Penegasan itu disampikan Aburizal dalam wawancara khususnya dengan majalah Forbes pada Jumat (14/11/2008), atau sehari sebelum ulang tahunnya ke-62.
"Saya tidak pernah berselisih dengan Sri Mulyani. Kami berdua ada di kabinet, dan kabinet ini sangat kuat di bawah kepemimpinan presiden. Dia (Sri Mulyani) telah melakukan pekerjaan yang hebat. Kabinet ini bersatu, tidak ada perpecahan di kabinet," tegasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya? Tidak pernah. Tak pernah. Saya bukan lagi seorang pebisnis. Saya tahu apa yang (keluarga saya) lakukan, namun saya bukan lagi seorang pebisnis," tambahnya lagi.
"Saya pergi ke kantor perusahaan untuk berdoa, iya. Dan jika pada suatu petang saudara saya ingin memberikan laporan, oke, kita akan mendiskusikannya. Tapi itu saja," tambahnya lagi.
Saat ditanya apakah grup Bakrie adalah sebuah contoh dari apa yang disebut sebagai best practices soal transparansi dan tata kelola yang baik di Indonesia, Aburizal justru bertanya balik.
"Apa yang Anda maksud dengan transparansi ketika Anda membicarakan dengan Goldman Sachs? Ketika Anda membicarakan tentang Lehman Brothers? Citibank? General Motors? Transparansi apa yang ingin Anda lihat?" tegas Aburizal.
"Saya kira kita lebih transparan ketimbang semua nama yang saya sebutkan tadi. Fannie Mae, Freddie Mac, sebut saja! Transparansi apa itu?" tambahnya lagi.
"Ketika Anda bicara tentang tata kelola, Apakah Anda berpikir perusahaan yang bangkrut harus membayar CEO-nya ratusan juta dolar? Lihat apa yang terjadi dengan AIG. Apakah itu tata kelola yang kita ingin bicarakan? Kita lebih transparan dan kita memiliki governance," bela Aburizal.
"Kehidupan sangat keras saat ini bagi siapapun," pungkas pria yang biasa disapa Ical ini. (qom/ir)











































