Musuh Nomor 1 Sri Mulyani

Musuh Nomor 1 Sri Mulyani

- detikFinance
Rabu, 22 Apr 2009 12:50 WIB
Musuh Nomor 1 Sri Mulyani
Jakarta - Menko Perekonomian yang juga menteri keuangan Sri Mulyani punya musuh besar. Siapapun dilarang berurusan dengan musuh besar itu kalau tidak mau dimusuhi juga oleh salah satu wanita paling berpengaruh di dunia itu.

Apa sebenarnya musuh besar Sri Mulyani? Tak lain dan tak bukan adalah amplop sogokan. Mantan Direktur IMF itu sudah sejak lama mencoba memerangi 'amplop' yang dulu kerap kali beredar di instansinya.

Sri Mulyani menegaskan, dalam proses persetujuan atau pencairan anggaran, budaya 'amplop' agar prosesnya disetujui, harus dihilangkan. Jangan ada oknum departemen atau instansi pemerintahan lain yang melakukan budaya tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau anda-anda masih meninggalkan amplop maka anda menjadi musuh nomor satu saya," tegasnya.

Ia menyampaikan hal ituย  acara seminar perancanangan RKP (Rancangan Kerja Pemerintah) 2010 yang bertemakan "Pemulihan Perekonomian Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat" yang dihadiri jajaran berbagai departemen pemerintahan, di Kantor Bappenas, Menteng, Jakarta, Rabu (22/4/2009)..

Ia pun menantang para peserta seminar yang dihadiri kalangan pemerintahan untuk mengadukan langsung jika ada oknum dari Departemen Keuangan yang masih melakukan budaya 'amplop' atau sogok-menyogok tersebut.

"Saya tantang anda, kalau ada yang melakukan kebiasaan tersebut, sebutkan siapa namanya, dan saya akan do something," ujarnya.

Dikatakannya, budaya korupsi harus dihapuskan sehingga negara ini bisa terbangun dengan baik.

"Kalau anda ingin membangun negeri ini, maka anda harus menghilangkan kebiasaan itu, karena dengan uang-uang itu anda dicibir di mata masyarakat ," katanya.

Selanjutnya Sri Mulyani meminta agar seluruh jajaran karyawan di Departemen Keuangan harus bersih dari tindakan korupsi yaitu sogok-menyogok khususnya pada direktorat jenderal yang berhubungan dengan anggaran.

"Saya minta agar seluruh jajaran saya di Departemen Keuangan bersih khususnya seperti untuk Direktorat Jenderal Anggaran ataupun perbendaharaan," pungkasnya.



(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads