembang Goyang. Saya memulai usaha ini dari coba-coba dulu," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.

Sempat Jadi Sales Material

Esty bercerita sebelum merintis usaha ini ia sempat bekerja sebagai sales material bangunan di kampung halamannya di Pemalang, Jawa Tengah. Kemudian, ia pindah ke Jakarta bersama suaminya pada tahun 2014.

ADVERTISEMENT

"Pindah ke sini tahun 2014 karena sesuatu hal. Pertamanya di Jakarta jadi penjual asongan keliling, terus sempat juga jadi asisten rumah tangga. Belum usaha seperti ini," ungkapnya.

Titik balik usahanya baru dimulai pada tahun 2017. Menariknya, ide usahanya justru muncul secara tidak sengaja karena faktor lingkungan sekitar, tepatnya di Kampung Baru, Klender, Jakarta Timur.

"Pertamanya karena tetangga tadinya minta diajarin bikin peyek. Dia nyoba, terus nggak bisa. Terus nanya ke saya, sedangkan saya sendiri belum bisa," kenang Esty.

Esty kemudian belajar dari sang suami yang ternyata memiliki pengetahuan resep dasar. Mulai dari takaran bumbu hingga teknik penggorengan yang tepat.

Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRIFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Modal Awal Rp 25 Ribu

Esty kemudian iseng mencoba memproduksi dalam skala sangat kecil. Modal awalnya pun tergolong sangat minim untuk ukuran sebuah usaha, yaitu hanya sebesar Rp 25.000

Uang tersebut ia pakai untuk beli bahan baku sebanyak seperempat kilogram. Produk pertamanya berupa peyek kacang tanah kemudian dititipkan ke warung terdekat dari rumahnya.

Esty terkejut karena dagangannya laris terjual. Setelah itu, ia secara bertahap menambah volume produksi dan memperluas jaringan warungnya. Dari situ, juga bisa membeli beberapa alat masak baru.

"Terus saya coba beli alat kembang goyang. Akhirnya saya nyoba bikin kembang goyang. Pertamanya cuma peyek, sekarang jadi ada kembang goyang tiga rasa original, wijen, sama keju," imbuhnya.

Selain itu, Esty juga terus berinovasi untuk produk peyeknya. Ia kini menawarkan berbagai varian seperti peyek kacang tanah, teri, rebon, kacang hijau, hingga varian unik yang jarang ditemui di pasaran, peyek mutiara.

Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRIFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Sentuhan Rumah BUMN BRI

Usaha Esty kemudian semakin berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Rumah BUMN BRI sendiri merupakan wadah inkubasi UMKM yang anggotanya dibina oleh BRI agar bisa naik kelas lewat pelatihan, akses permodalan, hingga perluasan pasar.

Esty mengaku sudah lama bergabung dengan Rumah BUMN BRI, namun baru aktif kembali di tahun ini. Ia mendapat banyak manfaat dari berbagai pelatihan yang diikutinya seperti pecatatan keuangan, strategi pemasaran, digitalisasi perbankan.

Selain itu, ia juga mendapat dukungan berupa rebranding produk. Kemasan Peyek dan Kembang Goyang Mpok Esty yang dulunnya hanya menggunakan plastik bening biasa, kini jadi lebih modern dan menarik berkat bantuan desain gratis serta bantuan cetak kemasan dari BRI.

"Jadi ini didesain sama BRI. Saya terima bersihnya seperti ini. Kemasannya dapat 100 pcs. Alhamdulillah banget makanya Jadi lebih bening, lebih cerah," terangnya.

Selain itu, meski usianya sudah lanjut, Esty tidak menutup mata terhadap perkembangan digitalisasi. Ia juga aktif belajar artificial intelligence di Rumah BUMN BRI untuk promosi usahanya di media sosial @peyek_mpok.esty.

Bahkan, ia rela datang dari Klender, Jakarta Timur ke Rumah BUMN BRI memakan dua jam perjalanan untuk mempelajari AI ini. Kini, di bantu AI ia bisa menyusun strategi promosi agar terlihat lebih memikat bagi calon pelanggan.

"Itu yang sekarang lagi tren kan. Saya terapkan itu dalam bisnis gitu. Jadi di media sosial usaha saya udah pake AI juga untuk promosi-promosinya copywriting-nya gitu. Supaya lebih menarik," jelasnya.

Manfaatkan Ekosistem BRI

Saat ini, usaha Esty juga tidak hanya sekadar titip di warung. Ia juga menerima pesanan pre-order atau PO untuk calon pelanggan. Dalam sebulan penjualannya fluktuatif berkisar Rp 200-700 ribu tergantung ramai tidaknya pesanan.

Esty mengakui bahwa kondisi pasar saat ini, tengah mengalami penurunan. Namun, lesunya pasar tidak mematahkan semangatnya karena ia menyadari bahwa tantangan tersebut dirasakan oleh seluruh pelaku UMKM.

Namun, ia beruntung bergabung dengan Rumah BUMN BRI, selain mendapat ilmu ia juga bisa mendapatkan akses pasar yang lebih luas. Ia juga kini bisa ikut berbagai bazar yang didapatnya dari relasi UMKM di Rumah BUMN BRI.

Beberapa Bazar yang pernah diikutinya adalah Pesta Kreasi Kota, Campur Sari dan Betawi hingga Jakarta Music Festival dan lain-lain.

Untuk mempermudah transaksinya di era digital ini, Esty mengandalkan QRIS BRI. Menurutnya, penggunaan QRIS sangat membantu operasional usahanya karena tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian saat bazar.

"QRIS BRI banyak manfaatnya, transaksinya cepat, kita nggak ribet urus kembalian, dan semua uang masuk langsung tercatat aman di rekening BRI," jelasnya.

Maksimalkan Konten Digital

Sementara itu, CRM Loyalty Partnership Lead Eraspace, Yoga C Harman yang hadir sebagai narasumber di pelatihan yang diikuti oleh Esty memberikan saran agar UMKM memaksimalkan konten visual sebagai sarana promosi di media sosial.

Menurutnya, konten visual memegang peranan krusial untuk menarik perhatian konsumen. Namun, proses pembuatannya tidak boleh asal-asalan. Yoga membagikan formula penting mengenai bagaimana kualitas visual dapat memengaruhi psikologi konsumen untuk berkunjung.

"Ketika ingin membuat konten produk, gunakan warna yang konsisten karena hal itu merupakan bagian dari branding usaha kita. Selain itu, visual harus terlihat terang dan jernih, jangan sampai menggunakan frame yang berkualitas buruk. Kualitas visual ini sangat memengaruhi komunikasi kita dengan audiens dan menentukan apakah mereka tertarik untuk berkunjung kembali ke platform kita atau tidak," jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya 3 detik pertama dalam sebuah video. Detik-detik awal inilah yang menentukan apakah audiens akan bertahan menonton atau memilih untuk mengabaikannya.

"Perhatian audiens harus direbut dalam tiga detik pertama. Formula ini yang membuat pelanggan langsung memahami konteks konten kita secara cepat dalam platform tersebut. Buatlah promosi, rasa, atau spesifikasi produk menonjol di tiga detik pertama video," ungkapany.

Yoga juga merinci formula isi konten yang ideal, yaitu gabungan antara edukasi, hiburan, promo, dan upaya membangun kepercayaan. Agar proses produksi efisien, ia menyarankan metode baking content atau memproduksi stok konten dalam jumlah banyak sekaligus.

"Formula konten yang baik adalah mengombinasikan edukasi, sedikit hiburan untuk meningkatkan interaksi, selingan promo, serta upaya membangun kepercayaan bahwa produk kita memang layak dibeli. Dalam produksinya, kita bisa menerapkan metode baking content. Jadi, saat melakukan syuting, kita tidak hanya membuat untuk satu kali tayang, melainkan langsung memproduksi beberapa potongan video sekaligus untuk dijadikan konten berseri (series)," terangnya.

Namun, Yoga mengingatkan bahwa tujuan utama pembuatan konten bukanlah sekadar mengejar keviralannya. Konsistensi waktu dan frekuensi tayang jauh lebih berdampak pada stabilitas penjualan bisnis.

"Lebih baik fokus pada konsistensi, misalnya berkomitmen mengunggah konten setiap hari pada jam 7 malam secara terus-menerus untuk menjangkau waktu aktif audiens," jelasnya.

Modal Rp 25 Ribu, Usaha Peyek Mpok Esty Makin Maju Berkat Rumah BUMN BRIFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Rumah UMKM Naik Kelas

Sementara itu, pada kesempatan terpisah, Koordinator Rumah BUMN BRI Jajang Rohmana mengonfirmasi pemilik usaha Peyek Mpok Esty merupakan UMKM binaan Rumah BUMN BRI. Menurutnya, Rumah BUMN BRI telah menjadi Rumah bagi UMKM Naik kelas.

Hingga tahun 2026 ini, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan salah satunya Peyek Mpok Esty.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

Jajang mengungkapkan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads