Kepiawaiannya menangani berbagai krisis seputar perbankan membuat ia ditunjuk sebagai orang yang dipercaya bisa mengatasi masalah Century oleh Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).
"Beberapa orang sering menyebut saya dengan sebutan bapak bencana alam dan krisis," ujar Maryono dalam bincang-bincang dengan detikFinance di kantor pusat Bank Century, Jl Asia Afrika, Jakarta, Kamis (29/1/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karir pertama saya di dunia perbankan adalah di Bank Bapindo sekitar tahun 1982," ujarnya.
Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro tahun 1981 ini kemudian diangkat sebagai Kepala Cabang Bapindo cabang Pontianak pada tahun 1997. Ketika bekerja di Bapindo inilah ia mengalami krisis perbankan pertamanya.
"Jadi waktu itu ada kasus golden key Edi Tansil. Waktu itu saya yang pegang perkreditan. Jadi saya ikut membantu mengatasi masalah itu, terutama untuk menekan angka NPL (net performing loan) dan mengembalikan kepercayaan diri baik tim dalam Bapindo maupun publik," ulas Maryono.
Kemudian, ia melanjutkan, krisis ekonomi tahun 1997 mendorong terjadinya merger 4 bank menjadi bank Mandiri. Bapindo sebagai salah satu bank tersebut akhirnya dilebur dalam bank Mandiri.
"Setelah merger, saya menjabat sebagai Kepala Wilayah IX Bank Mandiri di Banjarmasin. Ketika itu, masalah yang saya tangani adalah bagaimana mempersatukan kinerja 4 bank yang memiliki track record yang panjanng dan berbeda-beda ke dalam satu bank. Itu pekerjaan yang sulit dilakukan," papar Maryono.
"Ketika itu, strategi membangun bisnis bank Mandiri, khususnya di wilayah yang saya tangani, menjadi tanggung jawab saya bersama tim. Dengan usaha dan kerja keras tim kami dapat menangani masalah tersebut," imbuh Maryono.
Krisis besar terakhir yang ditangani Maryono adalah masalah pergantian Direktur Utama Bank Mandiri tahun 2004. Menurut Maryono, masalah tersebut menyebabkan keguncangan hebat dalam tubuh bank Mandiri.
"Tugas saya waktu itu adalah bagaimana tetap mengkoordinir dan mempertahankan kesatuan 450 cabang bank Mandiri. Apalagi ketika itu, media begitu menyorot masalah ini, sehingga cukup sulit melakukan koordinasi dalam kondisi seperti itu," ujar Maryono.
Namun sekali lagi Maryono berhasil melaksanakan tugasnya. Berkat pengalamannya itu, setiap ada masalah yang cukup pelik dan membutuhkan penanganan cepat, Maryono selalu ditunjuk sebagai orang yang dipercaya bisa mengatasinya.
"Ketika terjadi Tsunami Aceh misalnya, waktu itu komunikasi terputus sama sekali. Saya ditugaskan terjun langsung ke lokasi bencana. Berbekal pengalaman sebelumnya, saya langsung melakukan koordinasi cepat dengan kondisi yang ada. Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Kantor cabang Bank Mandiri menjadi yang pertamma kali beroperasi di Aceh pasca Tsunami," kenang Maryono.
Bencana alam gempa dan Tsunami di Yogyakarta juga menjadi salah satu prestasi yang berhasil diatasi oleh Maryono. "Hampir mirip dengan kondisi di Aceh. Saya juga ditunjuk mengatasi masalah di Yogya. Namun berkat kerjasama tim, Bank Mandiri sukses menjadi bank yang pertama kali beroperasi pasca gempa Yogya," ujar Maryono.
Menurut Maryono, boleh jadi karena alasan itulah beberapa rekannya menyebutnya sebagai bapak bencana alam dan krisis. Kini, ia pun ditunjuk mengatasi masalah bank Century. Meski ia mengaku masalah Century cukup kompleks dan berbeda dengan masalah yang pernah ditanganinya, ia optimistis dapat memperbaiki kinerja bank Century.
"Yah, semoga dengan kerjasama tim dan semua yang terkait, Bank Century akan berangsur-angsur membaik," ujarnya optimistis. (dro/ir)











































