Puisi tersebut adalah buah karya ekonom Faisal Basri. Orang dekat Boediono tersebut membuat sajak berjudul "Keniscayaan Perubahan".
Gemuruh semakin menggelegar, derap perubahan menghentak-hentak.
Sumbat-sumbat telah terpental, pekik perlawanan tak terbendungkan.
Itulah pertanda era baru akan membentang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan karangan saya, karangan seseorang. Karangan Faisal Basri," ujar Boediono di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (07/10/2009).
Pria kelahiran Blitar itu mengaku sudah menganggap Faisal Basri sebagai adik. Ia pun memuji-muji buku yang ditulis anggota tim suksesnya itu. Menurutnya, buku yang ditulis oleh Faisal dapat berfungsi sebagai referensi untuk mendalami perkembangan ekonomi Indonesia.
"Mungkin setelah membaca tidak semua idenya kita bisa terima, dan krisis ini merupakan suatu pelajaran tapi secara utuh bisa mendekatkan kita secara baik dalam menghadapi krisis lebih baik, dengan kerja bangsa kita sendiri bukan bantuan dari orang lain," tandasnya.
(dru/qom)











































