Tentu saja dari para pelaku industri energi. Guyonan itu disampaikan Purnomo dalam Seminar 'Mampukah Sektor Migas Derkontribusi Menuju Kemandirian Energi Nasional' di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Kamis (23/4/2009).
"Tadi panitia meminta saya untuk menjawab tiga-empat pertanyaan, oke akan saya jawab. Tapi mohon maaf setelah saya menjawab saya langsung meninggalkan acara ini," ucap Purnomo mengawali pidatonya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ada kegiatan lain tapi bukan untuk ikut kampanye Presiden. Meskipun kalau saya ajukan diri menjadi Presiden pasti IATMIΒ (Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia) akan mendukung," ungkapnya disambut tawa para hadirin.
Setelah itu, Purnomo memaparkanΒ materi-materi terkait dengan tema acara yaitu mengenai kemandirian energi. Menurut Purnomo, kemandirian energi terdiri dari aksesbilitas, daya beli dan ketersediaan energi.
"Aksebilitas merupakan kemampuan untuk mendapatkan terhadap energi. Daya beli yaitu kemampuan untuk membeli energi dengan harga keekonomian dan ketersediaan kemampuan untuk memberikan jaminan pasokan energi."
Tidak hanya itu saja, Purnomopun membandingkan kemandirian energi di Indonesia dengan Arab Saudi dan Jepang. Saat Purnomo sedang asyik membandingkan kemandirian energi di tiga negara tersebut, tiba-tiba ada 'sabotase' dari ruangan lain. Soundsystem di ruangan sebelah bocor sehingga terdengar ke ruangan dimana Purnomo sedang berbicara. Purnomo pun menghentikan pembicaraannya.
"Baru mau jadi Presiden sudah disabotase, " celetuk salah seorang undangan.
(epi/qom)











































