"Kita akan segera melakukan otopsi dan mencari tahu penyebab kematiannya," ujar juru bicara kepolisian metropolitan Tokyo seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/10/2009).
Nakagawa, 56 tahun, ditemukan meninggal dalam keadaan tertelungkup di tempat tidurnya di distrik Setagaya oleh istrinya pada Minggu pagi. Namun koran-koran Jepang menuliskan tidak ada tanda-tanda bunuh diri yang ditemukan saat Nakagawa meninggal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nakagawa merupakan teman dekat dari Perdana Menteri Jepang Taro Aso. Ia pun mengungkapkan menyatakan rasa penyesalannya yang mendalam.
"Saya terlalu terkejut untuk berpikir kata-kata untuk mengungkapkannya," ujar PM Aso seperti dilansir stasiun televisi NHK.
Nakagawa mengumumkan rencana pengunduran dirinya pada Februari 2009,Β setelah ia terlihat mabuk saat menggelar konferensi pers usai pertemuan G7 di Roma, Italia.
Nakagawa terlihat seperti orang mabuk saat menggelar jumpa pers. Dalam video yang tersebar luas, terlihat beberapa kali Nakagawa seperti tertidur dan berbicara tidak fokus.
Namun sehari sebelum mengumumkan pengunduran diri, Nakagawa membantah dirinya mabuk saat menggelar jumpa pers di G7. Nakagawa membantah dirinya meminum terlalu banyak anggur sebelum menggelar jumpa pers.
Ia menegaskan, perilakunya saat jumpa pers tersebut terutama diakibatkan oleh obat flu yang diminumnya dan dia berjanji akan memberikan resep dari dokter berkaitan dengan obat yang diminumnya saat perjalanan.
Nakagawa merupakan lulusan universitas bergengsi Jepang, University of Tokyo. Ia bergabung dengan Industrial Bank of Japan pada tahun 1978 dan menghabiskan karirnya di bank tersebut selama 5 tahun.
Karir politiknya bermula dari tragedi. Nakagawa pertama kali terpilih sebagai anggota dewan majelis rendah pada tahun 1983, mengambil alih posisi ayahnya Ichiro Nakagawa yang tewas bunuh diri. Ichiro Nakagawa ditemukan tewas setelah menelan sejumlah pil di dalam kamar hotel, usai kekalahannya bertarung menjadi perdana menteri.
(qom/qom)











































