Dari Limbah hingga Karbon, Inovasi Lingkungan Kini Bisa Jadi Duit

Dari Limbah hingga Karbon, Inovasi Lingkungan Kini Bisa Jadi Duit

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Kamis, 24 Sep 2026 09:53 WIB
Sucofindo
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Urusan lingkungan kini tak hanya soal memenuhi aturan. Perusahaan didorong mengembangkan inovasi yang bisa mengurangi dampak lingkungan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar Beyond Compliance: Innovation for Sustainable Business and Resilient Community yang digelar PT SUCOFINDO (PERSERO) di Nusa Dua, Bali, sebagai bagian dari rangkaian Road to Environmental and Social Innovation Award (ENSIA) 2026.

Direktur Utama PT SUCOFINDO (PERSERO) Sandry Pasambuna mengatakan kepatuhan terhadap aturan merupakan titik awal. Menurutnya, aspek lingkungan dan sosial perlu masuk ke dalam strategi bisnis agar dapat menciptakan nilai dalam jangka panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kinerja lingkungan dan sosial semestinya ditempatkan sebagai bagian dari strategi untuk membangun ketahanan dan menciptakan nilai jangka panjang. Compliance adalah titik awal, inovasi adalah langkah berikutnya, dan keberlanjutan adalah tujuan yang ingin kita capai bersama," ujarnya.

Salah satu pembahasan dalam seminar tersebut adalah perkembangan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER). Narasumber dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Edward Nixon Pakpahan, memaparkan implementasi Permen LH/BPLH Nomor 7 Tahun 2025 yang membawa sejumlah perubahan dalam kriteria penilaian PROPER.

ADVERTISEMENT

Menurut Edward, PROPER kini mencakup aspek yang lebih luas, mulai dari eco-innovation, inovasi sosial, nilai ekonomi karbon, green leadership, hingga keterkaitan kinerja lingkungan dengan pelaporan keberlanjutan perusahaan.

"PROPER terus berkembang sebagai instrumen yang mendorong transformasi kinerja lingkungan perusahaan. Melalui pembaruan kriteria yang lebih komprehensif, kami berharap dunia usaha dapat semakin inovatif dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan. PROPER bukan hanya alat evaluasi kepatuhan, tetapi juga sarana untuk membangun daya saing dan nilai tambah melalui praktik bisnis yang berkelanjutan," tuturnya.

Edward juga menyoroti integrasi PROPER dengan penerapan ESG dan kewajiban pelaporan keberlanjutan bagi perusahaan publik. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas kinerja keberlanjutan perusahaan.

Pakar Manajemen Lingkungan Sudharto P. Hadi mengatakan perusahaan perlu mengubah pendekatan dalam mengelola isu lingkungan. Perusahaan tidak cukup hanya bereaksi terhadap aturan, tetapi perlu mengambil langkah lebih proaktif, termasuk menerapkan ekonomi sirkular serta inovasi lingkungan dan sosial.

"Beyond compliance berarti perusahaan tidak berhenti pada pemenuhan regulasi. Perusahaan perlu menciptakan inovasi yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial dan lingkungan. Inilah esensi bisnis berkelanjutan yang akan menjadi fondasi daya saing perusahaan di masa depan," jelasnya.

Selain lingkungan, inovasi sosial juga menjadi bagian dari pembahasan. Project Manager Konsultansi PROPER PT SUCOFINDO (PERSERO) Retno Suryani membahas penerapan inovasi sosial dalam PROPER, termasuk program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) untuk pemberdayaan kelompok rentan.

Menurut Retno, program sosial perusahaan perlu menjawab kebutuhan masyarakat dan menghasilkan perubahan yang dapat diukur. Keberlanjutan program juga perlu didukung penguatan kemampuan serta modal sosial dan ekonomi masyarakat.

"Inovasi sosial tidak lagi cukup dipandang sebagai program pendamping. Saat ini, inovasi sosial menjadi instrumen penting untuk menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan. Ketika perusahaan mampu mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan kebutuhan kelompok rentan, maka manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga memperkuat keberlanjutan bisnis perusahaan," paparnya.

Sementara itu, Head of the GHG Validation and Verification Operations Subdivision PT SUCOFINDO Fajar Firstya Adam membahas Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Menurutnya, mekanisme karbon dapat memberikan insentif bagi perusahaan untuk menurunkan emisi sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan teknologi rendah emisi.

"NEK memberikan peluang bagi perusahaan untuk mengubah kinerja lingkungan menjadi nilai ekonomi. Dengan mekanisme yang kredibel dan berintegritas, dunia usaha dapat mempercepat upaya dekarbonisasi, memperkuat implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG), sekaligus meningkatkan daya saing pada era ekonomi rendah karbon," tutupnya.

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads