Direktur Utama PT Pertamina (persero) Ari Soemarno dalam acara konferensi pers di Gedung Pertamina, Selasa (31/12/2008), mengakui kalau dirinya sempat merasa heran, banyak masyarakat yang berekonomi mampu justru masih membeli tabung elpiji 3 kg yang justru masih disubsidi.
Â
"Saya sempat melihat di Jalan Teuku Umar dan Moch Yamin, di kawasan elit Menteng ada tukang asongan penjual elpiji 3 kg. Saya tanya ada yang beli? Ada pak yang beli," ujar Ari menirukan tukang elpji 3 kg yang dihampirinya sambil tergeleng-geleng.Â
Menurut Ari, masih banyaknya elpiji 3 kg yang dibeli oleh kalangan yang mampu menandakan permintaan elpiji mungil ini sangat luar biasa menyusul sudah berlangsungnya program ini selama 1,5 tahun. Hal ini tentunya sangat terkait kesadaran masyarakat.
Â
Selama kurun waktu itu juga, menurut Ari, banyak masalah yang dihadapi termasuk kontroversi program konversi dan ketidaksempurnaan yang masih dihadapi. Diantaranya kelangkaan yang masih berlangsung, jumlah pengadaan tabung yang sulit tercapai dan lain-lain.
Â
"Karena memang ada demand-nya, kontoversial ini yang saya maksud," katanya.
Â
Namun diakuinya dari masalah-masalah yang ada tentunya tidak semua berasal dari kepentingan Pertamina namun banyak juga permasalahan yang berada diluar kewenangan Pertamina. Ia mencontohkan misalnya soal perizinan pembangunan SPBE yang kerap kali harus tertahan di pemerintah daerah.
Â
"Setidaknya untuk izin itu di pemda ada 20 tahap, untuk itu kita minta kerjasamanya pemda," serunya.
(hen/lih)











































