Kekhawatiran Anwar seputar maraknya barang selundupan seiring krisis global kini terbukti sudah. Dalam beberapa bulan terakhir Ditjen Bea CUkai harus mengerahkan semua tenaga untuk menghadang serbuan barang impor terutama penyelundupan.
Ia mengatakan selama krisis global kekuatan serbuan barang impor dan selundupan semakin kuat. Ia memperkirakan serbuanya kekuatannya bisa mencapai dua kali lipat.
"Mereka ada upaya untuk melakukan itu, bisa dua kali lipat serbuannya. Ya kita kuat-kuatan lah," ucap Anwar disela-sela pemaparan hasil tangkapan Bea Cukai Tanjung Priok, Kamis (2/7/2009).
Namun kata dia, hasil keringat Bea Cukai dalam menyiduk para pelanggar kepabeanan sering kali berakhir tidak menyenangkan. Maklum tak jarang hasil tangkapan anak buahnya di lapangan harus divonis ringan atau bahkan bebas begitu saja di meja hijau.
"Kita tidak puas, kan kita sudah jungkir balik, prosesnya itu kan susah," tegasnya.
Anwar dengan tegas mengatakan, secara prinsip Bea Cukai telah berupaya maksimal untuk menangkap para pelanggar kepabeanan. Namun putusan akhir dari proses hukum adalah di pengadilan.
"Kalau kita sudah jungkir balik, sedih juga," ujarnya.
Ditempat yang sama Kepala Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok Rahmat Subagyo mengatakan bahwa, ia tidak mau melihat masalah ini sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan. Menurutnya pihaknya hanya berupaya bertugas secara maksimal dalam tugas kepabeanan.
"Yang penting tugas kita sudah selesai sudah di putus P 21, setelah itu terserah pengadilan lah yang menilai," kilah Rahmat.
(hen/qom)










































