Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu Rempah

Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu Rempah

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Jumat, 26 Jun 2026 23:20 WIB
Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu Rempah
Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Jakarta -

Nurhaeda (51) sebelumnya bekerja sebagai terapis spa mandiri di rumahnya yang terletak di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Namun, kini ia telah banting setir menjadi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi berbagai varian jamu rempah.

Sore itu, Kamis (26/6), Haeda tampak melangkah turun dari tangga lantai dua Rumah BUMN BRI di Jalan S. Parman, Jakarta Barat, usai mengikuti sebuah kelas pelatihan. Di tangannya, ia menenteng sebuah termos es kecil berisi jamu rempah segar, mulai dari kunyit asam, serai jahe, hingga temulawak.

Kepada detikcom, dengan ramah ia menceritakan awal mula usahanya berdiri pada tahun 2020 lalu, tepat ketika pandemi COVID-19 mulai melanda Indonesia. Siapa sangka, sebelum sukses meracik jamu rempah, ia justru lebih dulu bergelut di bidang usaha home spa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu usaha saya itu home spa milik sendiri. Biasanya, pelanggan atau calon pengantin yang selesai saya pijat dan lulur, sering saya suguhi jamu buatan saya," ujarnya saat ditemui baru-baru ini.

Namun, kebijakan pembatasan sosial di masa awal pandemi COVID-19 seketika memukul bisnis home spa miliknya hingga mengalami penurunan omzet yang drastis. Terlebih, lokasi usahanya di wilayah Kampung Rambutan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, saat itu sempat ditetapkan sebagai zona merah penyebaran virus.

ADVERTISEMENT

"Nah, karena situasi itu, para pelanggan saya dari lima RT justru 'menantang' saya untuk membuat jamu agar imun mereka terjaga dari COVID-19. Dari tantangan itulah, saya akhirnya mulai mencoba memproduksi bir pletok, kunyit asam, hingga empon-empon," jelas Haeda.

Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu RempahFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Modal Awal Rp 100 Ribu

Modal awal yang ia keluarkan untuk membuat jamu rempah itu sekitar Rp 100 ribu. Haeda gunakan untuk membeli berbagai bahan baku rempah dan botol kemasan untuk memulai produksinya. Seiring berjalannya waktu modalnya bertambah jadi Rp 300 ribu.

Produksi awalnya mencapai 50 botol berukuran 250 ml yang dijual seharga Rp 15 ribu per botol. Ia memasok jamu rempah seperti bir pletok, kunyit asam, hingga empon-empon ke tetangga selama masa pandemi berlangsung.

Uniknya, karena situsasi pembatasan sosial yang ketat ia hampir setiap hari menjajakan jamu rempahnya secara door to door. Jamu rempahnya ia letakkan di depan pintu rumah warga sekitar.

"Jadi saya taruh di atas pagar atau di depan pintu itu supaya orang bisa ambil, karena pandemi waktu zona merah, nggak boleh keluar," kenangnya.

Perlahan tapi pasti usaha jamu rempahnya kian berkembang. Ia kini memiliki berbagai varian jamu rempah, di antaranya kunyit asam, kunyit temulawak, empon-empon, beras kencur, bir pletok, wedang jahe,

"Yang paling laris itu ada kunyit asam, bir pletok, empon-empon," imbuhnya.

Berkembang Via Rumah BUMN BRI

Seiring berjalannya waktu, Haeda mulai memperluas jejaring usahanya yang bernama Jamu Haeda ini dengan mengikuti Rumah BUMN BRI. Rumah BUMN BRI sendiri merupakan wadah inkubasi UMKM yang anggotanya dibina oleh BRI agar bisa naik kelas lewat pelatihan, akses permodalan, hingga perluasan pasar.

Haeda bergabung pada tahun 2025 karena melihat prospek yang bagus dari Rumah BUMN BRI. Meski terbilang baru, Haeda mengaku banyak mendapat manfaat dari Rumah BUMN BRI yang membuat usahanya semakin berkembang.

"Usaha kita semakin terarah. Karena ada pelatihan untuk kita tahu mengenai dunia digital marketing, media sosial, konten, terus mengenai laporan keuangan juga. Dari situ kita belajar banyak hal bagaimana untuk suatu produk ini bisa dikenal sampai belajar AI juga untuk promosi," jelasnya.

Pelatihan-pelatihan tersebut diakuinya telah mengubah total pola pikirnya dalam memasarkan produk. Sebelum mengenal strategi digital yang diajarkan di Rumah BUMN BRI, Haeda mengaku pemasaran jamu rempahnya masih sangat terbatas dan bersifat konvensional.

"Sangat, sangat terasa sekali perbedaannya. Dulu biasanya saya cuma posting di status WhatsApp saja untuk marketing-nya. Sempat juga di Instagram, tapi ternyata konten saya kurang menarik. Lewat pembinaan ini, saya baru tahu kalau bahasa visual dan kemasan konten itu harus jauh lebih memikat," ungkap Haeda.

Ia menyadari bahwa cara lama yang hanya sekadar mengunggah foto produk dengan keterangan seadanya tidak lagi efektif memikat calon pembeli di era digital. Membangun branding lewat konten visual yang estetis ternyata memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap penjualan.

"Nilainya sangat berbeda. Ternyata ketika kita hanya foto gambar, ditaruh, lalu buka open PO (pre-order), itu beda sekali efeknya dengan produk yang kita buatkan strategi brand selling-nya ke konten Instagram. Dengan visual dan cara penjualan yang tepat, produk jadi semakin banyak yang melirik dan otomatis menaikkan omzet usaha saya," jelasnya.

Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu RempahFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Manfaatkan QRIS BRI

Kemudahan dalam sistem pembayaran juga menjadi pilar penting bagi pertumbuhan bisnis Jamu Haeda. Untuk memberikan pelayanan terbaik sekaligus merapikan pencatatan keuangan, Haeda kini memanfaatkan layanan QRIS BRI. Kehadiran teknologi pembayaran nontunai ini diakuinya sangat membantu kelancaran operasional harian usaha.

"Pemanfaatan QRIS BRI ini sangat membantu banget. Selain transparan, transaksi lewat QRIS juga tidak ada potongan biayanya sama sekali. Prosesnya pun cepat, jadi kalau hari ini ada transaksi, hanya dalam beberapa saat uangnya sudah langsung masuk ke rekening kita," kata Haeda menjelaskan.

Sebelum bergabung menjadi pelaku UMKM binaan, Haeda bersyukur karena dirinya memang sudah terlebih dahulu menjadi nasabah setia BRI. Menjadi nasabah merupakan salah satu prosedur administratif yang membawa berkah tersendiri, karena pintu peluang untuk berkembang terbuka semakin lebar melalui ekosistem Rumah BUMN BRI.

"Alhamdulillah, sebelum ini saya memang sudah jadi nasabah BRI. Keanggotaan ini menjadi berkah karena dari situ kita difasilitasi berbagai pelatihan gratis. Tidak hanya itu, untuk ikut event-event bazar besar pun semuanya gratis. Jadi, sebagai pelaku usaha kita harus pintar memanfaatkan kesempatan dengan memenuhi prosedur menjadi nasabah," lanjutnya.

Fasilitas bazar yang diberikan oleh Rumah BUMN BRI ini benar-benar dimanfaatkan Haeda untuk memperluas jangkauan pasar secara langsung. Produk Jamu Haeda kini tidak lagi hanya dikenal di sekitar lingkungan rumahnya, tetapi sudah merambah ke berbagai acara pameran bergengsi berskala besar.

"Saya sempat ikut bazar yang diadakan BRI waktu di GBK (Gelora Bung Karno) Jakarta, dan satu lagi waktu acara di Stadion Persita Tangerang, Kelapa Dua. Di sana suasananya ramai sekali, pengunjung antusias membeli, dan yang paling menyenangkan adalah stan bazarnya difasilitasi gratis oleh BRI," kenangnya dengan antusias.

Berbagai kemudahan teknologi, ilmu pemasaran modern, serta kesempatan pameran yang didapatkan Haeda akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis pada laporan keuangannya. Dari modal operasional harian yang tergolong kecil, Jamu Haeda kini mampu mencatatkan lonjakan pendapatan yang luar biasa berkat integrasi pasar online dan offline.

"Sekarang dari modal berjalan yang hanya sekitar Rp300 ribu, lewat penjualan online dan saluran pemasaran lainnya, kita bisa menghasilkan omzet mencapai Rp6 juta," jelasnya.

Melihat begitu banyaknya manfaat yang telah ia terima, Haeda sangat menyayangkan jika para pelaku UMKM lain melewatkan kesempatan emas untuk bergabung dan belajar bersama Rumah BUMN BRI. Baginya, seluruh program pembinaan ini adalah modal berharga yang tidak boleh disia-siakan oleh siapa pun yang ingin usahanya maju.

"Sangat disayangkan kalau kita tidak ikut pelatihannya, karena mereka mendatangkan narasumber yang bagus-bagus. Kalau kita ikut pelatihan atau seminar di luar, kita harus bayar mahal. Sedangkan di sini, semuanya free (gratis). Kita hanya tinggal datang, duduk, belajar, bahkan masih dikasih snack juga. Jadi sekarang semuanya kembali lagi ke kemauan kita saja," tuturnya.

Kisah Haeda, Eks Terapis Spa yang Jadi Penjual Jamu RempahFoto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Pendamping UMKM Naik Kelas

Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN BRI, Jajang Rohmana mengatakan Rumah BUMN BRI hadir sebagai wadah bagi para pelaku usaha lokal untuk berkembang. Pihaknya berkomitmen memberikan pembinaan secara gratis untuk membantu menemani UMKM dari awal hingga naik kelas seperti UliMus.

"Program kami bukan hanya sebatas pelatihan, tetapi ada juga program-program lain yang memfasilitasi perkembangan UMKM, salah satunya pengurusan legalitas. Karena permasalahan UMKM itu banyak dan bermacam-macam, jadi program-program di Rumah BUMN dirancang untuk melengkapi semua kebutuhan tersebut," jelasnya.

Jajang mengungkapkan UMKM saat pertama kali bergabung Rumah BUMN BRI akan diarahkan untuk mengisi scoring di Link UMKM. Hasilnya akan menjadi semacam rapor awal berbentuk sertifikat yang memetakan 3 aspek terunggul dan 3 aspek terendah dari usaha tersebut.

"Kami akan mengarahkan mereka untuk fokus mengikuti pelatihan pada 3 aspek terendah tersebut. Setelah itu, kami menyiapkan program pelatihan dengan mengundang narasumber yang ahli expert di bidangnya," terangnya.

Hingga tahun 2026, Rumah BUMN BRI di bawah naungan BRI KC S Parman telah menaungi sekitar 11.000 UMKM. Dari jumlah tersebut, tercatat ada sekitar 6.000 UMKM yang aktif mengikuti berbagai program pelatihan dan pendampingan.

"Tingkatannya terdiri dari Go Modern, Go Digital, Go Online, dan Go Global. Sebenarnya, kelas Go Digital itu ditujukan untuk mendorong UMKM agar siap menguasai pasar global. Namun, karena tidak semua jenis produk bisa diekspor ke luar negeri, fokus utama kami saat ini adalah mengoptimalkan proses digitalisasi," jelasnya.

(akd/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads