Sekedar kilas balik, dalam pembacaan eksepsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta 5 September 2009, Anthony menuding motif Anwar melaporkan temuan aliran dana BI sebesar Rp 31,5 miliar ke KPK karena dendam pada DPR. Karena pada pemilihan Gubernur BI tahun 2003, DPR lebih memilih Burhanuddin Abdullah daripada Anwar.
Namun menurut Anwar pembicaraannya yang direkam secara diam-diam oleh Anthony sengaja dipotong-potong untuk mencari-cari kesalahannya berkaitan dengan kasus BI. Padahal pertemuan dengan Anthony dan sejumlah orang pada November 2006 di ruang kerjanya di BPK dilakukan secara berseloroh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu dia datang ke kantor saya untuk mengadu kepada saya mengatakan bahwa Burhanuddin Abdullah ingkar janji ke mereka. Karena mereka minta supaya pak Burhanuddin membayar semua uang itu, ternyata pak Burhan tidak mau bayar, bukan urusan saya kan. bagaimana saya tahu di antara mereka seperti apa, maka keluarlah berseloroh, itu biasa saja. Biasa-biasa saja berseloroh. Ah matilah kau, itu bukan hanya orang Medan, orang Jawa pun begitu, Ya Gusti mampus aku. Jadi biasa saja itu, tidak ada yang aneh-aneh," lanjut Anwar.
Hal itu diungkapkan Anwar usai pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa di Kantor Pusat BPK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis malam (18/9/2008).
"Rekaman itu barangkali sudah dipotong, sudah diedit itu. Di situ kelihatan manusia itu tidak punya moral. Makanya itu yang tidak pernah kalian tanya. Jadi Anda membenarkan orang yang tidak punya moral," katanya.
Anwar juga membantah tuduhan kepada dirinya bahwa dia telah memerintahkan anak buahnya untuk menghancurkan dokumen berkaitan dengan kasus aliran dana BI ke DPR.
"Begini, kita minta kepada Anda coba dengarkanlah, katakanlah pernyataan dari si Oey (Oey Hoe Tiong) bahwa saya memerintahkan untuk menghancurkan dokumen. Kau harus tanya dokumen yang mana yang disuruh Anwar Nasution untuk dihancurkan? Itu yang nggak pernah Anda tanya," katanya.
Anwar mengakui dirinya tidak pernah sama sekali memerintahkan untuk menghancurkan dokumen-dokumen tersebut.
"Enggak pernah saya (memerintahkan), apalagi dihancurkan. Anak buah saya sudah punya kok semua. Jadi yang mana yang harus dihancurkan. Jangan Anda menelan pernyataan orang-orang yang sudah tersudut bulat-bulat. Dan kalau memang saya jahat, mengapa bukan auditor ini yang saya pindahkan ke Papua. Saya punya kuasa kok, atau saya mempengaruhi opini pemeriksaan mereka. Aku ketua kok disini," paparnya.
(dnl/ir)











































