Fahmi Idris Sedih Jadi Menteri Paling Gemuk

Fahmi Idris Sedih Jadi Menteri Paling Gemuk

- detikFinance
Rabu, 18 Feb 2009 12:55 WIB
Fahmi Idris Sedih Jadi Menteri Paling Gemuk
Jakarta - Entah apa yang terjadi dengan Menteri Perindustrian Fahmi Idris Saat memberikan wejangan kepada seluruh pegawai Dinas Perindustrian se-Indonesia dalam acara rapat kerja Departemen Perindustrian hari ini.

Sepanjang satu jam pemaparannya mengenai upaya peningkatan ketahanan industri nasional pada masa krisis global, tak jarang ia selalu menyelipkan masalah postur tubuhnya.

Seperti diketahui, Fahmi memang tergolong menteri dengan postur tubuh paling besar. Fahmi pun tak malu-malu banyak curhat soal kegemukannya ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya sampaikan ke Pak Presiden, saya sedih pada waktu reshuffle Menteri BUMN. Pak Sugiarto (mantan Menteri Negara BUMN) waktu itu yang tergemuk di kabinet, kalau sekarang saya," ucap Fahmi disambut tawa para hadirin.

Curhatan Fahmi ternyata tidak sampai di situ. Ia kembali bercerita saat sedang berkunjung ke pameran dan menjajal sebuah rompi berbahan kulit.

Awalnya ia tak percaya bahwa rompi tersebut bisa muat di tubuhnya. Tapi kemudian ia sendiri kaget karena ternyata rompi tersebut masih muat dikenakannya.

"Orang yang kayak saya ada tapi nggak banyak," serunya saat memberi imbauan untuk tetap memperhatikan kebutuhan konsumen dalam memproduksi produk.

Selain itu Fahmi juga sempat bercerita soal dirinya yang dibuat senang terhadap pemaparan kawannya yang merupakan seorang ketua asosiasi permebelan. Kawannya itu sangat optimistis produk permebelan masih akan tetap eksis menembus pasar ekspor meskipun dihadapi ancaman krisis.

Maklum sebagai Menteri Perindustrian, ia selama ini dibuat ketar-ketir karena ancaman penurunan ekspor yang berimbas pada anjloknya kinerja industri manufaktur dipastikan akan terjadi pada tahun ini.

"Saya merasa langsing mendengar saudara Ambar Tjahyono (Ketua Umum Asmindo) yang tetap optimis. Tenang Pak, kita bisa masuk sini (ekspor), masuk situ, saya harap sih Ambar benar," ucapnya menirukan yang kembali disambut riuh para hadirin.

Dalam pemaparannya, Fahmi mengatakan bahwa krisis global saat ini akan berdampak bagi sektor industri dalam negeri terutama untuk sektor TPT, produk karet, pulp, minyak sawit, produk logam dan lain.

Bahkan lebih jauh lagi, ia menambahkan ancaman produk asing yang agresif menyerbu ke pasar Indonesia akibat krisis akan terjadi, terutama dari China. Untuk itu pengamanan produk dalam negeri menjadi penting diantaranya dengan upaya pengetatan impor barang tertentu.

(lih/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads