Bahkan ia tidak tahu menahu soal rencana pergantian jenis Toyota Camry seharga Rp 350 juta yang selama ini sudah menjadi tunggangan para menteri terdahulu, dengan Toyota Crown seharga Rp 1,8 miliar.
"Baru tahu saya, memang ada seperti?," katanya balik bertanya saat ditemui di kantornya Jl Gatot Soebroto Jakarta, Senin malam (26/10/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu (P3DN) masuk dalam program 100 hari yang akan kita lakukan," katanya saat menjawab komitmennya dalam program P3DN.
Namun saat ditanya konsistensi program P3DN dalam masalah rencana pergantian mobil dinas para menteri yang merupakan murni barang impor, Hidayat mengelak. Ia juga mengatakan sampai saat ini departemen perindustrian belum ada usulan untuk masalah tersebut.
"Belum ada usulan, saya belum tahu," katanya singkat.
Meskipun begitu, jika memang rencana itu benar, Hidayat mengatakan akan lebih memilih memakai mobil yang ia miliki sendiri, dengan tidak menjelaskan alasannya.
"Kalau gitu saya pakai mobil saya," katanya sambil berseloroh.
Seperti diketahui pendahulu Hidayat, yaitu Fahmi Idris salah satu menteri yang lebih memilih memakai mobil pribadinya yaitu Toyota Innova. Fahmi mengklaim telah memiliki komponen kandungan lokal hingga diatas 70% lebih. Sedangkan mobil dinasnya Camry yang murni barang impor jarang sekali dipakai oleh penggemar motor gede tersebut.
Berdasarkan pemantauan detikFinance, sampai saat ini menperin MS Hidayat masih menggunakan mobil Mercy seri 350 milik pribadinya dengan nomor B 212 Q.
(hen/qom)











































