"Pada dasarnya sama saja, kita bekerja menggunakan data," ujar Darmin kepada wartawan usai mengadakan acara pertemuan dengan pimpinan-pimpinan media di Gedung BI, Jakarta, Jumat (28/08/2009).
Darmin mengatakan, meski mirip tetap ada perbedaannya walau hanya sedikit. Menurut penilainnya, bekerja sebagai Dirjen Pajak tekanannya banyak sekali karena banyak target yang harus dipenuhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara di bank sentral, menurutnya banyak tantangan dan hal baru yang harus dihadapi. Pengawasan perbankan pun dilakukan setiap hari, berbeda dengan pengawasan pajak yang tinggal melihat target bulanan.
"Ngurus pajak itu, bulanan dan tahunan saja. Kalau bank pengawasannya kan harian," tutur Mantan Dirjen Pajak sekaligus bekas komisaris salah satu bank BUMN itu.
Salah satu yang menjadi tantangan Darmin di awal karirnya sebagai Deputi Gubernur Senior BI adalah ketika memprakarsai pertemuan dengan 14 bank besar terkait penurunan suku bunga yang di fasilitatori oleh BI.
Darmin mengatakan, tidaklah mudah bisa menyiasati kesepakatan tersebut. "Mulainya ngobrol dulu kesana-kesini, samapi akhirnya ide muncul dan ternyata bisa diterima dan disepakati," jelasnya.
Ia mengatakan bahwa kesepakatan tersebut juga dinilai berbeda dengan kesepakatan-kesepakatan sebelumnya yang pernah dilakukan BI.
"Berbeda karena ada follow-up langsung dari BI jika kesepakatan dilanggar. Soalnya kita akan awasi terus, jika ada yang melanggar maka akan langsung dipanggil atau melalui surat," tegas Darmin.
Lebih lanjut Darmin mengatakan, selaku regulator, pihaknya akan senantiasa melakukan pengawasan secara insentif agar semua berjalan dengan tertib dan teratur.
"Seperti di Ditjen Pajak, monitoring terus dilakukan namun kali ini terhadap perbankan," pungkasnya.
(dru/ang)











































