Perihal tipu-tipu itu diungkapkan Menakertrans Erman Soeparno saat membuka sambutan acara MoU Bank Mandiri dengan Depnakertrans di Jakarta, Jumat (24/4/2009).
Erman mengawali ceritanya dengan telepon genggam miliknya yang selalu standby, 24 jam sehari. Hal itu merupakan salah satu kewajiban menteri karena presiden pun bisa memanggil setiap saat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan pada satu ketika pada pagi buta pukul 03.00 dini hari, telepon genggam Erman berbunyi. Tak lain dan tak bukan berasal dari koleganya mantan Menteri Hukum dan Ham Hamid Awaluddin yang baru tiba di bandara Soekarno Hatta, setelah dari negara Rusia selaku Dubes Besar disana.
Hamid ternyata sedang menjadi incaran korban penipuan dari money changer di bandara Soekarno Hatta. Saat menelpon Erman, Hamid mengaku sedang dirayu-rayu petugas penukaran uang itu.
"Waduh saya ini dikira TKI, saya diseret-seret oleh petugas money changer suruh tukar uang," ujar Erman menirukan Hamid.
Lebih lanjut Erman mengaaku dirinya tidak memungkiri saat masih saja ada perusahaan-perusahaan money changer nakal yang berada di Bandara termasuk Bandara Soekarno Hatta.
Dalam kasus Hamid, ia mengaku sang mantan menteri itu mau dicoba dikadali oleh pegawai money changer nakal dengan menawarkan nilai tukar dibawah harga pasar.
"Pada waktu itu, nilai tukar itu Rp 9000 per dollar, ingin ditukar Rp 5000 per
dollar," katanya.
Maklum, karena mantan menteri itu dianggap TKI, maka si petugas penukaran uang itu
menganggap sosok Hamid sebagai orang yang awam yang bisa dikibuli. Walhasil, dalam
tempo singkat perusahaan money changer itu ditindak dan ditutup izinnya.
"Oke bapak jangan pergi, PT-nya mana, dicatat," tegas Erman langsung mengerahkan
anak buahnya untuk menindak Money Changer nakal.
Usulkan Ganti Kata TKI Jadi TKLN
Dalam kesempatan tersebut, Erman juga mengajukan usulan agar penggunaan kata TKI yang selama ini sudah banyak dikenal masyarakat bisa diganti dengan kata TKLN (Tenaga kerja Luar
Negeri).
"Dalam rangka perhatian terhadap TKI kita di luar negeri, bahwa TKI, itu saya usulkan diganti saja jadi TKLN, supaya mentereng," serunya tertawa.
Alasan perubahan itu, menurutnya tidak terlepas dari persepsi yang sudah melekat pada TKI yang identik dengan pekerja luar negeri yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
"Padahal ada yang jadi pilot, GM, kerja di perhotelan, maneger, di perminyakan dan lain-lain," paparnya dengan bangga.
(hen/qom)











































